Ilmu dari Elly Risman

“ Kayak gak pernah muda aja !”

Itulah kalimat  yang keluar dari mulut suaminya ketika ibu Ani mencoba menjelaskan kondisi anak gadis mereka berusia 12 tahun yang dinilai ibunya pacarannya sudah keterlaluan.Bu Ani sama sekali tidak setuju dengan jawaban yang mengacu ke masa lalu tersebut dan mengabaikan kenyataan yang ada di depan mata. Mereka terlibat perdebatan yang panjang yang berujung bu Ani mengalah sementara karena suaminya sudah hilang kesabaran dan suaranya sudah sangat tinggi.

Dalam kehidupan sehari hari sekarang ini, ayah yang seperti suami bu Ani tidak sedikit, bahkan banyak juga ibu ibu yang sepakat dan merasa anaknya aman dengan cara mereka berfikir seperti itu.

Kenapa anda perlu berubah, wahai ayah?.

Karena anak anda hidup di era digital. Pacaran sudah tidak seperti zaman anda pacaran dengan ibunya atau anda wahai ibu, ketika pacaran dengan ayahnya. Bukankah tanpa gadget saja dulu,sudah ada yang parah banget pacarannya?.
Bagi  mereka yang berpunya: rumah wifi,TV berbayar, Games disediakan dan HP,atau gadget canggih ditangan. Bagi yang hidup kurang berkecukupann, banyak Play station dan warnet bertebar sampai di gang gang yang sempit. Jadi siapa yang punya mata dan yang  punya gadget ditangan, yang tak mungkin terpapar pada pornografi ?.
Lagi, sumber keterpaparan lainnya menurut Divisi Anak dan Remaja YKBH, sangat banyak: Film,Games, DVD,Sinetron, Komik, Buku cerita ,iklan  dll.                                                                Begitu anak terpapar, umumnya mereka terkejut dan bereaksi secara perasaan: Jijik, kaget, takut, terangsang dll. Imaji porno itu langsung masuk ke Pusat perasaan yang membuat berproduksinya unsur kimia otak ( endogenous chemical) yang sudah tersedia disitu yang bernama DOPAMINE. Cairan kimia otak ini akan membuat seseorang fokus, terangsang, puas tapi sekaligus kecanduan. Ini yang menyebabkan anak anak kita lepas dari usianya berapa, akan mengulang melihat adegan P atau memainkan games yang mengandung unsur P tersebut, lagi dan lagi dan lagi..

Kalau pertama mereka melihat type A, maka utk berikutnya mereka tidak akan mau lagi melihat hal yang sama. Menurut David B Klein, terjadi proses disensitisasi/ berkurang gairahnya bila melihat hal yang sama,makanya mereka mencari terus gambar lain yang  kadar Pnya lebih meningkat. Hal ini berlangsung terus sampai di suatu titik mereka akan kehilangan kontrol atau kendali diri, karena pusat yang bertanggung jawab tentang hal ini belum sempurna berkembang, anak MELAKUKAN (acting out) apa yang  mereka lihat!. Mengapa? Ooh sederhana saja : Mereka sekedar  MENIRU dan INGIN TAHU bagaimana RASANYA !. 

Ternyata setelah dicoba menimbulkan kenikmatan dan kecanduan sekaligus. Itu mengapa perilaku tersebut dilakukan berulang ulang dan merusakkan bagian otak yang membuat mereka mampu  mengontrol emosi dan diri serta takut akan konsekuensi. Mereka tidak punya pertahanan diri sama sekali… Kalau Narkoba, harus keluar rumah,pesan, pake duit maka P tidak perlu apa apa!. Cairan kimia otak itu sudah tersedia, tinggal rangsang dengan melihat P saja. Itulah, mengapa Yudith Reismann menyebut P sebagai Visual Crack coccain . Narkoba lewat mata yang kami singkat menjadi Narkolema!.

Jadi sangat tergantung, sejak usia berapa mereka punya akses internet, dirumah ataukah di genggamannya atau di tempat lain. Kemudian, cara komunikasi orang tua – anak yang tergesa gesa dan gaya gaya  ngomong yang kurang tepat telah membuat jarak antara anak dan ortunya terentang jauh.. tak bisa diukur dengan kilometer. Maka, data kami menunjukkan anak mulai pacaran sejak kelas 4 SD!. Alasan utamanya : untuk teman curhat. Mengapa? Yah.. bagaimana curhat sama ayah dan mama  yg ngomongnya setiap hari tidak menyenangkan, bahkan menghasilkan emosi negatif yang bertumpuk tumpuk..
Kehidupan yang tergesa gesa, membuat perkembangan pikiran, kejiwaan dan seksualitas anak tidak menjadi prioritas untuk diperhatikan apalagi dipersiapkan  walau fisiknya nampak jelas berubah. Mengapa? karena yang  menjadi fokus utama hanyalah reputasi akademis, lewat : PeEr les, Pe Er – Les.   

Naudhubillah, tahu tahu anda menemukan berbagai bukti yang tidak menyenangkan, mulai dari  foto yang tidak layak sampai kelakuan melampaui batas agama. Bukan hanya tak tahu apa yang harus dikatakan, tapi tak tahu apa yang harus diperbuat. Usia anak masih sangat muda.

Al Jazeeraa :Dating Apps fuel “hidden epidemic” of new HIV infection.  

Berita yang dilansir oleh Al Jazeera dalam rangka peringatan hari Aids 1 Desember tahun lalu menjelaskan hasil penelitian yang dilakukan PBB bahwa angka penderita HIV Aids  dikalangan remaja akan meledak di Asia – Pasifik.
Bagaimana hal ini bisa terjadi?. Teknologi sos-med dan hape memungkinkan  anak remaja membuat janji dan bertemu serta terlibat kegiatan seksual beresiko yang  merupakan  alasan utama meningkatnya HIV Aids pada anak, dengan segitiga api : Bangkok – Jakarta –Hanoi!
Internet, menurut penelitian itu telah menjadi penyedia kesempatan yang tak berbatas lagi  untuk anak dan remaja  melakukan hubungan seks, baik sejenis maupun lawan jenis. Ditahun 2014 saja  di perkirakan ada 50,000 anak muda berusia 10 -19 tahun yang merupakan kelompok baru terjangkit penyakit ganas tersebut. Lebih dari separuh populasi remaja di dunia berada di Asia Pasifik, bayangkan !.
Dalam kegiatan kami, kami telah menemukan anak perempuan usia 12 tahun yang menggunakan grup di gadgetnya untuk membuat janji dan bertemu untuk melakukan hubungan seks seperti yang di hasilkan oleh UN dengan penelitiannya.

Dengan semua   temuan ini, apakah masih pantas ayah atau ibu berkata pada pasangannya masing masing dalam menghadapi anak mereka, kalimat ini :”Kayak gak pernah muda aja!”.

Anda bisa mengambil secarik kertas dan buatlah list, apa saja yang anda harus perbaiki untuk menjembatani kembali hubungan anak anda dan anda yang terentang begitu jauh. Kalau hal ini tidak didekatkan, bagaimana anda akan mulai membicarakan masalah masalah yang sangat sensitif  ini ?.
Buat juga list tentang apa saja yang anda rasa perlu anda bicarakan dengan anak anda.

Semoga kita panjang umur sampai minggu depan, sehingga kita bisa mendiskusikan beberapa alternative jalan keluarnya.
Silahkan di share bila bermanfaat.

“Kayak gak pernah muda aja - 2”

Bagaimana teman teman?, sempatkah duduk selama sepekan ini membuat list apa yang perlu dibahas dengan anak dan mendiskusikan berdua dengan pasangan anda?. Semoga sempat ya. 
Melanjutkan perbincangan kita pekan lalu, berikut ini  saya sampaikan bagian pertama  dari usulan dan saran saya bagi teman teman semua, baik  yang sudah membuat list masalahnya maupun yang belum.
 
1. Mintalah maaf. 
Sebagai manusia, kita ini tak luput dari salah, khilaf, lupa dan tidak tahu. Apalagi sebagai orang tua, semua kita tentunya termasuk saya dan pak Risman tidak sekolah jadi ortu.Mengaji, belajar agama, belajar dari ayah dan ibu saya,memilih jurusan Psikologi, dan kemudian menuntut berbagai ilmu parenting ( didorong, diizinkan dan difasilitasi suami),  saya kira memadailah ilmu  buat saya untuk menjadi ibu. Ternyata jauh panggang dari api. Keunikan anak, pengaruh keluarga batih, perkembangan zaman, percepatan perubahan budaya, pesatnya kemajuan dalam ilmu dan teknologi membuat saya dan kami sering sekali harus duduk merenung, berunding dan kemudian minta  maaf serta mengajak anak mendiskusikan berbagai masalah sendiri sendiri atau bersama sama.
Tidak jarang, kami harus mengeluarkan biaya untuk mendatangkan anak anak atau memulangkan mereka dari kota di tempat mereka menuntut ilmu untuk sekedar bersama disatu waktu atau untuk  membahas  masalah salah satu anggota keluarga.

Kesadaran bahwa kita manusia yang serba terbatas, akan meringankan hati dan lisan untuk minta maaf atas kekeliruan dan kesalahan dalam pengasuhan. Saya bahkan menceritakan hasil analisa diri saya, kadang menggunakan tehnik tehnik evaluasi diri,  pada anak anak saya, termasuk kemungkinan saya mewarisi sifat sifat tertentu dari orang tua bahkan dari kakek nenek saya. Saya sampaikan bahwa anak anak juga harus belajar melakukan hal serupa dan kalau mereka merasa mengenali atau menemukan bahwa mereka mewarsi sifat sifat tertentu yang kurang baik dari kami atau dari garis keturunan, mereka harus berusaha dengan penuh kesadaran untuk mengatasinya.

Minta maaf  minimal punya dua arti penting:
a. Kemarahan aau kekecewaan anak selama ini akan menurun. Bukankah itu yang terjadi kalau kita marah dan orang yang membuat kita marah meminta maaf pada kita ?
b.Anak akan belajar : “oh kalau salah minta maaf ?”. Maka insha Allah bila mereka sudah besar kalau mereka salah baik sebagai pasangan, teman ataupun  rekan sekerja, mereka pasti dengan mudah akan minta maaf.  

2. Periksa ulang kelengketan anak dengan kedua orangtuanya.
Karena kita kurang ilmu, maka tak sengaja kita melakukan dua hal :

a.Meniru apa yang dilakukan oleh orang lain atau kebanyakan orang, seolah itulah kebenaran. Karena tidak punya prinsip.

Kasih pinjam Hape pada anak usia dibawah 7th, karena sepupunya, anak tetangga atau anak dari teman sekantor ayahnya  juga dapat fasilitas itu  dari ortunya.

b.Membuat keputusan berdasarkan masa lalu.
Dulu, sebagai anak dia di tinggal bekerja oleh kedua ortunya, dia oke oke saja. Maka karena masa lalu itu membekas sangat dalam  di otak kita dan menjadi kebiasaan, maka kita tidak sengaja mengulangnya secara otomatis. Kita lupa zaman telah berganti tantangan pengasuhan jauh berbeda.

Anak  kita sejak kecil telah merasa jiwanya hampa, terpisah dari ortunya terlalu cepat. Tidak mendapat
kan perhatian dan kasih sayang pada saat dia butuhkan dalam jumlah yang cukup.
Kita harus mampu untuk  secara jujur  menilai diri sendiri sehingga sampai pada kesadaran betapa banyak dan besar bolong jiwa yang diderita anak kita dan berapa usianya sekarang.
Kalau kita berhutang di bank, mau tidak mau  kita harus mencicilnya. Mengapa tidak kita mencicil hutang jiwa pada anak kita?.
Mulailah kalahkan  diri sendiri berikut berbagai kepentingan yang sering sekali kita jadikan dalih untuk tidak memenuhi kewajiban kewajiban utama kita terhadap amanah yang dititipkan Allah pada kita. Maka “cicillah” hutang dengan mulai banyak : tersenyum, menyapa perasaan, membelai, dan memeluk anak anak kita. Di awal FB ini saya telah menuliskan kisah betapa banyaknya ibu ibu muda saya temukan lapar dan haus pelukan ibu… 

3. Hadirkan ayah dalam pengasuhan .
Dalam tulisan tulisan yang lalu sudah kita bahas panjang lebar di FB ini tentang peran significant ayah dalam pengasuhan. Ayah penanggung jawab utama pendidikan. Beliau kepala sekolahnya, ibu adalah gurunya. Seorang teman lama saya ustadz Mu’tamimul Ula memberi istilah pada ayah sebagai penentu GBHK ( Garis garis Besar Haluan Keluarga) .
Tugas ayah bukanlah hanya mencari nafkah untuk menghidupi keluarga saja, tapi menjadi ayah dalam keseluruhan makna.Apalagi di era digital seperti sekarang ini, peran ayah menjadi sangat signifikan dan sentral.

