Swaying Life!

It's been a long time since I wrote my last post.
Nothing special actually, just my daily activities. Until now I just read one good article about working mother, balancing work-family seems unrealistic anymore. Now it's time for swaying ๐Ÿ˜„

Frase "balance work and family" sudah sangat familiar di kalangan ibu2, terutama ibu yang bekerja. 
Aku pun demikian, sebelum membaca artikel tersebut, merasa harus menjadi ibu (bekerja) yang sempurna. 
Datang ke kantor tepat waktu dengan make up lengkap, tatanan rambut/jilbab terkini dan busana kerja yang rapi. Punya anak(-anak) yang sehat, lucu dan cerdas. Punya suami dan hubungan pernikahan yang bagai tanpa masalah. Mengasuh anak tanpa ART. Dan sederet gambaran kesempurnaan lainnya.


Hal itu diperparah dengan makin mudahnya mengakses sosial media, sebut saja instagram yang dengan gampangnya bisa memamerkan "kesempurnaan" hidup. Tingkat stres yang dialami ibu muda semakin bertambah.

Personally speaking, I still have many dreams and in reality, I have many more tasks to do in my daily routine.
1. Upgrade ilmu agama: ikut kajian mingguan atau bulanan
2. Upgrade ilmu manajemen RS
3. Upgrade ilmu laktasi
4. Work in a flexible way
5. Sebagai laktivis AIMI
6. Onlineshop seller
7. Olahraga

Untuk urusan Ayra:
1. Antar jemput sekolah (almost everyday from 7.30-10)
2. Mempersiapkan kebutuhan tugas sekolah
3. Mempersiapkan kado teman yg ultah
4. Arrange her routine dentistry visits

Untuk urusan Axel:
1. Arrange his routine paeditrician visits
2. Arrange for his weight gain program

Swim for both kids.

Ini belum termasuk menjaga hubungan dengan suami, endesbre endesbre.
Jadi ibu memang tantangan. 

Awalnya (kadang sampai sekarang juga masih) merasa overwhelm, exhausted. Seperti berkejaran dengan waktu. Mau rutin olahraga, tapi waktunya ga cukup karena antar jemput Ayra sekolah, kalau nggak antar jemput, artinya aku harus menjalankan tugas di kantor 1 (minimal 2x/minggu) dan tugas dari kantor 2 ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Awalnya aku selalu mencari the perfect time to do something. Sekarang seringkali aku mulai menyadari bahwa there is no perfect time for everything. Aku harus bisa memanfaatkan waktu di sela2 semua kegiatan utk bisa mengerjakan semuanya. Misalnya aku yoga di antara waktu nungguin Ayra sekolah. Ya memang nggak bisa ngobrol2 dulu setelah yoga seperti teman2 lain. Atau lain waktu, aku belajar saat menunggu antrian dokter.
Dan sebagainya..

Lama kelamaan aku mulai belajar menerima kenyataan bahwa kadang aku datang ke kantor dengan wajah berkeringat krn mengantar Ayra sekolah kadang minta gendong, dll. Kadang aku lupa membawa breastpump saat menunggu Ayra sekolah dan yoga.
Kadang sudah cantik siap belajar, ternyata kantin depan sekolah Ayra penuh orang. Dan sebagainya.

Kalau dulu waktu masih punya anak 1, masih terasa bisa terkontrol dengan baik. Dengan 2 anak, rasanya seperti akrobat.

No I am not complaining, I am very grateful indeed. Aku cuma menceritakan bahwa there's no such perfect life. There's must be "behind the scene" effort  for every picture-perfect posted on Instagram ๐Ÿ˜„

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives