Saturday, February 13, 2016

Serious Topic, eh? LGBT, in my opinion :)

Belakangan ini lagi marak membincangkan tentang LGBT (dan sepertinya akan terus marak).
Ada yang pro, dengan banyak alasan. Ada juga yang kontra.
Ada yang pro LGBT (baik pelaku maupun bukan pelaku) terang2an dan ada juga yang diam2. Ada yang kontra LGBT terang2an dan ada juga yang diam2.

Saya jadi "tergelitik" untuk ikut menuliskan pendapat saya. Saya bukan siapa2, saya bukan profesor di bidang politik, HAM, kesehatan atau apapun. Saya bukan policymaker, dsb. Saya tidak punya jabatan apa2. Saya juga bukan ahli agama, bahkan saya seperti baru belajar lagi, mulai nol lagi.
Saya murni menulis ini sebagai seorang muslimah (yang ilmunya masih sangat kurang) dan seorang ibu.

Saya akan mengatakan pilihan saya dengan jelas, saya tidak setuju dengan LGBT. Selama ini, saya biasa saja melihat atau mengenal pelaku LGBT, tapi itu karena mereka tidak berkoar2 mengajak orang lain untuk menerima mereka, meminta pemerintah untuk ini itu, sekaligus memasukkan dalam peraturan perundangan.
Here's why:


  1. Kebanyakan pro LGBT menyebutkan bahwa penyebab tertinggi kasus HIV bukan dari kaum LGBT. Jadi adalah salah kalau menunjuk kaum LGBT sebagai biang penyebab HIV. Meski ada beberapa data yang menunjukkan sebaliknya, yaitu kasus HIV tertinggi disebabkan perilaku LGBT. Komentar andin: Kalaupun memang penyebab HIV bukan perilaku kaum LGBT, bukan berarti LGBT diperbolehkan kan?
  2. Pro LGBT menyindir jangan menggunakan sosmed atau mengkonsumsi makanan/minuman brand tertentu karena sosmed/brand tsb buatan kaum LGBT atau minimal pendukung LGBT. Komentar Andin: sependek pemahaman saya dalam Islam, penggunaan sosmed tidak termasuk yang merusak akidah. Saya tidak pernah mengajak boikot produk tertentu. Saya menghargai penemu teknologi2 yang mempermudah kehidupan dan saya rasa Islam juga tidak mempermasalahkan itu. Tidak ada aturan di AlQuran bahwa tidak boleh menggunakan pesawat karena pembuatnya begini begitu. Tidak ada aturan tidak boleh menggunakan atau membeli barang dari penjual Yahudi selama barang tersebut tidak haram. Justru ini seharusnya menjadi lecutan bagi kaum muslim untuk bisa lebih berprestasi lg 😊
  3. Kontra LGBT sama dengan pro diskriminasi. Bahwa yang digaungkan pendukung LGBT adalah persamaan hak dalam penerimaan pelayanan kesehatan, dsb. Komentar Andin: Lho yang bilang kaum LGBT tidak boleh dapat pelayanan kesehatan siapa? Saya pun menentang hal tsb, bukan hanya untuk kaum LGBT. Semua warga negara berhak menerima hak kesehatan, pendidikan, dll. Hanya saja, mungkin, yang bikin gemas petugas kesehatan adalah sama seperti perokok aktif yang sudah diminta untuk berhenti merokok, kemudian sakit kanker paru. Repot untuk semuanya akibat perilakunya sendiri.
  4. Indonesia termasuk penerima support funding dari UN yang sejak 2011 mendukung hak LGBT dalam pemberdayaan kelompok minoritas, termasuk kelompok LGBT. Komentar Andin: mungkin saya ndeso, saya belum pernah tinggal di negara maju, dsb. Tapi pertanyaan saya, kenapa LGBT mesti dibikinkan kelompok tersendiri? Mau diberdayakan, ya monggo saja. Tidak perlu dilabeli secara legal seperti itu. Indonesia harus keluar dari UN spy dianggap konsisten? Konsekuensinya Indonesia tidak akan bisa menerima bantuan dana termasuk beasiswa pendidikan. Saya bukan ahli dalam hal ini, haruskah untuk menerima bantuan dana, berarti kita menerima semua pendapat atau kebijakan UN? Sama seperti jongos yang harus terima semua perintah dan prinsip majikannya kalau mau dapat upah? Semoga tidak sampai segitunya yaa....Tapi impian dangkal di otak bodoh saya, jikalau Indonesia bisa mengubah sistem yang ada di dunia, kenapa tidak? Ah sudahlah, menjadi pemimpin negara memang berat kok, bahkan akan dihisab lebih lama oleh Allah kelak. Saya belum sampai di level itu, sekali lagi, saya bukan siapa2 :)
  5. LGBT bukan penyakit menular, tapi adalah bawaan lahir, takdir Allah, sama seperti adanya laki-laki dan perempuan. Komentar Andin: sependek pengetahuan saya, di agama manapun tidak ada yang membolehkan umatnya masuk dalam LGBT. Saya meyakini Allah hanya menciptakan dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Kalaupun ada yang menyimpang, saya yakini itu merupakan salah satu ujian dari Allah. Pernah dengan Same-Sex Attraction? Silakan googling sendiri, saya yakin banyak sumber yang kompeten di luar sana. Dan sudah banyak (semoga semakin banyak) lembaga yang membantu saudara2 kita yang menyimpang tsb untuk kembali ke jalan yang benar.
  6. Pro LGBT sama dengan keren, open-minded, gaul, moderat, dsb. Komentar saya: kalau ada yang pro LGBT dengan alasan tsb, saya cuma bisa kasihan. Saya tidak memusuhi pelaku LGBT, silakan saja, tapi tidak muncul secara massive di publik (lihat tulisan Bondhan Wijaya di bawah). Saya hanya tidak setuju dengan perilakunya. Sama seperti seorang muslimah tidak berjilbab atau tidak sholat, saya tidak akan memusuhinya. Kalau bisa ya akan saya ajak supaya mau sholat atau berjilbab. Tapi kalau dia trus mengajak muslim lain untuk tidak sholat juga? Nah itu baru masalah!
  7. Jangan menolak LGBT-nya, tapi bekali anak2 dengan agama untuk bisa membentengi diri. Komentar Andin: Bekali agama itu kewajiban kita sebagai orang tua, ada atau nggak ada LGBT, bekal agama itu wajib. Nah trus LGBT-nya? Ya tetap wajib ditolak perilakunya doong...
Sementara ini hanya itu saja yang terpikir, akan saya tambahi begitu ada yang baru :)

Berikut akan saya copas salah satu tulisan dari Bondhan Wijaya. 


LGBT : LOGIS DAN ETIS
"Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)". (QS An-Naml : 55)
Dalam agama Islam, orientasi seksual dengan sesama jenis kelamin (gay) sudah jelas-jelas dilarang dan diharamkan. Seperti surat diatas yang lumayan spesifik. Banyak surat lain dalam Al-Quran yang melarang hubungan sesama jenis. Meski ada juga sih, blog yang mengutip ayat sepotong-sepotong kemudian membuat justifikasi kalau homoseksual tidak dilarang dalam Islam, membuat geleng-geleng kepala betapa pembenaran dicari dengan segala cara.
Dalam hal ini secara etis, artinya pembicaraan mengenai baik dan buruk. Al-Quran jelas, cetho we-lo we-lo mengatakan perilaku homoseksual adalah hal yang buruk. Saya pikir agama lain juga melarangnya, meski saya ga tau detailnya. Selain blog tadi, Prof.Dr Musdah Mulia dalam madinaonline.id mengatakan bahwa Ayat Al-Quran tidak melaknat homoseksual, tapi melaknat sodomi. Jadi homoseksual yang tidak sodomi boleh? Pasangan gay boleh saling jatuh cinta tanpa melibatkan hubungan seksual a.k.a sodomi? Hubungan cinta yang tidak diakhiri hubungan seksual?..aah come on, sudah tau sama tau lah kita. Dari semua pasangan gay maupun straight brapa persen sih yang kisah cintanya platonik begitu? Kalaupun ada itu, menurut saya ya cuma seuprit. Kalau jomblo banyak.
Tapi masalahnya, mungkin bicara mengenai homoseksual dari sudut pandang etika dan moral agama itu ga kekinian. Khususnya bagi orang yang menganggap agama itu ga penting-penting amat. Semuanya harus logis, saintifik, harus eksak. Kalau perlu kutip penelitian-penelitian psikologi mengenai orientasi seksual. Tuh, dalam DSM V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) terbitan APA (American Psychological Associations) homoseksual sudah tidak diklasifikasikan sebagai kelainan mental, bahkan sejak DSM II tahun 1973. Tuh ada lagi dalam ICD 10 (International Classification of Disease and Related Health Problems) keluaran WHO, sejak 1993 homoseksual sudah dihapus sebagai kelainan seksual.
Sebenarnya cerita mengenai dihapusnya klasifikasi homoseksual dalam DSM II ini cukup menarik. Ada peran kelompok tertentu yang cukup kuat, yaitu Association of Gay and Lesbian Psychiatrists (AGLP) di Amerika. penghapusan ini bukan karena penelitian atau apa. Tapi karena voting! Waktu penyusunan DSM II terjadi perdebatan pro-kontra antara yang menghapus dan mempertahankan. Akhirnya dilakukan voting, pemenangnya adalah para psikiater dan psikolog pro-homo dengan suara 58%. Dus klasifikasi homoseksual di del. Tapi kemudian diganti dengan diagnosis Sexual Orientation Disturbance (SOD) pada DSM II. Tapi kemudian AGLP protes kembali, akhirnya SOD diganti lagi dengan Ego-Dystonic Homosexuality (EDH) pada DSM-III. AGLP dan pendukungnya yang menguasai APA ini rupanya belum puas, hingga EDH juga dihapus pada DSM-III R (Revision Edition) hingga sekarang. Namun EDH yang dinamain Ego-Dystonic Sexual Orientation masih nongol dalam ICD-10 nya WHO pada halaman 222 dengan kode diagnosis F66.1.
Harus dicatat bahwa hingga detik ini belum ada penelitian komperhensif yang membuktikan bahwa homoseksual itu disebabkan faktor genetik. Belum ada kesimpulan yang pasti mengenai penyebab homoseksualitas secara eksak, ada faktor biologis dan faktor lingkungan yang mempengaruhi. Prof. Dadang Hawari, guru besar FKUI mengatakan “Sampai sekarang belum ada yang menyatakan karena faktor genetis, yang sudah jelas adalah faktor lingkungan” . Begitu juga seksolog Dr. Boyke Dian Nugraha yang mengatakan bahwa faktor lingkungan adalah penyebab perilaku homoseksual.
Para pendukung gerakan LGBT (Lesbian-Gay-Biseksual-Transeksual) - yang disponsori duit 108 milyar dari UNDP untuk kampanye dari tahun 2014 – 2017 dan lebih mirip orsospol dibanding LSM, ada benderanya segala- menyuarakan penghapusan diskriminasi dimana-mana. Free & Equal katanya. Jangan homophobia. Wait, homophobia? Phobia dengan orang-orang homo? Saya ga tahu siapa yang menyebarkan cap ini, tapi ini jelas menyesatkan. Istilah phobia merujuk pada gangguan kecemasan sebagai ketakutan yang terus-menerus pada suatu obyek atau situasi. Sedangkan orang-orang yang menolak LGBT sebagai sebuah gerakan dicap sebagai homophobia tidak takut terus-menerus (persistent), tapi tidak setuju secara moral dan budaya. Semoga tidak ada maksud tertentu dibalik labelling ini.
Tapi saya penasaran dong, diskriminasi apa yang ingin dihapuskan? Memangnya ada toilet khusus LGBT? Kursi bis khusus untuk LGBT? Kayak Rosa Parks pejuang kesetaraan ras yang menolak kursi khusus kulit hitam. Enggak ada Bro! Malah menurut saya sebagian besar gay di Indonesia hidup baik-baik saja. Beberapa artis yang terbuka kalau dirinya gay juga sepertinya sehat-sehat saja sampai sekarang. Bahkan ada majalah khusus gay di Indonesia. Kata situs berita jerman deutche-welle (www.dw.com) “It's OK to be gay in Indonesia so long as you keep it quiet”. Saya percaya ada juga kaum gay yang diusir, dianiaya. Tapi itu jadi soal kriminalitas, menurut saya tidak merepresentasikan keseluruhan. Jadi sebenarnya apa yang ingin diperjuangkan , setelah menggali lagi, rupanya keinginan untuk setara sebagai pasangan gay, ingin dilegitimasi pemerintah supaya bisa menikah sesama jenis. Supaya bisa bermesraan didepan umum.
Nah, kalau sudah sampai disitu. Ini bukan soal hak asasi manusia lagi menurut saya. Tapi sudah memaksakan, menjejalkan budaya tertentu ke dalam masyarakat Indonesia. Ok, di beberapa negara bagian di Amerika sudah melegalkan pernikahan sesama jenis, juga melegalkan bunuh diri. Tapi apakah hal ini bisa begitu saja dilakukan juga di Indonesia? Jadinya ini kayak memaksakan orang muslim makan babi, karena alasannya makan apapun itu hak asasi tiap manusia. Balik lagi, faktor lingkungan jelas berpengaruh terhadap munculnya perilaku homoseksual pada seseorang. Sederhana saja, sebagian besar keluarga di Indonesia tidak ingin anak-anaknya terpapar perilaku-perilaku homoseksual karena berpotensi membuat anak-anak dan generasi muda terpengaruh, ikut-ikutan, trus kemudian malah menjadi homoseksual. Memang sih, pada era internet ini pengaruh-pengaruh itu tidak bisa dihindari. Tapi paling tidak di dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan pertemanan hal tersebut bisa dihindarkan.
Oh iya...ngomong-ngomong, huruf terakhir dalam LGBT – Transgender. Itu masih tercantum dalam ICD-10 (gender identity disorder) sekaligus DSM-V (gender dysphoria) sebagai gangguan seksual, di halaman 215. Kode diagnosisnya F64.Sedangkan pada DSM V di halaman 487 dengan kode diagnosis juga F.64...

Akhir kata, tulisan ini saya buat benar2 atas opini pribadi saya, tidak untuk dijadikan perdebatan. Sebagai umat muslim, saya merasa wajib untuk mengatakan hal ini. 
Wallahualam.

Semoga kita semua terhindar dari penyakit dan perilaku yang dilaknat Allah. Semoga kita dapat menjalankan hidup di dunia untuk mempersiapkan bekal di akhirat. Amiin ya rabbal alamin

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review