Friday, June 16, 2017

Alhamdulillah.....IBCLC!

0 comments
Alhamdulillahirabbilalamin...
Tepat tanggal 20 Ramadhan 1438 H atau 15 Juni 2017, saya mendapat kabar bahwa saya lulus ujian IBCLC.
Dengan demikian, saya berhak menggunakan gelar IBCLC di belakang nama saya. Tapi ini bukan sekadar gelar, ada tanggung jawab besar yang menyertainya.

Untuk mendapatkan gelar ini, kandidat harus lulus ujian internasional yang diadakan oleh IBLCE. Syarat untuk menjadi kandidat ada di https://iblce.org/certify/eligibility-criteria/

Saya mendaftar sejak April 2016 untuk ujian di bulan Oktober 2016, waktu itu ujian paper-based dan lokasi hanya ada di Jakarta. Perjuangan ke Jakarta membawa Axel dan seorang ART. Belum lagi belajar dan lain2nya. Bulan Desember 2016, pengumuman datang, dan saya dinyatakan: Tidak Lulus!

Setelah tidak lulus, kandidat mempunyai kesempatan ujian lagi 2x lagi. Jadwal ujian selanjutnya di bulan April 2017, computer-based, bahasa Inggris dan lokasi di Surabaya. FYI, kalau computer-based memang bisa di banyak kota, bukan hanya Jakarta saja seperti paper-based.
Agak ragu untuk maju yang April karena pakai bahasa Inggris. Tapi saya ikhtiar tetap maju dengan pertimbangan semua textbook yang dipakai belajar juga bahasa Inggris.

Dan alhamdulillah saya dinyatakan LULUS pada ujian kedua ini setelah menunggu hampir dua bulan.


MasyaAllah saya langsung nangis waktu baca pengumumannya....
Semakin saya banyak membaca textbook, semakin saya sadar memang pengetahuan saya masih kurang. Dan ilmu ini akan terus berkembang.
Banyak IBCLC lain di luar sana yang sudah berpuluh2 tahun berkiprah. Saya masih bayi dalam hal ini.
Alhamdulillah...semoga saya bisa memberi manfaat lebih untuk orang lain...

Friday, June 9, 2017

Indikasi Medis Pemberian Susu Formula

0 comments
Kondisi Medis yang Memperbolehkannya Pemberian Susu Formula
Jadi sebegitu jahatnya kah susu formula? Tentu tidak. Susu formula bisa diberikan pada bayi dengan indikasi medis tertentu. Apa saja itu?

A.    Kondisi bayi
A.1Bayi yang seharusnya tidak menerima ASI atau susu lainnya kecuali formula khusus:
  1. Bayi dengan galaktosemia klasik: diperlukan formula khusus bebas galaktosa. 
  2. Bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup mapel / maple syrup urine disease: diperlukan formula khusus bebas leusin, isoleusin dan valin. 
  3. Bayi dengan fenilketonuria: dibutuhkan formula khusus bebas fenilalanin (dimungkinkan beberapa kali menyusui, di bawah pengawasan ketat).
A.2Bayi-bayi di mana ASI tetap merupakan pilihan makanan terbaik tetapi mungkin membutuhkan makanan lain selain ASI untuk jangka waktu terbatas:
  1. Bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 g (berat lahir sangat rendah). 
  2. Bayi lahir kurang dari 32 minggu dari usia kehamilan (amat prematur). 
  3. Bayi baru lahir yang berisiko hipoglikemia berdasarkan gangguan adaptasi metabolisme atau peningkatan kebutuhan glukosa (seperti pada bayi prematur, kecil untuk umur kehamilan atau yang mengalami stres iskemik / intrapartum hipoksia yang signifikan, bayi-bayi yang sakit dan bayi yang memiliki ibu pengidap diabetes), jika gula darahnya gagal merespon pemberian ASI baik secara langsung maupun tidak langsung

B.     Kondisi ibu
Ibu-ibu yang memiliki salah satu dari kondisi yang disebutkan di bawah ini harus mendapat pengobatan sesuai dengan standar pedoman.
B.1 Kondisi ibu yang dapat membenarkan alasan penghindaran menyusui secara permanen:
Ibu dengan Infeksi HIV (lihat cat.1) : Jika pengganti menyusui dapat diterima, layak, terjangkau, berkelanjutan, dan aman (AFASS). Pemilihan pemberian makan yang paling sesuai pada bayi untuk ibu yang terinfeksi HIV tergantung pada keadaan individual ibu dan bayinya, termasuk status kesehatannya, tetapi harus mempertimbangkan layanan kesehatan yang tersedia dan konseling dan dukungan yang mungkin akan dia terima. ASI eksklusif dianjurkan untuk enam bulan pertama kehidupan bayi kecuali pengganti menyusui adalah AFASS. Jika penggantian pemberian makan adalah AFASS, maka dianjurkan penghentian semua kegiatan menyusui oleh ibu terinfeksi HIV. Penggabungan pola makan di 6 bulan pertama kehidupan (yaitu, menyusui dan juga memberi cairan, susu formula atau makanan lain) harus selalu dihindari oleh ibu yang terinfeksi HIV. 

B.2 Kondisi ibu yang dapat membenarkan alasan penghentian menyusui untuk sementara waktu
1.      Penyakit parah yang menghalangi seorang ibu merawat bayi, misalnya sepsis. 
2.      Virus Herpes Simplex tipe 1 (HSV-1): kontak langsung antara luka pada payudara ibu dan mulut bayi sebaiknya dihindari sampai semua lesi aktif telah diterapi hingga tuntas.
3.      Pengobatan ibu yaitu : 
a)  Obat-obatan psikoterapi jenis penenang, obat anti-epilepsi dan opioid dan kombinasinya dapat menyebabkan efek samping seperti mengantuk dan depresi pernapasan dan lebih baik dihindari jika alternatif yang lebih aman tersedia (7);
b)  Radioaktif iodin-131 lebih baik dihindari mengingat bahwa alternatif yang lebih aman tersedia – seorang ibu dapat melanjutkan menyusui sekitar dua bulan setelah menerima zat ini; 
c)  Penggunaan yodium atau yodofor topikal (misalnya povidone-iodine) secara berlebihan, terutama pada luka terbuka atau membran mukosa, dapat menyebabkan penekanan hormon tiroid atau kelainan elektrolit pada bayi yang mendapat ASI dan harus dihindari; 
d)   Sitotoksik kemoterapi mensyaratkan bahwa seorang ibu harus berhenti menyusui selama terapi.
B.3 Kondisi ibu yang masih dapat melanjutkan menyusui, walaupun mungkin terdapat masalah kesehatan yang menjadi perhatian.
1.   Abses payudara: menyusui harus dilanjutkan pada payudara yang tidak terkena abses; menyusui dari payudara yang terkena dapat dilanjutkan setelah perawatan mulai.
2.   Hepatitis B: bayi harus diberi vaksin hepatitis B, dalam waktu 48 jam pertama atau sesegera mungkin sesudahnya. 
3.    Hepatitis C. 
4.  Mastitis: bila menyusui sangat menyakitkan, susu harus dikeluarkan untuk mencegah progresivitas penyakit.
5.      Tuberkulosis: ibu dan bayi harus diterapi sesuai dengan pedoman tuberkulosis nasional. 
6.      Penggunaan zat zat (lihat cat.2) : 
a)   Penggunaan nikotin, alkohol, ekstasi, amfetamin, kokain, dan stimulan sejenis oleh ibu telah terbukti memiliki efek berbahaya pada bayi yang disusui; 
b)    Alkohol, opioid, benzodiazepin dan ganja dapat menyebabkan sedasi pada ibu dan bayi. Ibu harus didorong untuk tidak menggunakan zat-zat tersebut, dan diberi kesempatan dan dukungan untuk tidak lagi terlibat di dalamnya.

Keterangan: Ibu yang memilih untuk tidak menghentikan penggunaan zat-zat ini atau yang tidak mampu melakukannya harus meminta saran secara individual mengenai risiko dan manfaat menyusui tergantung pada keadaan individual mereka. Untuk ibu yang menggunakan bahan-bahan ini dalam jangka waktu pendek, pertimbangan dapat diberikan untuk penghentian menyusui sementara selama waktu ini.

Risiko Pemberian Susu Formula

0 comments
Kenapa sih kok nggak boleh minum susu formula? Sebenarnya minum susu formula juga ada risiko lho…
(   1)   Penyakit dan Infeksi

  • .    Bayi yang tidak mendapatkan ASI sama sekali, memiliki resiko 2,4 kali lebih besar untuk meninggal akibat penyakit infeksi saluran pernafasan
  • .    Bayi yang mendapatkan susu formula tanpa indikasi medis akan mendapatkan resiko lebih tinggi untuk penyakit kanker pada anak, seperti leukimia, kanker getah bening, dll
  • .  Bayi yang mendapatkan susu formula (tanpa indikasi medis) mempunyai tekanan darah lebih tinggi sehingga menyebabkan meningkatnya resiko penyakit jantung
  • .   Bayi yang tidak mendapatkan ASI sama sekali, memiliki resiko 14,2 kali lebih besar untuk meninggal akibat penyakit diare
  • .  Anak yang menyusui lebih kecil kemungkinan menderita karies gigi, bentuk rahang yang kurang baik atau memakai kawat gigi
  • .    Susu formula dapat mengakibatkan stimulasi yang kurang tepat terhadap sistem imun tubuh bayi
  • .    Susu formula dapat mengakibatkan respon yang kurang baik terhadap pemberian jenis-jenis vaksin/imunisasi tertentu

(   2)   Kesehatan Mental
Menurut penelitian, menyusui mengurangi resiko gangguan mental pada anak: (1) menarik diri (withdrawn), (2) cemas/depresi (anxious/depressed), (3) keluhan somatik (somatic complaints), (4) masalah sosial (social problems), (5) masalah perhatian (attention problems), (6) masalah dalam berpikir (thought problems), (7) sifat nakal (delinquent behavior) dan (8) sifat agresif (aggressive behavior)
Penelitian membuktikan bahwa tingkat mangan yang tinggi, terutama pada formula soya, sangat menghambat kerja dopamine yang berfungsi mengatur kestabilan emosi manusia.

(    3)   Kontaminasi
antara tahun 1982-2010 di Amerika Serikat sekitar 22 produk formula pernah ditarik dari peredaran, karena terkontaminasi oleh:
a.       butiran kaca                                                                            
b.      mikro-organisme lainnya                                
c.       lapisan dalam kaleng yang mengelupas         
d.      bakteri salmonella      
e.       bakteri e. sakazakii     
f.       butiran metal              
g.      PVC
h.      potongan tubuh serangga
i.        melamin                                                                                  
j.        proses produksi tidak higienis
Di dalam susu formula juga mengandung zat-zat yang sebenarnya kurang baik untuk kesehatan, antara lain:
a. Aluminium (dalam susu formula soya) memiliki risiko yaitu mengganggu proses metabolisme sel-sel tubuh;
b.    Silikon (belum diketahui efek terhadap bayi dan balita);
c.    Cadmium (dapat menyebabkan kerusakan ginjal dalam dosis yang besar)
d.  Jagung dan kedelai yang telah direkayasa secara genetik/genetically engineered. Kandungan zat ini dapat memperkenalkan jenis-jenis baru toxin serta faktor-faktor pemicu alergi pada tubuh bayi, serta meningkatkan resistensi terhadap antibiotika;
e.   MSG dan aspartic acid (paling banyak terdapat dalam formula jenis hypo-allergenic);
f. Phytoestrogen (dalam soy formula – antara lain dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon steroid dalam tubuh)
g.  Bisphenol-A (untuk melapisi kaleng susu)
(   4)   Risiko Pencemaran Air
a.  Untuk membuat susu formula, harus menggunakan air bersih yang direbus dengan temperatur 70’C supaya bakteri e. sakazakii dan salmonella mati, bagaimana dengan probiotik yang (katanya) terkandung dalam susu formula?
b.   Perlu air bersih untuk merebus dan mensterilkan botol & dot, sedangkan 40% penduduk Indonesia tidak punya akses ke air bersih
c.    Kemungkinan pencemaran oleh: timbal, nitrat, bakteri, atrazine

