Saturday, September 30, 2017

How Those Little Peanuts of Mine Changed Me

1 comments
Saya senang anak kecil sejak dulu. Senang melihat anak kecil, mengajak bermain, lihat video dan sebagainya. Dulu malah saya pernah bercita2 jadi guru TK, bahkan pernah berniat buka daycare sendiri 😄 

Anak kecil itu begitu mengagumkan. Pandangan matanya yang jernih, bening dan polos. Jelas tanpa dosa. Saat saya magang di sebuah RS sebagai persyaratan kuliah S2 saya, kebetulan RS tersebut memiliki daycare. Wah setiap hari saya selalu mampir ke sana. 

Meski setelah menikah, saya sempat menunda kehamilan karena emosi saya belum stabil setelah kepergian mama, tapi saya selalu mencintai anak2. Setelah saya mempunyai anak sendiri, barulah saya sadar betapa lewat anak2 ini, Allah menunjukkan kekuasaanNya.

Sedikit saya ceritakan background saya. Sebelum menikah, saya dibiasakan mama saya untuk mandiri, at least secara fisik. Saya harus bisa kemana-mana sendiri, harus berani mengurus keperluan saya sendiri, orangtua tinggal menyediakan dananya 😁
Jadi saya terbiasa menyusun jadwal harian, mau kemana saja hari ini, jam berapa sampai jam berapa supaya agenda selanjutnya tidak terganggu.

Setelah menikah, kurang lebih masih sama, karena suami tahu saya tidak bisa diam saja di rumah. Kalau saya tidak ada kerjaan, saya justru menjadi destruktif, contohnya belanja ke mall, ngecekin suami lagi dimana sama siapa dan lain sebagainya 🙈

Setelah punya anak, dunia rasanya terbalik. Kebetulan mama saya sudah meninggal 3 tahun sebelum saya punya anak, mertua hanya datang menjenguk 2 hari saat lahiran, bapak saya masih kerja dan saya anak pertama. Saya terbiasa mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk juga sudah mengikuti kelas edukasi menyusui saat hamil anak pertama. Tapi saat anak pertama saya lahir, rasanya sangat mengubah dunia saya. Selain mungkin pengaruh hormon, Ayra (nama anak pertama saya) selalu bangun saat malam sampai sekitar usia 2-3 bulan. Saat pagi sampai siang dia lebih banyak tidur, bahkan saat diajak ke mall yang ramai pun, dia tidak terbangun. Tapi begitu mulai jam 22, dia langsung bangun sampai sekitar subuh jam 4-5 baru dia akan tidur lagi. Sampai waktu itu suami stres berat. Karena dia pagi harus kerja lagi. Kami pun jadi sering bertengkar karena kondisi fisik kami sama2 capek.

Belum lagi untuk menyusui Ayra, saya juga sempat mengalami puting lecet, sampai2 terkena air saja rasanya sangat sakit. Saat pagi, suami dan bapak saya berangkat kerja, tinggallah saya dan Ayra saja. Jadi setiap pagi saya sudah stres duluan. Takut apa lagi yang akan terjadi hari itu. Semua serba tidak pasti. 
Awalnya saya yang bisa kemana2 sendiri, tiba2 saya menjadi powerless dengan kehadiran si kecil. 

Semua baru menjadi stabil sekitar Ayra usia 6 bulan. Rutinitas mulai stabil dan saya mulai bisa menikmati pekerjaan saya lagi dengan meminta ke atasan untuk menjadi flex-time worker.

Kepercayaan diri saya mulai meningkat, karena saya merasa bisa mengelola satu anak (dan karena pertimbangan sebelumnya saya ada endometriosis yang meningkatkan kemungkinan infertil), maka kami memutuskan hamil lagi saat Ayra usia 22 bulan. 
Alhamdulillah Allah cepat kembali mempercayakan seorang anak pada kami.

Kali ini kami merasa lebih siap. Tapi lagi2 Allah Maha Kuasa, Dia Tahu apa yang kami butuhkan. Maka lahirlah anak kedua kami dengan kelainan jantung bawaan. Terdiagnosis saat usia 1 hari, tapi saya tidak ada masalah menyusui sejak awal.
Lagi2 dengan kasus PJB Axel (nama anak kedua kami) ini, kami kembali diberi ujian dalam bentuk yang berbeda. Mungkin ini adalah ujian tahap selanjutnya.

Perjalanan kami memeriksakan Axel ke beberapa dokter dan segala ketidakpastian yang menyertainya seperti mengingatkan saya bahwa semua hal di dunia ini memang tidak pasti. Setiap 3 bulan dilakukan echo untuk melihat kondisi jantungnya, kami selalu cemas menunggu hasilnya. Hingga akhirnya di usia 10 bulan Axel harus operasi jantung terbuka di Jakarta. Semua diiringi ketidakpastian.

Allah mengajarkan banyak hal melalui kedua anak saya. Ayra mengajarkan hal dari tidak ada menjadi ada dengan sempurna, dari kecil menjadi besar atas kekuasaan Allah. Axel mengajarkan kekuatan di dalam diam, kesabaran di dalam ketidakpastian.
Semoga Allah terus membimbing keluarga kami. Amiinn yra

Friday, September 29, 2017

Extroverted Introvert

4 comments
Sampai beberapa bulan lalu, saya hanya tahu dua tipe kepribadian manusia: extrovert dan introvert. Dan saya merasa saya bukan salah satu dari dua kategori tersebut. Hingga akhirnya beberapa bulan lalu saya membaca artikel tentang extroverted introvert. Aha! I belong to this group!

Memang pada semua pengkategorian, apalagi pada manusia, biasanya akan berupa spektrum, tidak bisa hanya berupa pengkotakkan dengan garis jelas. Karena manusia itu unik, mempunyai banyak faktor yang terlibat. Oleh karena itu, mengelola manusia lebih susah dibanding mengelola benda mati 😁

Apa sih extroverted introvert ini?
Saya jabarkan sesuai yang saya rasakan yaaa.
  1. Saya suka berada di keramaian manusia, tapi tidak selalu suka untuk diajak atau mengajak orang lain untuk mengobrol. Kalau sekadar say hi, tidak masalah 😊
  2. Saya tidak terlalu suka ikut kegiatan arisan ibu2, dimana agenda kegiatannya tidak jelas, semua ibu bicara pada waktu yang bersamaan sambil ketawa2 atau bergosip2. Bukannya saya tidak suka bergosip *eh* tapi saya bingung aja harus fokus kemana kalau semua sama2 bicara. Saya lebih suka arisan tapi diisi dengan kegiatan bermanfaat misalnya pengajian atau kelas parenting yang jadwal atau isinya sistematis dan terstruktur.
  3. Saya suka bicara di depan orang banyak, tapi butuh waktu untuk mempersiapkan diri. Bukan mempersiapkan materinya yaa, tapi lebih ke arah mempersiapkan mental dan mood 😊 tapi seiring bertambahnya pengalaman, saya bisa lebih cepat untuk mempersiapkan diri.
  4. Saya butuh waktu untuk sendirian. Benar2 sendiri, yang mana saya cuma di rumah saja. Jadi misalkan dalam seminggu sudah ada 4-5 hari dimana saya bertemu dan berbicara dengan orang banyak, saya butuh 2-3 hari untuk menyendiri di rumah. Biasanya kegiatan saya untuk berbicara di depan orang banyak, tidak memakan waktu satu hari penuh, jadi biasanya kalau pagi sampai sore sudah bicara banyak, sore sampai malam saya tidak bisa bertemu orang lain lagi. Saya butuh recharge energi by just snuggling with my kids 😊
  5. Seringkali saya lebih suka bekerja sendiran meski di tempat ramai daripada harus bekerja berkolaborasi dengan banyak orang. Saya bisa bekerja dalam tim tapi lebih suka jika pekerjaannya sudah dibagi tanggung jawab per orang. Baru setelah itu didiskusikan bersama.
  6. Saya juga lebih suka hang out dengan 1-4 teman daripada kumpul dengan banyak teman. Alasannya hampir sama dengan nomer 2. Dengan alasan itu pula, mungkin saya tidak termasuk cewek populer jaman SMA dulu 😄
Dulu saya merasa minder dengan teman perempuan yang selalu menjadi pusat perhatian, baik guru maupun teman lainnya. Terutama jaman SMP dan SMA ya. Dengan semakin bertambahnya umur dan pengalaman, saya merasakan bahwa menjadi populer dan selalu under the spotlight tidaklah penting. 

Hal ini juga yang ingin saya ajarkan pada anak perempuan saya nantinya. Semoga bisa terlaksana 😊

*Tulisan ini terinspirasi dari http://www.lifehack.org/297304/19-real-life-examples-extroverted-introvert-you-dont-get-confused

Thursday, September 28, 2017

Pendidikan Anak Usia Dini: Perlukah?

1 comments
Kali ini saya akan menulis tentang perlu tidaknya pendidikan anak usia dini, bukan karena saya berkompeten di bidang ini, tapi sekadar sharing menurut pengalaman saya.
Sebagian orang mengatakan anak tidak perlu sekolah terlalu dini, sebagian lain menyatakan sebaliknya. Masing-masing memiliki argumentasinya. Sebenarnya menurut saya ada kelebihan dan kelemahan dalam mengikutsertakan anak dalam PAUD.

Kelebihannya:

  1. Kegiatan PAUD lebih banyak bermain secara fisik
  2. Mengajarkan rutinitas yang baik kepada anak, misalnya cuci tangan sebelum makan, antri saat mau cuci tangan, makan dengan posisi duduk, dan sebagainya
  3. Bertemu lebih banyak anak dengan usia sepantaran
  4. Mudah beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda
Kekurangannya:
  1. Anak mungkin merasa terpaksa jika tidak mengawali sekolahnya dengan cara yang baik. Misalnya orang tua memaksa anak untuk sekolah di sekolah A, padahal anak tidak suka di sekolah tersebut.
  2. Orangtua merasa tanggungjawab pendidikan anak sudah dipegang oleh sekolah
  3. Pengeluaran tambahan 
Saya pribadi memasukkan anak saya yang pertama di usia 2 tahun 2 bulan, masuk kelas Toddler yang hanya 3x seminggu dan 2 jam per hari. Banyak manfaat yang saya rasakan setelah anak saya sekolah. Karena saya dan suami bekerja, ibu saya sudah meninggal, bapak saya masih aktif kerja dan mertua di luar kota, maka otomatis anak hanya bersama dengan pengasuh. Alhamdulillah pekerjaan saya memiliki waktu yang fleksibel, jadi saya hanya perlu ke kantor sekitar 3-4 jam per hari dan sekitar 3-4x per minggu. Pekerjaan bisa saya kerjakan di mana saja, tidak perlu datang ke kantor.

Saya merasakan Ayra bisa mempunyai kebiasaan yang baik, seperti cuci tangan sebelum makan, antri saat cuci tangan karena harus bergantian dengan teman, belajar berbagi menggunakan fasilitas sekolah. Saya merasa kalau Ayra hanya bersama saya, saya tidak yakin saya mampu membiasakan hal tersebut karena dia akan terbatas dan merasa terlindungi dengan saya. Selain itu, Ayra hafal surat-surat pendek dan doa-doa sehari-hari (yang saya sendiri banyak tidak hafal :D).
Pengalaman pertama sekolah Ayra ada di sini.

Sebelum memilih sekolah, sebaiknya kita mendatangi beberapa sekolah. Saya sempat mendatangi beberapa sekolah di dekat rumah. Review bisa dilihat di sini (tapi ini review tahun 2014 yaa :) ).
Setelah mendapatkan sekolah yang diincar, sebaiknya anak diikutkan trial class beberapa kali supaya kita bisa melihat bagaimana guru memperlakukan anak, bagaimana anak berinteraksi dengan guru dan teman-temannya, bagaimana kondisi fisik sekolah, dan lain sebagainya. Pengalaman trial Ayra ada di sini.

Yang penting untuk dicatat adalah kondisi setiap keluarga berbeda. Mungkin ini adalah keputusan terbaik untuk keluarga kami, tapi mungkin juga tidak cocok untuk keluarga lain. Silakan didiskusikan dengan suami semua alternatif untuk anak. Yang pasti orangtua pasti akan berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya, oleh karena itu, jangan berhenti belajar. Semangat!

Wednesday, September 27, 2017

Hospital Shopping

1 comments
Belanja fasilitas kesehatan (selanjutnya disingkat faskes) merupakan salah satu rekomendasi saya untuk calon ibu yang berniat dan berkomitmen untuk menyusui buah hatinya. Hah? Apa itu?
Faskes, salah satunya adalah rumah sakit (selanjutnya disingkat RS) merupakan faktor utama penentu berhasil tidaknya ibu menyusui anaknya di hari2 awal.  Seringkali calon ayah dan ibu sudah berniat menyusui, sudah berkomitmen dan sudah membekali diri dengan mengikuti kelas laktasi, namun gagal karena pihak RS (baca: tenaga kesehatannya) "menghalangi" proses menyusui.

Sudah sering kita dengar bahwa saat melahirkan, ternyata bayi langsung dibawa ke kamar bayi dan ibu ditanyai mengenai merk sufor yang akan digunakan. Tanpa menanyakan apakah ibu mau menyusui. Malah ada yang lebih parah, ibu sudah menyatakan mau menyusui, namun alih2 mendukung, tenaga kesehatan malah mengecilkan semangat si ibu. Misalnya dengan berkata "lha ASInya belum keluar gitu bu, mau nyiksa anaknya ya?". Padahal tahukah anda, pada hari 1-3 ASI yang keluar masih merembes, jumlahnya sedikit dan berwarna kekuningan agak kental yang disebut kolostrum. Lagipula ukuran lambung bayi baru lahir baru sebesar kelereng! Jadi memang ASI yang keluar ya baru sedikit menyesuaikan ukuran lambung bayi.

Standar emas pemberian makan bayi oleh WHO, antara lain:
  1. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) selama minimal 60 menit, dilanjutkan dengan rawat gabung
  2. ASI eksklusif sampai bayi usia 6 bulan
  3. Mulai usia 6 bulan diberi Makanan Pendamping ASI (MPASI) berkualitas dan berbahan lokal
  4. Terus menyusui hingga 2 tahun atau lebih
Standar ini merupakan langkah-langkah agar bayi dapat tumbuh optimal. Yang harus dilakukan pertama kali setelah melahirkan adalah Inisiasi Menyusu Dini (selanjutnya disingkat IMD). IMD adalah tata laksana peletakan bayi di perut ibu segera setelah lahir minimal selama 60 menit. Kalau RS yang tidak paham mengenai ini, biasanya tidak akan melaksanakan IMD. Padahal IMD ini sudah diwajibkan oleh pemerintah lho...sudah tertuang di Peraturan Pemerintah no. 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Prosedur IMD ada tahap2nya yang akan saya jelaskan pada postingan terpisah yaa...

Setelah dilakukan IMD, bayi dan ibu yang dalam kondisi stabil harus dirawat bersama dalam kamar yang sama, yang biasa disebut rawat gabung. Jadi sudah bukan jamannya lagi bayi diletakkan terpisah di kamar bayi. Apa saja manfaat rawat gabung? Tunggu postingan berikutnya yaaa...

Lebih lanjut lagi, apabila ibu dan ayah sudah paham lengkah2 IMD dan rawat gabung, namun ternyata pihak RS tidak mengijinkan, lebih2 saat bayi terpisah di kamar bayi, ibu jadi kesulitan untuk menyusui anaknya. Sedangkan di kamar bayi, bisa saja perawat memberikan sufor dengan berbagai macam alasan.
Inilah pentingnya kita "belanja" faskes. Kita perlu memilah dan memilih RS tempat kita akan melahirkan.

Tips dalam mencari faskes yang paham laktasi:

  1. Bekali diri kita sendiri dulu pengetahuan mengenai menyusui selengkap-lengkapnya dari sumber yang kompeten dan bebas conflict of interest
  2. Tanya ke teman atau saudara yang pernah melahirkan di RS tersebut dan tanyakan pengalamannya
  3. Bila sudah ada beberapa calon RS incaran, siapkan beberapa pertanyaan saat berkunjung ke RS tersebut
  4. Saat berkunjung, tanyakan pada resepsionis apakah bisa IMD, kalau bisa, IMD dilakukan berapa lama (jangan berhenti sampai pertanyaan bisa atau tidak saja. Tanyakan pemahaman petugas RS terkait prosedur IMD yang benar. Jika jawaban benar, maka petugas benar-benar memahami IMD. Jika tidak, berarti itu hanya jawaban normatif saja). Tanyakan pula bayi setelah lahir ditaruh di kamar bayi atau gabung dengan ibunya (jangan langsung menanyakan bisa rawat gabung atau tidak yaa...karena secara normatif mereka pasti akan langsung menjawab iya) 
  5. Jika sudah, minta hospital tour, hal ini umum dilakukan calon pasien untuk bisa melihat fasilitas yang ditawarkan RS. Saat hospital tour, jangan lupa mampir ke kamar bayi yaa...lihat apakah ada bayi di sana dan bagaimana perlakuan mereka
  6. RS sayang bayi (baby-friendly hospital) pasti menerapkan kebijakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (10 LMKM) yang sudah tertuang juga dalam PP no. 33 Tahun 2012. Kebijakan ini akan saya bahas pada postingan berikutnya yaa...


