Saturday, November 28, 2015

Axel's Open Heart Surgery

Pertama datang di JHC, persiapan MRS
Jika Allah berkehendak, apapun bisa terjadi.
Hari Rabu tanggal 21 Oktober jam 13 tiba2 aku ditelpon oleh RS JHC Jakarta. Tepat mau nidurin anak2...
Di seberang, mbak Eva bagian penjadwalan operasi mengabari kalau Axel bisa operasi tgl 27 Oktober dan haru pemeriksaan awal dulu di tanggal 23 Oktober. 
Semua mengejutkan...alhamdulillah sudah ada kepastian jadwal tapi juga kaget karena 2 hari kemudian harus berangkat.

Segera cari tiket pesawat dan booking apartemen dimajukan.
Pada hari keberangkatan juga ada ujian. Ternyata aku salah terminal keberangkatan, yang mengakibatkan aku tidak boleh boarding. Pesawat seharusnya jam 9.35, alhasil ikut penerbangan selanjutnya yaitu jam 12.55 dengan membayar penalti sebesar Rp 975.000,-

Sedih dan stres karena jadwal periksa jam 16.30 dan aku bawa ASI Perah utk persediaan selama Axel terpisah dari aku. Takut banget kalau ASIPnya mencair semua.

Allah Maha Besar, meski pesawat delay 1 jam. Kami sampai Jakarta jam 15.30 dan langsung menuju apartemen untuk segera memasukkan ASIP.

Alhamdulillah semua ASIP masih beku. Jam 16.30 tepat kami sampai apartemen dan langsung masukin ASIP trus langsung pergi lagi ke RS. 

Sampai RS kami sudah ditunggu oleh dokter, untungnya nggak ditinggal pulang..
Hasil echo bagus, Axel boleh pulang dulu dan dijadwalkan seninnya yaitu tanggal 26 Oktober Axel mulai MRS.

Senin jam 8 pagi kami berangkat ke RS dan masuk ke kamar rawat inap biasa.
Selasa mulai jam 10 pagi Axel mulai puasa (6 jam sebelum operasi yg dijadwalkan jam 16) tapi ternyata operasi baru mulai jam 17. Sediih banget lihatnya karena Axel sudah terlihat lemas. Awalnya rewel minta nyusu, maka suami yang gendong terus. Jam 15 sudah mulai  lemas dan ngantuk, sudah mau aku gendong tanpa minta nyusu :(
Mungkin saking lemasnya ya...sehingga dia tidur terus di gendonganku. Akhirnya jam 17 tepat aku serahkan Axel yang masih tertidur ke gendongan perawat di kamar persiapan operasi.

Perasaanku sangat kacau, bayangkan melihat anak sendiri yang masih bayi dan dalam kondisi tertidur, kemudian kita serahkan ke tangan tim medis untuk dioperasi! Operasi besar yang sangat berisiko, even for adults! Bayangkan dada dibuka dan tulang dada dipotong. Semua bisa terjadi saat itu.

Peristiwa ini semakin memperjelas kebesaran Allah, kewenangan Allah.

Prediksi operasi selama 4-6 jam, ternyata Axel selesai dalam 3 jam, alhamdulillah! Jam 20 kami diberitahu kalau Axel sudah di ICU. Kami hanya bisa masuk ke ICU sebentar dan diberi penjelasan oleh ketua tim dokter mengenai pelaksanaan operasinya. Melihat Axel terkulai lemas dengan segala selang di hidung dan mulut, infus di kedua kaki, drain di dada, kateter urine, kabel2 indikator di tangan dan dada, ventilator di mulut dan ditutupi selimut thermoregulator. Mata Axel terbuka sedikit, tapi belum bergerak. How do you think my feeling is?

Rabu 28 Oktober 2015, jadwal besuk jam 17-18.30 terlewati karena kami tidak diperbolehkan masuk ICU karena ada pasien dewasa kritis. Sediiihh sekali rasanya...

Kamis 29 Oktober 2015, kami bisa masuk ke ICU pada jam besuk. Dan ternyata Axel sudah bisa merespon, meski belum banyak bergerak, tentu saja masih dibius karena banyaknya peralatan yang menempel di tubuh mungilnya.

Jumat 30 Oktober 2015, kami bisa masuk pada jam besuk. Axel sudah mulai bisa mengeluarkan suara. Ventilator sudah dilepas. Tapi malamnya kami diberi penjelasan dokter bahwa ada cairan di paru2nya, sehingga kami diminta persetujuan tindakan punctie jika memang diperlukan. Astaghfirullaaah....aku tahu sekali punctie sangat sakit karena mama pernah mengalaminya juga. Punctie adalah tindakan mengambil cairan di paru dengan semacam jarum besar yang disuntikkan dari luar tubuh menembus ke paru2.
Aku menandatanganinya, meski sedih sekali.


Sabtu 31 Oktober jam 03 pagi, aku mendapat telpon dari perawat ICU bahwa Axel bisa turun ke Intermediate Ward (IW)! Alhamdulillaaah...
Oh ya, sejak Axel masuk ICU, kami tidak diperbolehkan menginap di kamar rawat inap lagi. Kalau mau menginap, boleh tapi membayar dengan harga yang mahal. Jadi saya ikut numpang menginap di hotel bapak. Kebetulan bapak mendapat kamar yang ukuran suite di hotel Balairung. Jadi Ayra dan Adi juga ikut menginap di sana. Khusus Adi, setiap malam aku suruh menginap di RS :D

Hari pertama di IW, sejak morfinnya hilang, Axel reweeeell terus... Nangiiss... Tapi untungnya dokter memperbolehkan aku menyusui Axel langsung. Dengan segala macam kabel monitor, selang infus, drain dan selang NGT yang masih menempel di tubuhnya, aku berusaha menyusui, membuat Axel senyaman mungkin. Di IW, hanya ada 2 pasien. Pasien yang satunya bayi berumur 1 bulan, persiapan akan operasi. Kasihan sekali lihatnya. Memang nggak serewel Axel yang paska operasi, jadi keluarganya sering tanya Axel kok rewel terus. Sejak diperbolehkan makan di IW, Axel makan banyak sekali, bahkan jam 23 selalu terbangun karena minta makan, jam 2 pagi juga demikian. Oh ya di IW hanya bisa ditunggu 1 orang, meski keluarga pasien yang satunya bawa pasukan 3 org di bangsal.


Senin 2 November 2015 Axel diperbolehkan turun ke kelas rawat biasa. Alhamdulillah ya Allaah...
Satu persatu peralatan dilepas. Bersamaan dengan itu aku mendengar kabar kalau bayi yang bersama kami di IW, meninggal dunia sebelum sempat di operasi :( innalillahi wa innailaihi rojiun...
Rabu 4 November 2015 Axel boleh keluar dari RS. Allahuakbar...dan tindakan punctie tidak perlu dilakukan..

Jumat 6 November 2015 suami pulang ke Surabaya bersama Ayra karena Ayra sudah bosan di Jakarta. Sedangkan aku belum bisa pulang karena 1 minggu lagi Axel masih harus lepas jahitan. Sangat sedih karena ini pertama kalinya aku berpisah kota dengan Ayra, dan langsung selama 1 minggu!
Jumat malam, Axel kontrol ke dokter anak dan di-echo lagi. Alhamdulillah jantung dan paru2nya bagus.
Rabu 11 November 2015 Axel kontrol ke dokter bedah dan angkat jahitan. Alhamdulillah bagus semua.
Kamis 12 November 2015 kami pulang ke Surabaya






 





















Aku percaya semua hal di dunia itu terjadi bukan kebetulan, semua sudah diatur Allah untuk kita ambil pelajaran darinya.
Setelah mempunyai anak yg CHD, aku jadi tahu banyak jenis kelainan jantung lainnya yang jauh lebih parah. Tahu perjuangan mereka lebih berat, tahu bahwa semua hal di dunia ini hanya sementara dan hanya titipan. Dalam hitungan detik, Allah bisa mengubah segalanya. Itu yang aku lihat sendiri dari pengalaman teman2 dengan anak PJB yang lebih berat.

Saat ini Axel sudah stabil dan sehat aktif. Semua pelajaran berharga ini insyaAllah akan menjadikan aku jadi lebih baik lagi terutama untuk anak2 dan keluarga. Semoga aku bisa bermanfaat di sepanjang usiaku.

Kematian adalah hal yang pasti. Kematian tidak datang menunggu usia tua, tidak menunggu sakit, tidak menunggu kesiapan. Karena manusia tidak akan pernah siap, dan itu manusiawi.
Maka aku berupaya menjadikan setiap detik hidupku sebagai bekalku nanti.

3 peristiwa pentingku:
1. Kematian mama, melihat dengan mata kepala sendiri 4 hari terakhir di rs, melihat saat sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi utk mama. Melihat dan memegang mama utk pertama kalinya aku sadar bahwa aku selalu butuh mama.
2. Kelahiran Ayra, benar2 mengurus sendiri seorang bayi kecil karena mama sudah meninggal, mertua di luar kota, jadi benar2 sendiri from day 1. Membuatku sadar bahwa menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang besar, melihat sendiri dari tiada menjadi ada.
3. Operasi jantung Axel

Aku masih banyak sekali kekurangan, semoga Allah memberi kesempatan untuk mempersiapkan bekalku nanti dan mempersiapkan anak2ku agar jadi muslim/ah yang baik. Amiin yra..





0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review