(    5)   Risiko Tata Cara Pemberian
a.  Takaran susu formula yang tidak tepat juga berisiko bagi bayi. Takaran yang terlalu banyak akan menyebabkan konstipasi dan dehidrasi, sedangkan takaran terlalu sedikit menyebabkan tidak ada nutrisinya karena lebih banyak airnya.
b.  Pembuatan susu formula harus menggunakan air matang yang direbus mendidih, sehingga ada risiko bila air yang digunakan untuk mencampur adalah air tercemar dan/atau tidak direbus karena ada bakteri yang bisa menyebabkan bayi sakit
c.     Risiko penyimpanan susu formula tidak benar akan menyebabkan rentan pencemaran sehingga bayi akan sakit
d.    Pembuatan susu formula hanya untuk sekali minum, apabila tidak habis tidak boleh disimpan

(    6)   Risiko Botol dan Dot
a.   Bisphenol A yaitu bahan plastik yang menyebabkan gangguan sistem endokrin/hormon
b.   Plastik untuk pangan yaitu plastik 4 (LDPE) atau 5 (PP)
c.  Dot silikon >> jangan lateks
d.  Harus disterilkan sebelum digunakan
e. Penggunaan dot berisiko bingung puting (kondisi dimana bayi menolak menyusu langsung pada payudara ibu), penurunan produksi ASI dan penyapihan dini
f.   Risiko infeksi (radang telinga, jamur, sariawan, diare dan infeksi saluran nafas) akibat sulitnya membersihkan/mensterilkan dot
g.   Gangguan pertumbuhan rongga mulut, rahang dan gigi geligi (maloklusi)
h.  Risiko aspirasi
i.     Menyusui menstimulasi seluruh otot kepala, wajah dan rahang.
j.  Penggunaan dot kurang menstimulasi otot-otot kepala, wajah dan rahangsehingga berisiko untuk meningkatkan kelainan dan hambatan kemampuan wicara

(    7)   Risiko Keuangan
a.       Biaya formula 1 dus (ukuran kecil):  Rp. 28.200,- s/d Rp. 137.750,-
b.      Biaya formula per bulan min: Rp. 394.000- s/d Rp. 1.490.700,-
c.       Biaya formula selama 2 tahun mencapai Rp. 34.073.600,-
Contoh: Pendapatan per kapita masyarakat Indonesia Rp.3.042.000,-/bulan mengkonsumsi formula dengan segmen kelas menengah, total biaya Rp. 801.500,-/bulan = 26,35% penghasilan (per anak)

Nah masih mau kasih susu formula untuk anak? Apalagi kalau anak kita sehat, sayang banget kaan...

Tuesday, June 6, 2017

Faktor Kegagalan ASIX

0 comments
Setelah mengetahui manfaat dan keunggulan ASI, pastinya banyak ibu yang ingin bisa memberikan yang terbaik untuk buah hatinya dong, yaitu menyusui secara eksklusif selama 6 bulan masa awal kehidupan bayi, kemudian memberikan MPASI sejak usia 6 bulan dengan dilanjutkan menyusui sampai usia 2 tahun. Tapi kenapa banyak ibu yang gagal menyusui secara eksklusif? Bukankah menyusui itu hal yang alami ya?
Ada banyak faktor kegagalan menyusui, salah satunya adalah pengetahuan ibu yang kurang tentang ASI dan menyusui. Begitu banyak mitos di lingkungan kita yang sudah turun temurun disebarkan.
Pernah dengar bahwa ibu menyusui dilarang minum yang panas? Nanti lidah bayinya jadi putih2 (karena terbakar)? Atau ibu menyusui dilarang minum yang dingin? Nanti bayinya jadi pilek? Atau ibu menyusui dilarang makan pedas, bla bla bla? Banyak sekali pantangannya ya..jadi terkesan menyusui itu ribet banget, nggak boleh ini itu L
Daftar mitos yang tersebar di masyarakat:
No.
Mitos
Penjelasan
1
Tidak boleh tidur siang selama masa nifas
Tidak benar. Ibu menyusui paska melahirkan butuh istirahat yang cukup, sehingga tidur siang juga diperlukan untuk menjaga kesehatan ibu paska bersalin
2
Tidak boleh makan ikan supaya ASI tidak amis
Tidak benar. Semua makanan ibu akan diproses di dalam saluran pencernaan, kemudian baru akan didistribusikan ke seluruh bagian tubuh termasuk untuk produksi ASI.
3
Tidak boleh makan duren
Tidak benar. Ibu menyusui boleh makan apa saja selama bayi tidak alergi.
4
Tidak boleh makan pedas
Ada zat di dalam cabe yang disebut capsaicin, dimana beberapa bayi sensitif terhadap zat ini. Ibu boleh mencoba makan pedas dan mengobservasi reaksi pada bayinya.
5
Tidak boleh minum kopi
Ibu boleh minum kopi selama tidak berlebihan dan terus observasi reaksi pada bayinya.
6
Tidak boleh berhubungan suami istri selama menyusui
Tidak benar. Berubungan suami istri yang menimbulkan perasaan nyaman pada ibu akan menyebabkan lancarnya hormon oksitosin.
7
Tidak boleh minum minuman dingin karena membuat ASI menjadi dingin
Tidak benar. ASI akan keluar dari payudara mengikuti suhu tubuh ibu dan dalam suhu yang tepat untuk dikonsumsi oleh bayi.
8
Tidak boleh menyusui sambil tiduran
Posisi menyusui apapun, yang paling utama adalah pelekatannya. Yang ditakutkan menyusu sambil tiduran biasanya adalah bayi tersedak. Hal ini justru jarang terjadi pada bayi yang menyusu pada payudara ibu, karena pada saat bayi tertidur, tidak ada hisapan ke payudara, sehingga aliran ASI akan berhenti. Hal ini tidak berlaku pada anak yang minum susu dari botol.

Pernahkah mendengar kalimat “wah bayimu nangis terus tuh, dia masih lapar, ASImu kurang” atau “payudaramu kecil begitu kok, pasti ASInya sedikit”. Dan komentar-komentar lain yang bikin minder dan nggak pede. Komentar semacam ini nggak jarang dilontarkan oleh keluarga atau teman dekat. Meskipun terdengar komentar remeh, tapi kalau diucapkan berkali-kali atau bahkan pada hari-hari awal menyusui, ini bisa menjatuhkan mental si ibu lhoo..
Pengetahuan ibu yang kurang tentang menyusui bisa menyebabkan ibu tidak kuat mental menghadapi komentar semacam ini. Pengetahuan keluarga dekat yang kurang juga memperburuk keadaan. Jadilah si bayi kecil yang sering menangis itu diberi tambahan sufor atau malah makanan (biasanya pisang) supaya kenyang, katanya.
Faktor lain yang berpotensi menggagalkan ASIX adalah kurangnya dukungan dari fasilitas dan tenaga kesehatan. Fasilitas kesehatan, terutama tempat bersalin, seperti rumah sakit, rumah bersalin, tempat bidan praktek swasta juga mempunyai peran terhadap berhasil atau gagalnya ASIX. Jika fasilitas kesehatan tidak mendukung dilakukannya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan rawat gabung, kemungkinan gagalnya ASIX semakin besar. Di sisi lain, tenaga kesehatan yang terlibat juga berpengaruh besar, seperti misalnya bidan, perawat dan dokter. Jika tenaga kesehatan memberikan komentar yang negatif, dan bukannya menguatkan kepercayaan diri ibu, kemungkinan gagalnya ASIX juga besar. Komentar negatif atau bahkan pertanyaan “ibu mau menggunakan susu formula apa untuk bayinya?” itu merupakan tanda bahwa tenaga kesehatan tersebut tidak mendukung ASIX. Apalagi jika ada promosi susu formula di dalam fasilitas kesehatan.

Bicara tentang promosi susu formula, iklan di TV sudah begitu merasuk ke pikiran bawah sadar masyarakat. Secara tidak disadari iklan-iklan sufor yang ditayangkan di TV begitu menarik, menampilkan seorang anak balita yang lucu dan menggemaskan bisa bernyanyi, terlihat punya banyak akal, dan lain sebagainya. Jadi tanpa disadari di pikiran masyarakat, kalau mau anaknya lucu, minum susu X. Kalau mau anaknya banyak akal, minum susu Y, dan seterusnya. Sebenarnya promosi susu formula juga diatur secara internasional oleh WHO (World Health Organization) lhoo...
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review