Data Statistik Dampak Akibat Tidak Menyusui di Dunia

Sebagian besar ibu, kalau tidak bisa dikatakan semua, mengetahui bahwa air susu ibu (ASI) adalah minuman terbaik untuk bayi. Namun pada kenyataannya, hanya sedikit ibu yang berhasil menyusui anaknya. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan bahwa cakupan ASI di Indonesia hanya 42 persen. Angka ini jelas berada di bawah target WHO yang mewajibkan cakupan ASI hingga 50 persen. Dengan angka kelahiran di Indonesia mencapai 4,7 juta per tahun, maka bayi yang memperoleh ASI eksklusif selama 6 bulan awal hidupnya dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun atau lebih, tidak mencapai dua juta jiwa. Angka ini menandakan hanya sedikit anak Indonesia yang memperoleh kecukupan nutrisi dari ASI. Padahal ASI berperan penting dalam proses tumbuh kembang fisik dan mental anak dengan manfaat jangka panjangnya1
Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan di negara berkembang, terutama di Indonesia baik di perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit diare bersifat endemis juga sering muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan diikuti korban yang tidak sedikit. Untuk mengatasi penyakit diare dalam masyarakat baik tata laksana kasus maupun untuk pencegahannya sudah cukup dikuasai. Akan tetapi permasalahan tentang penyakit diare masih merupakan masalah yang relatif besar.
Angka kesakitan diare sekitar 200-400 kejadian di antara 1000 penduduk setiap tahunnya. Dengan demikian di Indonesia dapat ditemukan sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari penderita ini adalah anak di bawah Lima Tahun (BALITA). Sebagian dari penderita (1- 2%) akan mengalami dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50- 60% di antaranya dapat meninggal. Kelompok ini setiap tahunnya mengalami kejadian lebih dari satu kejadian diare.
Pengertian Diare, adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (>3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah dan/atau lendir. Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. Menurut WHO (2006) diare adalah keluarnya tinja yang lunak atau cair dengan frekuensi 3x atau lebih perhari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja, atau bila ibu merasakan adanya perubahan konsistensi dan frekuensi buang air besar pada anaknya. Jadi diare adalah keluarnya tinja yang lunak atau cair pada balita umur 6 bulan sampai 5 tahun dengan frekuensi lebih dari biasanya atau lebih dari 3 kali dalam sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.
Beberapa perilaku menyebabkan penyebaran kuman enterik dan dapat meningkatkan resiko terjadinya diare, antara lain tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak, dan tidak membuang tinja dengan benar.
Sementara faktor penjamu, dapat meningkatkan insiden, beberapa penyakit dan berpengaruh pada lamanya diare. Faktor-faktor tersebut adalah tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang gizi, campak, dan secara proposional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita2
Sekitar 150.000 anak Indonesia meninggal pada tahun 2012. Sebuah laporan baru UNICEF menunjukkan bahwa jika kecenderungan ini terus berlanjut, dunia tidak akan memenuhi Millennium Development Goal 4 - untuk memotong tingkat kematian balita sebesar dua pertiga pada tahun 2015. Lebih buruk lagi, jika kecenderungan ini terus berlanjut, tujuan tidak akan tercapai sampai tahun 2028.
Jika kita tidak bertindak, akibatnya sebanyak 35 juta lebih anak-anak beresiko meninggal sebagian besar dari penyebab yang dapat dicegah antara tahun 2015 dan 2028, jika masyarakat global tidak segera mengambil tindakan untuk mempercepat kemajuan.
Itu adalah berita buruk. Tapi laporan ini memberikan beberapa kabar baik juga.  Laporan menunjukkan bahwa pengurangan dramatis dalam kelangsungan hidup anak masih memungkinkan. Secara global, jumlah kematian balita setiap tahunnya turun dari estimasi 12,6 juta pada tahun 1990 menjadi sekitar 6,6 juta pada tahun 2012. Selama 22 tahun terakhir, terselamatkan sekitar sembilan puluh juta jiwa.
Menurut laporan tersebut, di Indonesia jumlah kematian anak di bawah usia lima tahun telah berkurang dari 385.000 pada tahun 1990 menjadi 152.000 pada tahun 2012. Namun, jangan lupa bahwa lebih dari 400 anak-anak yang masih meninggal setiap hari di Indonesia. Biasanya, ini adalah anak-anak dari keluarga miskin dan paling terpinggirkan, dan banyak dari mereka menjadi korban penyakit yang mudah dicegah dan diobati seperti pneumonia dan diare. Kita perlu memastikan bahwa layanan pencegahan dan pengobatan tersedia untuk semua anak di Indonesia."3
Laporan Committing to Child Survival: A Promise Renewed mengkaji tren angka kematian anak sejak tahun 1990, menganalisis penyebab utama kematian balita, dan menyoroti upaya nasional dan global untuk menyelamatkan nyawa anak-anak. Kemajuan yang dibuat sampai saat ini adalah karena upaya kolektif pemerintah, masyarakat sipil dan sektor swasta, serta intervensi berbasis bukti, seperti kelambu nyamuk berinsektisida, obat-obatan, vaksin, menyusui yang tepat, gizi suplemen dan makanan dan pengobatan rehidrasi terapi untuk diare .
Di Indonesia, intervensi di bidang kesehatan dan gizi semakin dikaitkan dengan berbagai skema pengurangan kemiskinan seperti PKH Prestasi dan PNPM Generasi. Laporan ini menunjukkan penurunan tajam dalam kematian anak dapat dicegah di seluruh wilayah di dunia, dan di semua tingkat pendapatan nasional, termasuk negara-negara berpenghasilan rendah. Bahkan, beberapa negara termiskin di dunia ini telah membuat keuntungan terkuat dalam kelangsungan hidup anak sejak tahun 1990. Beberapa negara-negara berpenghasilan rendah dengan tingkat kematian anak yang tinggi, seperti Bangladesh, Ethiopia, Liberia, Malawi, Nepal dan Tanzania, telah mengurangi tingkat kematian balita mereka dengan dua pertiga atau lebih sejak tahun 1990, mencapai Millenium Development tujuan 4 untuk pengurangan kematian anak menjelang tenggat waktu 2015 .
Secara global, laju penurunan telah dipercepat dengan tingkat tahunan penurunan tiga kali lipat sejak tahun 1990. Sub-Sahara Afrika juga telah mempercepat laju penurunan, dengan tingkat tahunan pengurangan meningkat lebih dari lebih dari lima kali lipat sejak awal 1990-an. Dalam tujuh tahun terakhir, Afrika Timur dan Selatan telah di antara yang terbaik daerah tampil di dunia, mengurangi tingkat kematian balita pada tingkat tahunan 5,3 persen pada 2005-2012.
Di Indonesia, meskipun banyak kemajuan dalam mengurangi kematian anak dibandingkan dengan tingkat tahun 1990, ada kekhawatiran dengan tingkat penurunan melambat selama 5 sampai 10 tahun terakhir. Pneumonia, diare, dan malaria masih menjadi penyebab utama kematian anak secara global, mengklaim kehidupan sekitar 6.000 anak balita setiap hari. Masalah gizi adalah hampir setengah dari kematian ini.3
Dari begitu banyak kasus kesakitan atau kematian yang dialami oleh balita yang dilaporkan di dunia, ASI merupakan salah satu solusinya.
Mungkin kemudian yang ada berkomentar, jaman dulu saja bayi diberi makan usia 2-3 bulan juga buktinya masih sehat saja. Mari kita bahas mengenai risiko. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, risiko adalah kemungkinan terjadinya peristiwa yang merugikan. Nah, jadi risiko adalah kemungkinan. Bisa terjadi, bisa saja tidak terjadi. Kalau begitu, siapa yang bisa menjamin bahwa anak yang diberi MPASI dini (alias tidak ASI eksklusif) akan baik-baik saja? Dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, kita meminimalisir terjadinya risiko pada kesehatan anak. Sudah banyak kasus yang dimuat di media massa mengenai akibat dari MPASI dini (pemberian MPASI sebelum usia 6 bulan). Dan ini tentu saja seperti fenomena gunung es. Yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang sesungguhnya. Berikut salah satu contoh kasusnya.