4. Perbaiki komunikasi.
Cara komunikasi keliru  antara ortu dengan anaknya yang kita bahas diminggu lalu, menyebabkan jarak terentang antara ortu dan anak tak bisa diukur dengan kilometer serta menghasilkan berbagai emosi negatif seperti : Marah, kesal, benci,takut, merasa tidak berharga didepan ortu sendiri, tidak percaya diri bahkan dendam!.   
Lalu bagaimana menjambatani jarak psikologis ini?. Saya suatu waktu punya kesempatan belajar dari Aa Gym, tentang komunikasi ini. Aa punya pengalaman yang kurang baik dengan anak anaknya. Perjalanan hidup dan gurunya mengajarkan Aa untuk banyak sholat taubat ( kita sepatutnya juga meniru Aa) dan memperbaiki komunikasi, mengapa?. Menurut Aa, sebenarnya anak anak kita itu adalah anak baik seperti ortunya. Tapi cara kita berkomunikasi dengan mereka tidak menggunakan frekuensi mereka. Mereka itu berada pada frekuensi yang rendah sementara kita menggunakan frekuensi tinggi, bahkan berteriak :”Hey anak anak dengarkan sudah adzan?. Ayo wudhuk ..wudhuk… sholat! Anak tetap saja dengan gamesnya atau apa yang dia kerjakan. 
Cobalah rubah cara, turunkan frekuensi. Bicaralah dengan mendekatkan badan kita ke mereka, turunkan frekuensi  dengan bicara serendah mungkin. Anak mungkin mulanya akan terkejut, menatap kita tanpa suara, dalam hatinya ;”Nih ayahku bukan ya?”. Tapi kemudian tanpa menyahut, dia akan melakukan apa yang kita  ajak atau perintahkan. Silahkan coba kalau tidak percaya .
Selain itu saya menyarankan agar kita membiasakan membaca bahasa tubuh yang dikirim oleh anak kita, menebak perasaan yang ada dibaliknya. Jangan takut salah, tebak terus saja.. karena kalau salah, anak akan membetulkannya.
Cobalah praktekkan tiga cara ini terus menerus :Turunkan  frekuensi , Baca bahasa tubuh, Tebak perasaan – namain dan terima.
Rasakana hubungan emosi anda semkin dekat, komunikasi meningkat dan lancar. Tanpa ini  bagaimana kita bisa membahas dengan anak kita isyu isyu genting seperti pacaran, pornografi, miras, narkoba dan berbagai kenakalan dan kejahatan remaja yang sekarang ini merupakan berita harian.

Empat hal ini saja dulu yang saya sampaikan pada teman teman semoga bisa dijadikan acuan untuk mengoreksi kekelirun kita bersama agar kita tidak memandang enteng  dan menyamakan apa yang dilakukan anak kita, seperti pacaran misalnya dengan apa yang terjadi pada kita di zaman dulu.

Semoga tetap sabar, sampai giliran saya berikutnya di pekan depan. Saya ingin menyampaikan ide secara  genap, maafkan jadi ber seri.

Silahkan di share bila bermanfaat.

Bekasi, 1 Mei 2013

Kayak gak pernah muda aja -3

Teman teman para ortu Indonesia yang hebat dan pembelajar!, semoga semuanya sehat dan bahagia ya.                                                                         
Kita lanjutkan perakapan kita  selama dua pekan ini ya. Terakhir  kita bicara tetang kiat kiat bagaimana kita mampu melihat dan  
menemukan hal hal apa yang perlu kita perbaiki dan tingkatkan dalam mengantar anak kita menjadi dewasa.
Berikut ini dua saran tambahannya.