Happy shopping!

Tuesday, September 26, 2017

Peran Suami dalam Menyusui

3 comments
Kalau saya menyebut kata menyusui, pasti yang terbayang di benak adalah seorang wanita. Oke itu tidak salah.
Kalau saya bilang suami juga punya peran dalam menyusui, beberapa orang mungkin akan mengernyitkan dahi. Apa tidak salah tuh?
Tidak, saya tidak salah ketik kok 😊

Suami juga memegang peranan penting dalam kesuksesan menyusui. Apa saja itu?
  1. Dukungan secara fisik. Pada hari awal pasca melahirkan, seorang ibu bisa merasakan kelelahan luar biasa akibat proses persalinan. Jika suami dapat membantu mengerjakan tugas rumah atau membantu memenuhi kebutuhan istri saat istri masih kesulitan berjalan misalnya, tentu ini akan membantu istri untuk lebih fokus pada menyusui bayinya saja.
  2. Dukungan secara emosi. Tahu kan yaaa...wanita ini makhluk penuh emosi, lebih-lebih pasca persalinan, dimana hormon memang sedang "kacau". Perubahan dari hormon hamil menjadi hormon menyusui dalam 24 jam. Alhasil wanita jadi lebih sensitif daripada biasanya. Pada masa ini pula, jika suami dan keluarga dekat tidak paham, rentan terjadi depresi post partum. Untungnya menyusui bisa menurunkan risiko ini. Nah jika suami paham bahwa masa2 ini rentan, tentu suami akan berupaya menjaga perasaan istrinya. Terutama biasanya para komentator dadakan dari para kerabat yang menjenguk. Misalnya komentar "wah payudaramu kecil, masa keluar ASInya". Mungkin buat orang normal terdengar biasa saja, tapi para ibu ini masih sensitif lho...
  3. Dukungan finansial. Sebenarnya menyusui jauh lebih murah (dan praktis tentunya) dibanding memberikan susu formula. Ini sudah ada penelitiannya lhoo... para suami tinggal menyediakan dana untuk baju menyusui, perlengkapan menyusui (seperti bantal menyusui dan nursing apron...tapi ini pun tidak wajib) dan perlengkapan ASI perah (seperti botol kaca penyimpanan ASIP, cooler bag dan breastpump...kalau bisa perah dengan tangan malah lebih baik 😊). 
Peranan suami juga sebaiknya sejak masa kehamilan, dimana calon ibu sebaiknya mengajak para suami saat mengikuti kelas edukASI laktasi. Sehingga suami juga paham mengenai prinsip produksi ASI, paham bagaimana hormon prolaktin dan oksitosin bekerja, tahu mana yang fakta dan mana yang mitos, dan sebagainya.
Sehingga kalau ada kerabat yang menjenguk, atau mungkin para nenek (baik ibu kandung maupun ibu mertua) yang mengomentari macam2, para ayah bisa menjawab sesuai pengetahuan yang benar.

Ada beberapa wanita mungkin mengeluh, tidak semua laki-laki mau dan bersedia ikut berperan dalam kegiatan rumah tangga. Memang ini terkait dengan pola budaya dan kebiasaan keluarga masing-masing. Ada yang memang para lelaki yang tidak terbiasa mengurus urusan rumah tangga, urusan anak, apalagi urusan menyusui. Jangan berkecil hati dulu...insyaAllah bisa kita ubah perlahan. Cari celah waktu dan kesempatan yang tepat untuk memasukkan informasi tentang menyusui ini kepada suami. Jangan langsung frontal dan terkesan menuntut atau menyalahkan yaaa...

Ibu juga harus mengedukasi diri sendiri terlebih dulu, sebelum mengajarkan pada suami. Perlu effort yang lebih untuk menghadapi suami seperti ini. Tapi manfaatnya akan panjang ke depan. Karena pola pengasuhan bersama ini akan berdampak juga pada masa depan anak, bukan sebatas pada masa menyusui saja. Nanti akan ada masanya membahas pilihan sekolah anak, dan lain sebagainya. Jangan patah semangat yaaa!

Karena bikinnya berdua, mengurusnya juga berdua dong 😊

Monday, September 25, 2017

Me and My Most Memorable Moment in My Life

4 comments
Mungkin pengalaman hidup saya tidak semenarik orang lain, tapi ada dua kejadian besar di kehidupan saya yang membuat saya semakin percaya dengan keberadaan Sang Pencipta.
Saya anak pertama dari dua bersaudara. Lahir di Mataram sampai berumur 7 tahun karena mengikuti orang tua yang berdinas di sana, kemudian pindah ke Surabaya sampai sekarang.
Kami keluarga biasa saja namun alhamdulillah kebutuhan kami selalu terpenuhi. Ibu saya seorang yang bekerja dan bisa dikatakan cukup sibuk, namun beliau selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan anak-anaknya. 

Fast forward, karena kesibukan ibu saya, saya jarang bertemu sehingga pada masa remaja saya merasa tidak dekat dengan beliau. Apalagi masa remaja yang notabene biasanya menjadi masa paling nakal. Saya sering bertengkar dengan ibu saya. Rasanya kami tidak pernah bisa nyambung. Beda dengan adik perempuan saya. Namun tetap, semua kebutuhan saya selalu dipenuhi.

Hingga saya lulus S1 pada 2006, ibu meminta saya untuk langsung melanjutkan S2. Karena saya juga tidak punya rencana yang jelas untuk masa depan, saya menuruti permintaan ibu namun pilihan jurusan S2 mutlak pilihan saya. Saya bilang saya mau S2 Administrasi Rumah Sakit. Kalau tidak lulus dalam seleksi penerimaan, ya sudah saya mau kerja dulu saja. Qadarullah saya dinyatakan lulus. Sejak itu komunikasi kami membaik, mungkin karena otak saya juga sudah mulai dewasa 😆

Baru masuk semester 1, ibu divonis menderita kanker paru. Dan tipe yang tidak dapat dioperasi (inoperable) karena letaknya. Jadi ibu saya hanya dapat minum obat untuk memperpanjang hidupnya, bukan untuk menyembuhkannya. Namun ibu saya masih tetap beraktivitas seperti biasa dan masih tetap sibuk. Desember 2008, saya dilamar oleh laki2 yang sekarang menjadi suami saya. Pada pertengahan semester akhir S2, yaitu April 2009, ibu saya untuk pertama kalinya di hidup saya, dirawat inap di RS. 4 hari yang sangat panjang buat saya. Karena adik saya baru masuk kuliah, masih ada program maba, jadi saya yang menunggu hampir 24 jam setiap hari di RS. Saya, si anak nakal, yang melihat semua detik demi detik terakhir hidup ibu saya. 

Saya ingat betul pertanyaan ibu saya di malam terakhirnya, saat rasa sakitnya sudah tidak tertahankan, ibu saya bertanya pada perawat "jadi sudah tidak ada obat lagi yang bisa dimasukkan?"
Oh ya, kedua orang tua saya dokter, jadi sebenarnya ibu saya juga paham perjalanan penyakit kanker.
Dengan raut menyesal, perawat bilang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Saya mengingat momen itu dengan sangat jelas. Malam itu terasa amat panjang, ibu saya mulai menurun kesadarannya, hingga akhirnya keesokan paginya seusai saya sholat subuh, beliau meninggal. 

Ibu saya yang sering menjadi partner bertengkar saya, yang baru saja bisa menjadi teman cerita, yang berpesan agar saya menikah setelah lulus S2, pergi meninggalkan kami semua. Sedih dan kecewa karena saya baru sebentar merasakan kedekatan ibu-anak, tapi juga lega karena beliau sudah lepas dari rasa sakit yang terlalu. Pada peristiwa ini Allah menunjukkan proses kematian yang akan dilalui oleh semua orang, tidak mengenal status dan jabatan. Dari yang kuat dan selalu terlihat aktif, menjadi seorang yang lemah dan meninggal.

Ibu saya meninggal tepat ketika saya sedang menyelesaikan tesis. Saat itu dunia saya terbalik. Dari seorang anak yang semua kebutuhannya dicukupi dan tugasnya hanya belajar, menjadi seorang anak yang harus ikut mengatur semua pekerjaan rumah. Saya buta sama sekali dengan urusan rumah.
Alhamdulillah Allah masih menguatkan saya dan saya bisa lulus tepat waktu, 5 bulan setelah ibu saya meninggal. Sebulan kemudian saya menikah, sesuai permintaan ibu saya.

Saya seperti mati rasa. Untungnya suami paham betul kondisi saya. Saya menunda kehamilan karena perasaan saya masih tidak jelas. Setahun kemudian baru saya mau hamil. Dan cobaan pun datang. Saat dinyatakan positif hamil untuk pertama kalinya, dokter juga menemukan ada kista coklat (endometriosis) di ovarium saya. Dan dokter memperingatkan bahwa janin saya tidak akan kuat dengan kondisi ada kista tersebut. Benar saja, usia kandungan 8 minggu, saya keguguran. Saya harus kuret karena mengalami perdarahan. Cerita lengkapnya ada di sini. Sebulan kemudian saya dijadwalkan operasi pengambilan endometriom, cerita lengkapnya ada di sini.
Melalui pengobatan cukup panjang selama 7 bulan, akhirnya saya hamil lagi. 9 bulan kemudian anak pertama saya, Afshayra Charmaraiza Addyn, lahir pada tanggal 16 Mei 2012. Cerita selengkapnya ada di sini.

Karena punya riwayat endometriosis, saya tidak berani menunda kehamilan lagi. Jadi saat anak pertama usia 22 bulan, saya hamil lagi. Kehamilan juga tidak bermasalah. Pada 27 Desember 2014, anak kedua saya, Axelio Rafalaric Addyn, lahir.
Alhamdulillah anak kami sudah sepasang.
Namun ternyata kebahagiaan itu hanya sesaat. Saat masih di RS, dokter mencurigai suara bising jantung anak saya.
Dan ternyata benar, anak saya didiagnosis mengalami kelainan/penyakit jantung bawaan (PJB). Cerita selengkapnya ada di sini. Sekali lagi dunia saya runtuh. Setelah (merasa) berhasil melahirkan dan membesarkan anak pertama dengan sehat sempurna dilanjutkan perjalanan menyusui yang juga lancar sampai menyapih Ayra di usia 30 bulan dan saya sedang hamil 32 minggu (selengkapnya ada di sini dan sini), Allah memberikan tantangan yang baru untuk saya. Perjalanan menyusui Axel yang mempunyai PJB ada di sini.


Perjalanan merawat Axel juga penuh tantangan, terutama secara emosi. Singkat cerita, Axel harus operasi jantung terbuka (open heart surgery) di usia 10 bulan. Cerita selengkapnya ada di sini. Tahap ini juga berat menurut saya, rasa sayang orang tua pada anaknya kami rasakan dengan sangat saat pengalaman Axel operasi ini. Bagaimana saya rela melakukan apa saja untuk Axel, bagaimana tubuh mungilnya berada di ICU tanpa boleh saya tunggu selama 3 hari, banyaknya ketidakpastian sejak proses pendaftaran operasi, selama proses operasi dan setelahnya. Tidak ada yang tahu operasi jantung akan berlangsung berapa lama, atau setelah operasi bagaimana Axel akan beradaptasi dengan kondisi jantungnya yang baru. Semua tidak bisa diperkirakan. Pada saat itulah saya sadar betul, hidup kita benar2 milik Allah.

Beberapa kejadian di hidup saya ini tidak pernah saya sesali, semakin membuat saya semakin dewasa. Saya percaya Allah telah merencanakan hidup saya dengan sempurna. Tidak ada yang sia-sia. Meskipun pengalaman itu menyedihkan dan menakutkan, tapi insyaAllah tidak akan pernah saya lupakan. Perasaan saya di setiap kejadian itu sebisa mungkin saya ingat, oleh karena itu sering saya tulis di blog, sebagai pengingat saya, bahwa saya cuma manusia biasa, hamba yang bertugas untuk beribadah kepada Sang Pencipta.


*Tulisan ini untuk memenuhi Tantangan 1 ODOP Batch 4

Sunday, September 24, 2017

Persiapkan Sekarang, Jangan Ditunda

12 comments
Sependek pengalaman saya menjadi konselor/konsultan laktasi, sering saya bertemu dengan ibu yang kesulitan menyusui anaknya. Banyak mitos yang mereka percayai yang menghambat kelancaran menyusui.
Indonesia memang kaya akan budaya, tradisi dan mitos yang memang harus kita lestarikan. Namun jika mitos tersebut sampai mengganggu kesehatan, dalam hal ini menyusui, kenapa masih percaya?
Boleh kita mengetahui tapi tidak perlu dipraktikkan kalau memang merugikan kesehatan kita 😊

Beberapa mitos tentang menyusui yang pernah saya dengar:
  1. Ibu yang habis melahirkan dilarang tidur siang sampai 40 hari pasca bersalin. Jelas ini mitos! Kebayang nggak habis melahirkan, badan rasanya sakit dan capek semua, tapi kita dilarang istirahat siang. Belum lagi kalau bayinya tipe yang malamnya begadang (bayi beda2 yaa). Ditambah lagi paginya menerima tamu yang ingin menjenguk ibu dan bayi. Rasanya stres ya... ini akan mempengaruhi menyusui juga lho, karena akan mempengaruhi hormon oksitosin yang bertugas melancarkan keluarnya ASI.
  2. Ibu dilarang makan panas atau dingin karena katanya ASI yang keluar juga akan jadi panas atau dingin. Mitos! Payudara wanita bukan dispenser air yang bisa keluar panas dan dingin yaaa....ASI keluar tetap sesuai suhu tubuh ibunya 😊
  3. Ibu harus makan daun katuk supaya ASInya banyak. Boleh kalau memang ibu suka makan daun katuk. Kalau tidak suka, tidak perlu dipaksa. Karena prinsip produksi ASI adalah supply by demand, artinya semakin banyak ASI yang keluar melalui hisapan bayi, semakin banyak juga produksinya. Hal ini terjadi secara otomatis berdasarkan kerja dari hormon prolaktin. Jadi tidak ada makanan dan minuman super yang wajib dikonsumsi oleh busui 😊
  4. Masih banyak lagi lainnya
Bagaimana caranya supaya kita bisa tahu mana mitos mana fakta?
Untuk itulah kita perlu belajar dasar menyusui secara benar. Bagaimana prinsip produksi ASI, apakah bentuk puting dan payudara berpengaruh terhadap kelancaran menyusui, dan lain sebagainya.

Satu lagi, belajarlah sebelum anak lahir yaaaa...karena begitu anak sudah lahir, 99,99% ibu akan sangat sibuk menerima tamu dan menyesuaikan diri dengan rutinitas barunya 😊
Jangan lupa ajak suami...next post akan saya tuliskan peran suami dalam hal ini. Semoga bermanfaat.

Saturday, September 23, 2017

Kenalan sama Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI dari WHO yuk!

4 comments
Kalau baca blog saya dari awal, mungkin sudah tahu ya kegiatan saya sehari-hari di bidang apa :)
Saya adalah seorang konselor menyusui sejak 2013, pengurus AIMI (Asosisasi Ibu Menyusui Indonesia) Cabang Jawa Timur sejak 2012 dan baru-baru ini dinyatakan lulus sebagai IBCLC (International Board Certified Lactation Consultant) pada Juni 2017.
Kebetulan saya jatuh cinta pada bidang ini sejak mengikut kelas edukasi menyusui AIMI Jatim saat hamil anak pertama, dan sangat menganjurkan semua calon ayah dan ibu untuk mengikutinya.

Kali ini saya mau menulis tentang Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI atau dalam bahasa Inggis, International Code of Marketing of Breast Milk Substitutes dari WHO, selanjutnya saya singkat Kode. Kode ini untuk pertama kali ditulis pada tahun 1981 sebagai jawaban atas segala "kekacauan" yang ditimbulkan oleh perusahaan produsen dan distributor susu formula. Merunut sejarahnya, awalnya susu formula (selanjutnya disingkat sufor) diciptakan pada masa perang dunia, karena banyak bayi yang lahir sedangkan ibunya meninggal. Berlanjut lagi pada masa revolusi industri dimana para ibu meninggalkan anaknya untuk bekerja. Namun semakin lama pemanfaatan sufor semakin disalahgunakan. Bayi yang ibunya masih sehat walafiat juga diberi sufor. Ibu juga merasa tidak pede kalau tidak memberi sufor pada anaknya. Padahal, sufor bukanlah barang yang steril seperti halnya ASI. Maka makin meningkatlah angka kesakitan dan kematian bayi di seluruh penjuru dunia. Akhirnya diterbitkanlah Kode pada tahun 1981 untuk mengatur praktik marketing perusahaan sufor. Jadi sebegitu jahatnya kah susu formula? Tentu tidak. Susu formula bisa diberikan pada bayi dengan indikasi medis tertentu. Apa saja itu? Silakan baca di sini yaaa...


Lanjut lagi dengan Kode. Jadi sebenarnya produsen dan distributor sufor diberikan peraturan internasional untuk menjalankan praktikk marketingnya. Sebenarnya apa sih praktik marketing yang dipermasalahkan?

Contohnya nih yaaa.....saat hamil, ibu ikut senam hamil, dimana ada slot waktu yg diberikan pada pihak sponsor yang (katanya) memberikan edukasi menyusui, padahal sebenarnya ada informasi2 yang misleading. Diminta datanya, kemudian setelah melahirkan ibu ditelpon oleh sales sufor tersebut. Kelihatannya baik ya? Menanyakan kabar ibunya, tapi ujung2nya akan ada pertanyaan, "ibu ASInya cukup kah? Bayinya lebih sehat lagi kalau diberi tambahan susu lho bu".
Mulai lah ibu yang awalnya merasa baik2 saja dengan ASInya, tiba2 jadi merasa tidak pede. Itu hanya satu kasus cerita yaaa...belum lagi kalau di supermarket, banyak iming2 hadiah ini itu apabila ibu membeli sufor.
Akhirnya ditambahlah sufor untuk anaknya. Memangnya kenapa sih kok nggak boleh tambah sufor? Sufor juga memiliki risiko pada kesehatan anak lhooo....silakan baca di sini :)


Kode secara lengkap bisa dibaca dan didownload di sini yaa...

Di Indonesia sendiri Kode sudah diadopsi dan dimasukkan dalam regulasi yaitu dalam Peraturan Pemerintah no 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif beserta turunannya (Permenkes).

Pada tahun 2017, ada update dari WHO yang salah satunya memasukkan unsur lain yang termasuk diatur dalam Kode, seperti contohnya susu formula lanjutan, selain itu juga melarang tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan untuk menerima donasi dari perusahaan produsen dan distributor sufor, meski untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan, karena akan menyebabkan conflict of interest. Apa sih conflict of interest itu? Contohnya nih yaaa.....seorang nakes yang dibiayai pelatihan dari produsen sufor pasti akan memiliki "hutang", at least secara moral, dia akan berusaha untuk memberikan manfaat pada produsen sufor tsb. Dengan apa caranya? Tentu saja dengan mempromosikan produknya dong, baik secara eksplisit maupun implisit :D



Kode yang diupdate 2017 bisa dibaca dan didownload di sini :)


Lagi2 tidak bosan2 saya mengingatkan, memang sumber informasi banyak tersebar dimana2 jaman sekarang, maka carilah sumber informasi yang valid, kompeten dan bebas conflict of interest :)





Friday, September 22, 2017

Perspektif Lain dari Kasus Perumahsakitan

4 comments
Kali ini saya ingin menulis tentang perspektif lain dari suatu kasus perumahsakitan. Sering kita baca di koran atau kita lihat di TV, kasus penelantaran pasien di RS, bahkan ada yang sampai meninggal. Kasus terakhir adalah bayi Debora yang meninggal di Jakarta.
Saya baca beberapa berita di koran dan di media sosial. Diberitakan Debora meninggal karena ditolak pihak RS untuk dirawat di PICU (Pediatric Intensive Care Unit). Alasannya karena Debora ini menggunakan kartu BPJS. Hampir semua media memberitakan seperti itu. Ada tulisan yang juga memaparkan kronologisnya. Bahwa Debora demam tinggi dan sesak napas, sehingga dilarikan ke RS terdekat, dan langsung ditangani di IGD. Setelah penanganan pertama untuk menstabilkan kondisi bayi, dokter menyarankan dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Namun setelah tahu usia Debora adalah 4 bulan, dokter menggantinya ke PICU.

Nah dari sepotong berita ini saja, saya menyimpulkan, kondisi Debora ini kemungkinan besar bukanlah bayi sehat yang tiba2 sakit. Karena dokter sempat kaget kalau dia usia 4 bulan, ini menunjukkan kalau Debora kemungkinan memiliki tubuh yang mungil untuk usianya.
Lebih lanjut, ternyata benar, di salah satu media dijelaskan bahwa Debora mengalami malnutrisi dan memiliki kelainan jantung. Kondisi kesehatan anak sebelumnya sangat berpengaruh terhadap penanganan medis yang dilakukan oleh dokter. Debora memang demam dan sesak napas, kabarnya, karena pneumonia. Namun kondisi kesehatan awalnya yang memang kurang baik, bisa saja mempersulit penanganan dokter. Saya kurang paham pasti kejadiannya, jadi ini hanya asumsi saya saja.

Saya contohkan kasus lain di Surabaya. Seorang ibu meninggal karena perdarahan pasca persalinan. Semua heboh. Karena kasus perdarahan pasca persalinan (atau biasa disebut Haemoragic Post Partum/HPP) sangat lah haram untuk terjadi di kota besar, karena pasti dokter dan fasilitas sudah lengkap. Ternyata latar belakang kasus tersebut adalah sang ibu melahirkan anak ketiganya. Sang ibu melahirkan setiap tahun melalui persalinan caesar (Sectio Caesaria/SC). Padahal menurut ilmu kedokteran, ibu yang melahirkan melalui SC minimal menunggu 2 tahun sebelum hamil lagi. Karena menunggu rahim kembali sembuh sempurna. Bayangkan ibu ini belum ada setahun sudah melahirkan anak lagi, ini berarti dalam hitungan 2-3 bulan, beliau sudah hamil lagi. Daan....dokter yang merawat sudah memperingatkan saat melahirkan anak keduanya, untuk menggunakan alat kontrasepsi/KB. Karena kondisi rahimnya sudah tipis, bisa membahayakan nyawa ibunya jika hamil lagi. Namun ditolak oleh suaminya. Kehamilan ketiga keguguran, dan kehamilan keempat menjadi momen ibu meregang nyawa. Anak2nya semua berusia di bawah 5 tahun dan yang keempat baru saja lahir. Sedih sekali rasanya...

Saya sering mendengar cerita dari dokter dan perawat di RS tempat saya bekerja, bagaimana pasien tidak menuruti advis dokternya. Sehingga penyakit semakin parah, dan kembali lagi saat sudah fase terminal. Sudah tidak bisa diapa2kan lagi.
Dan ini banyaaak sekali kasus seperti ini.
Saya sering mendengar beliau2 ini sedih, gemas dan geregetan kalau sudah terjadi seperti ini. Penyakit yang tambah parah membuat para dokter itu juga bersedih hati. Dan lebih sulit bagi mereka untuk menangani kasusnya.

Saya tidak dalam posisi membela dokter, karena saya bukan dokter. Tapi paling tidak saya bisa memberikan saran: jadilah pasien yang cerdas. Kalau memang tidak percaya dengan satu dokter, carilah second opinion pada dokter lain yang terpercaya dan kompeten di bidangnya. Karena sekarang jaman informasi, semua info bisa didapatkan di google. Siapapun bisa menulis apapun. Maka carilah sumber yang kompeten.
Yang kedua, janganlah percaya dengan klinik alternatif atau yang menggunakan herbal2 untuk menyebuhkan suatu penyakit. Herbal juga mengandung bahan kimia kok, diproses juga di pabrik. Kalau tidak diproses di pabrik, higienitasnya perlu dipertanyakan. Kalau mau yang alami, ya konsumsi buah dan sayuran untuk menjaga hidup sehat. Olahraga dan tidur yang cukup. Itu lebih alami :)

Thursday, September 21, 2017

Tentang Waktu

1 comments
Waktu merupakan suatu benda yang tidak tampak tapi sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Seringkali kita mendengar kata "waktu" digunakan dalam quotes atau peribahasa, bahkan dalam AlQuran pun ada satu surat khusus yang membahas tentang waktu.

"Time will heal"
"Only time will answer"
"Days are long, but years are short"
Adalah beberapa contoh quotes tentang waktu.

Dulu, tepatnya sebelum saya mempunyai anak, rasanya waktu bukanlah sesuatu yang spesial. Dan bagi saya quotes2 di atas tidak bermakna.
Sekarang quotes tersebut benar2 bisa saya pahami, dan baru sekarang terasa bahwa waktu benar2 berharga.

Semua manusia diberi waktu 24 jam dalam sehari. Namun kenapa ada manusia yang sukses di dunia, tapi ada juga yang kurang beruntung atau malah sial di dunia? Kenapa ada manusia yang juga beruntung di akhirat tapi ada juga yang merugi di akhirat?

Di sinilah perlunya menetapkan prioritas. Memilih kegiatan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, di dunia dan memberikan pahala untul bekal di akhirat. 
Sebelum mempunyai anak, saya terbiasa mengerjakan semuanya secara ideal. Saya mempunyai jadwal yang harus saya lakukan hari itu dan sudah ada target yang akan saya capai.
Setelah mempunyai anak, idealisme saya tentang waktu mulai tidak bisa ditepati. Saya stres awalnya, karena merasa tidak menghasilkan apa2 hari itu. Ujung2nya saya marah2 pada suami dan anak. Seiring berjalannya waktu, saya berusaha menetapkan prioritas dan menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa idealis lagi. Saya mulai belajar menikmati waktu bersama anak2. Prioritas dan target tetap ada, namun saya lebih fleksibel dan lebih legawa kalau memang tidak bisa sempurna.

Seiring berjalannya waktu, saya pun sadar, kondisi nyaman sekarang, bukan tidak mungkin akan berubah lagi nantinya. Dan saya harus siap untuk belajar terus.

Tuesday, September 19, 2017

Persepsiku tentang ODOP dan Harapanku terhadap Komunitas Ini

4 comments
Komunitas One Day One Post (selanjutnya disingkat ODOP) merupakan komunitas yang menstimulasi anggotanya untuk konsisten membuat tulisan dan mempostingnya ke blog setiap hari. Jujur saja, saya baru mendengar komunitas ini beberapa minggu lalu dari postingan seorang teman.
Kegiatan menulis terdengar remeh, apa susahnya sih membuat tulisan? Toh sewaktu SD dan SMP kita sudah mendapat pelajaran bahasa Indonesia. Namun ternyata, pengetahuan saja tidak cukup. Butuh komitmen untuk menelurkan tulisan, bukan hanya di angan2 saja.

Seperti halnya blog ini. Seringkali sampai berbulan2, tidak tersentuh *tutupmuka.
Oleh karena itu, saya nekat mendaftar pada komunitas ini. Saya percaya ilmu tidak berguna apabila tidak memberi manfaat pada lingkungan sekitar. 
Maka saya mendaftar dengan harapan saya bisa lebih konsisten menulis mengenai ilmu yang saya pahami dan saya minati, yaitu tentang laktasi dan manajemen rumah sakit (dan di antara kedua bidang tersebut) agar ilmu yang saya miliki dapat bermanfaat bagi orang lain. Amiinn...
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review