Febrile Convulsion in Infant

Rabu tanggal 1 Maret 2017 lalu menjadi pengalaman baru lagi bagi kami. Sebenarnya kejang demam bukan hal baru, karena Ayra pernah kejang demam tahun 2015, saat umur 2 tahun 11 bulan. Saat itu Ayra diare berat dan tidak mau minum oralit sehingga dia lemas sekali. Saat itu kami langsung bawa ke poli anak di RS. Dokter yang memeriksa langsung meminta Ayra dirawat inap, setelah masuk kamar, Ayra kejang. Jadi kejangnya terjadi karena electrolite imbalance. 
Rabu lalu jam 22.30, Axel rewel setelah sebelumnya tidur di atas badanku. Disusuin juga masih rewel, aku pikir karena mimpi buruk. 
Karena tidak berhasil menenangkan Axel, aku panggil suami. Axel juga minta digendong papanya. Setelah agak tenang, ditaruh lagi di atas badanku untuk disusui. Tapi saat menyusui Axel, aku merasakan badannya dikakukan seperti menahan sesuatu, padahal matanya tertutup. Suhu tubuhnya normal. Memang Axel sedang bapil seminggu. Aku panggil suamiku lagi. Saat digendong suami, Axel lagi2 mengkakukan badannya. Aku panggil adikku, yang mana seorang dokter. Adikku bilang itu kejang. Langsung paniklah kami. Karena tidak ada persediaan stesolid (obat yang dimasukkan via dubur). Adikku menyuruh langsung ke IGD saja. Jadilah kami panik menyetir ke RS.
Selama perjalanan Axel sempat meng-kaku-kan badannya lagi. Mukanya semakin pucat. Suami menyetir dengan kacau. RS yang kami pilih memang agak jauh karena di RS itu juga ada dokter jantungnua. Kami pikir jika ada sesuatu yang berhubungan dengan jantungnya, akan lebih mudah untuk konsul.
Sampai di IGD, suhu tubuh Axel mulai naik. Sampai 38. Kuku di tangannya sampai biru. Axel langsung diberi oksigen dan diberi stesolid via dubur.
Setelah berada di IGD sekitar 1,5 jam, kami akhirnya masuk kamar rawat inap. Axel sudah mulai tertidur. Tapi sesekali terbangun karena prosedur pemeriksaan. Jam 2 pagi, suhu tubuh Axel tidak turun lagi. Jadi perawat memberikan penurun panas lagi via infusnya.

Singkat cerita, Sabtu pagi Axel menjalani pemeriksaan EEG, untuk mengetahui jenis kejangnya, apakah kejang demam atau epilepsi. Alhamdulillah Sabtu siang, Axel sudah diperbolehkan pulang. Hasil EEG diambil Sabtu malam dan hasilnya baik, alhamdulillaah...aktivitas otaknya normal semua. Jadi kejang yang kemarin adalah kejang demam, bukan epilepsi. Alhamdulillaaahh....

Satu hal lagi, alhamdulillah Axel masih menyusu meski sudah berusia 2 tahun 2 bulan. Aku merasakan Axel lebih tenang saat disusui dan alhamdulillah recovery juga lebih cepat. Memang kondisi setiap anak berbeda, meski tidak boleh, seringkali aku juga membandingkan antara Ayra dan Axel. Ayra jarang sekali sakit berat, di sisi lain Axel lahir dengan kelainan jantung bawaan. 
Semua sudah takdir Allah, tapi aku merasakan, dengan menyusui anak2, terutama Axel, kondisinya lebih baik, jika seandainya dia tidak disusui.

Yes it was all happened because of Allah, but I highly recommend to breastfeed our children, specially if they have special condition. Even for children with special condition, I believe, breastmilk is the best, I believe it will improve the health condition.
Memang dengan kondisi anak yang spesial, semakin banyak tantangan dalam menyusui. But I believe Allah has trust us with children, then He also believe that we can do it, we can give the best for them, including breastfeed them.















Post a Comment

Designed by FlexyCreatives