5. Didiklah sendiri  Agama dan dampingi penerapannya.

Banyak ortu memiliki anggapan yang salah dalam hal pendidikan agama anak anaknya.   Karena mereka merasa kurang memiliki              pengetahuan agama yang memadai maka mereka memasukkan anak anak mereka ke sekolah sekolah beragama, walau dengan bayaran yang nyaris tak sanggup mereka penuhi. 
Maka bekerja keraslah kedua orang tua untuk mampu memberikan yang terbaik bagi anak anaknya. Tidak ada salahnya memang, semua orang tua termasuk saya selalu menginginkan yang terbaik bagi anak anak nya. Tetapi yang keliru dalam hal ini adalah :

a. Ortu menjadi tidak mempunyai kesempatan untuk memenuhi tanggung jawabnya kepada anak anak mereka sebagai pendidik utama dan pertama  pengenalan anak pada Allahnya,Rasul, kitab suci, dan berbagai aturan agama dalam kehidupan sehari hari, karena mereka pikir  institusi pendidikan akan mampu memberikan yang terbaik bagi anak anaknya.    

b. Orang tua ini lupa, bahwa begitu sperma bertemu dengan sel telur maka ayah dan ibu itulah yang telah dipilih untuk menjadi baby sitternya Allah. Merekalah yang harus menunaikan tanggung jawabnya semaksimal yang mereka bisa, sebelum mereka men subkontrakkannya ketangan orang lain. Jadi, perlu saya tekankan disini :bukannya tidak boleh mengirimkan mereka ke institusi pendidikan agama.

c. Jadi yang harus meningkatkan pengetahuan dan belajar agama adalah ibu bapaknya bukan anak ditinggal atau disub kontrakkan ketangan orang demi untuk mencari biaya pendidikan lalu anak kehilangan dasar dasar  pengasuhan: cinta dan kasih sayang serta kelengketan dan termasuk pendidikan dasar agama.

d. Banyak sekali yang hilang dengan pemikiran seperti ini,  ortu hanya mendidikkan aturan dan perintah agama sekedar untuk anak BISA, bukan SUKA.Orang tua lupa, bahwa bagian otak yang berkembang lebih dulu di 8 tahun pertama adalah pusat Perasaan, bukan bagian otak yang digunakan untuk  berfikir. Jadi bukan anak BISA sholat dan mengaji, puasa dan ibadah lainnya tapi mereka SUKA melakukannya. Jadi, ada atau tidak ada orang tuanya, disuruh atau tidak disuruh, anak akan melakukannya ,karena mereka SUKA.  Sesuai umurnya, pembiasaan dilakukan terlebih dahulu- pengertian kemudian, setelah otak mereka berkembang sempurna.

e. Orang tua tidak dapat melakukan pemantauan yang seksama bagaimana anak menerapkan semua yang diajarkan  dalam kehidupan sehari harinya. Kalau waktu hanya sedikit dan semua dilakukan dengan tergesa gesa, bagaimana mungkin bisa memperhatikan faktor emosi anak dalam mempelajari sesuatu dan menerapkannya .

f. Banyak sekali hal yang hilang, karena miskinnya dialog antar anak dan orang tua dalam memberikan pengertian tentang dasar dasar agama. Anak seharusnya memiliki pengertian yang utuh mengapa sebagai manusia kita harus  melakukan  atau meninggalkan apa yang di perintahkan Allah. Ini penting!, bukan hanya sekedar tahu untuk berhasil mencapai angka baik dalam ujian sekolah!.

Oleh sebab itu, milikilah waktu untuk mendidik, mengajar dan belajar bersama agama pada anak anak kita. Semua harus kita lakukan karena Kethaatan, kecintaan, rasa syukur sekaligus  ketakutan kita pada hisab Allah ketika nanti kita ditanya tentang  amanahNya pada kita.
                
6.  Didik dan Asuh seksualitas anak kita

Izinkan saya menjelaskan lebih dahulu bedanya  Seks dan Seksualitas. Seks adalah alat kelamin dan berbagai masalah yang                           
berhubungan dengan keduanya. Sementara seksualitas adalah bagaimana seseorang : Berfikir , merasa, menunjukkan dirinya,tertawa, menangis  dan berbagai betuk ekspresi diri dan kepribadiannya.
Jadi mengasuh seksualitas anak adalah mengasuh totalitas kepribadianya sehingga ia memiiliki seks yang Benar, Sehat ,dan Lurus.
Benar : sesuai dengan Qur’an atau kitab suci yang kita anut, Sehat: tidak terkena penyakitm jiwa fisik maupun seksual dan Lurus: sesuai dengan jenis kelamin yang ditentukan Allah.
Bayi perempuan akan menjadi gadis untuk kemudian  menjadi  Perempuan atau Wanita 
Bayi lelaki akan tumbuh menjadi bujang dan kemudian menjadi Lelaki atau Pria., jangan sebaliknya .

Banyak sekali hal yang harus dipenuhi dan dididikkan oleh orang tua sebelum anak menjadi dewasa dengan memasuki usia balighnya. Semua aspek yang kita sebutkan diatas  mulai dari kelengketan, kehadiran ayah komunikasi dan pendidikan agama  menentukan seksualitas anak. Semua harus mengikuti tahap tahap perkembangan anak yang tidak mungkin saya tuliskan disini. Saya membutuhkan doa teman teman semoga saya dapat merampungkan buku  tentang hal ini.

7. Sadari  bahwa  anak kita adalah Generasi Platinum yang hidup 
     diera Digital. 
 
Anak anak kita membutuhkan pengasuhan yang berbeda dengan apa yang kita terima dulu dengan orang tua kita.Mulai dari cara berkomunikasi dan semua aspek yang kita sebutkan diatas, harus  disesuaikan dengan perkembangan zaman. 
Dulu kita tak punya Hape dan akses internet, sementara mereka  sangat terbiasa menggunakannya . Mereka menjadi generasi “mudah beralih”/multi switching, selalu penuh tantangan, kesenangan dan mudah tenggelam dalam dunia mayanya .
Upaya pertama adalah menyadari ciri ciri diatas, memahami nya dan mensiasatinya. Sulit sekali bila kedua orang tua  sudahlah tidak menyadari semua hal ini, tidak hadir  pula dalam pengasuhan sehingga mudah  terjebak dalam anggapan yang salah seperti judul tulisan ini.

Kita bukan saja harus dan  mau tetapi diatas itu sepenuhnya harus sadar untuk BERUBAH.

Untuk itu kita perlu meningkatkan ilmu, pengetahuan dan ketrampilan mendidik anak di era digital ini. Ahli tentang generasi ini mengatakan bahwa anak anak kita  adalah penghuni asli dunia digital ini sementara kita  pendatang atau immigrant kedunianya. Ketidak tahuan dan kelalaian kita, seperti yang saya uraikan dibagian pertama tulisan ini akan membuat kita tak terduga duga akan menuai bencana.

Yuk kita sadari, kalau kita lalai maka miras, narkoba dan kini pornografi  mengancam kerusakan otak anak anak kita.
Yang disasar pertama adalah : Anak laki laki kita yang belum baligh yang pintar,sensitive, kurang pengetahuan agama serta yang bosan,  sering kesepian, mudah emosian, mengalami stress dan kelelahan jiwa berkepanjangan.
Kalau kita tidak berhati hati, maka kita akan kehilangan anak lelaki kita, kepala keluarga,  imam dalam keluarga dan pemimpin bangsa!. 

Semua itulah yang menyebabkan kasus YUYUN di Bengkulu dan kemudian gadis lain yang diperkosa 15 lelaki di Menado, berita terakhir hari ini.

Jadi kasus Yuyun  jauh sekali dari anggapan bahwa ini  masalah budaya patriarki!. Yang benar adalah karena kekurangan, kesilapan dan keabaian kita dan pemerintah dalam menanggapi bencana zaman terhadap pengasuhan generasi penerus.

Perjalanan  panjang perjuangan saya dan sahabat sahabat saya di YKBH dalam melindungi anak anak dari dampak buruk pornografi menunjukkan bahwa kita tidak bisa banyak mengharapkan pemerintah dalam hal ini, walau bencana sudah sebesar yang terjadi sekarang.

Bukankah kita kita lelah sudah mendengarkan kata Darurat ini dan Darurat itu. Tapi apakah anda sebagai rakyat merasakanya dalam tindakan?.
Bila TIDAK, marilah kita mulai dari diri kita sendiri: Peluklah jiwa anak kita, arahkan pikirannya, pasak hidupnya dengan pengetahuan agama dan pembiasaan hidup yang benar.

Semoga upaya penyemaian kita yang bersungguh sungguh menghindarkan kita dari menuai hampa di dunia maupun di akhirat nanti.

Dengan penuh cinta,

Bekasi, dini hari  9 Mei 2016


  1. Ayuk gabung di ROYALQQ.POKER sekarang juga...
    Minimall deposit hanya Rp. 15.000,- IDR sudah bisa bermain di semua games populer.

    Daftar, main dan menangkan JACKPOT ratusan juta sekarang juga

    ReplyDelete

Designed by FlexyCreatives