AAnak balita bernama Mohamad Ilham (9 bulan) asal Dusun Tegalsari, Kecamatan Kangkung, Kendal, Jawa Tengah, terpaksa dioperasi pembuatan anus di perut. Ilham susah buang air besar akibat diberi makan bubur sejak usia 3 bulan. Kendati sudah bisa buang air besar, perut Ilham tetap membesar dan badannya panas. Bayi malang ini juga kerap menangis ketika hendak buang air besar. Ibunda Ilham, Ngatiyah (39), menjelaskan, awalnya perut Ilham membesar dan tidak bisa buang air besar. Kemudian, Ngatiyah membawanya ke Puskesmas Kangkung I.
Setelah dibawa ke RSUP Dr Kariadi, M Ilham dioperasi untuk pembuatan lubang anus di perut bagian kiri. Namun, lubang anus buatan ini malah membuat Ilham kesakitan dan terus menangis setiap hendak buang air besar.
Dia mengaku terpaksa memberi makan bubur kepada anaknya karena tidak punya uang untuk membeli susu. Sementara itu, air susu (ASI) miliknya kurang lancar.
 
Sementara itu, Istiwati, Kepala Puskesmas Kangkung I, mengaku terkejut ketika kali pertama melihat M Ilham yang diperiksakan oleh ibunya. Badannya panas dan perutnya membesar.
"Anak itu mengidap penyakit ileus. Sebuah penyakit yang terjadi karena pencernaan tidak berfungsi. Penyebabnya, anak diberi makanan-makanan keras yang belum waktunya," kata Istiwati. 
Istiwati menambahkan, M Ilham sebenarnya memiliki anus. Namun, bagian itu tidak bisa digunakan untuk buang air besar karena ada kelainan pada pencernaan. Jalan satu-satunya adalah pembuatan anus di perut dengan cara operasi. Setelah tiga bulan, anus buatan itu kembali ditutup, dan anus aslinya difungsikan kembali. (Kompas, 12 Maret 2014).

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives