How Those Little Peanuts of Mine Changed Me

Saya senang anak kecil sejak dulu. Senang melihat anak kecil, mengajak bermain, lihat video dan sebagainya. Dulu malah saya pernah bercita2 jadi guru TK, bahkan pernah berniat buka daycare sendiri ๐Ÿ˜„ 

Anak kecil itu begitu mengagumkan. Pandangan matanya yang jernih, bening dan polos. Jelas tanpa dosa. Saat saya magang di sebuah RS sebagai persyaratan kuliah S2 saya, kebetulan RS tersebut memiliki daycare. Wah setiap hari saya selalu mampir ke sana. 

Meski setelah menikah, saya sempat menunda kehamilan karena emosi saya belum stabil setelah kepergian mama, tapi saya selalu mencintai anak2. Setelah saya mempunyai anak sendiri, barulah saya sadar betapa lewat anak2 ini, Allah menunjukkan kekuasaanNya.

Sedikit saya ceritakan background saya. Sebelum menikah, saya dibiasakan mama saya untuk mandiri, at least secara fisik. Saya harus bisa kemana-mana sendiri, harus berani mengurus keperluan saya sendiri, orangtua tinggal menyediakan dananya ๐Ÿ˜
Jadi saya terbiasa menyusun jadwal harian, mau kemana saja hari ini, jam berapa sampai jam berapa supaya agenda selanjutnya tidak terganggu.

Setelah menikah, kurang lebih masih sama, karena suami tahu saya tidak bisa diam saja di rumah. Kalau saya tidak ada kerjaan, saya justru menjadi destruktif, contohnya belanja ke mall, ngecekin suami lagi dimana sama siapa dan lain sebagainya ๐Ÿ™ˆ

Setelah punya anak, dunia rasanya terbalik. Kebetulan mama saya sudah meninggal 3 tahun sebelum saya punya anak, mertua hanya datang menjenguk 2 hari saat lahiran, bapak saya masih kerja dan saya anak pertama. Saya terbiasa mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk juga sudah mengikuti kelas edukasi menyusui saat hamil anak pertama. Tapi saat anak pertama saya lahir, rasanya sangat mengubah dunia saya. Selain mungkin pengaruh hormon, Ayra (nama anak pertama saya) selalu bangun saat malam sampai sekitar usia 2-3 bulan. Saat pagi sampai siang dia lebih banyak tidur, bahkan saat diajak ke mall yang ramai pun, dia tidak terbangun. Tapi begitu mulai jam 22, dia langsung bangun sampai sekitar subuh jam 4-5 baru dia akan tidur lagi. Sampai waktu itu suami stres berat. Karena dia pagi harus kerja lagi. Kami pun jadi sering bertengkar karena kondisi fisik kami sama2 capek.

Belum lagi untuk menyusui Ayra, saya juga sempat mengalami puting lecet, sampai2 terkena air saja rasanya sangat sakit. Saat pagi, suami dan bapak saya berangkat kerja, tinggallah saya dan Ayra saja. Jadi setiap pagi saya sudah stres duluan. Takut apa lagi yang akan terjadi hari itu. Semua serba tidak pasti. 
Awalnya saya yang bisa kemana2 sendiri, tiba2 saya menjadi powerless dengan kehadiran si kecil. 

Semua baru menjadi stabil sekitar Ayra usia 6 bulan. Rutinitas mulai stabil dan saya mulai bisa menikmati pekerjaan saya lagi dengan meminta ke atasan untuk menjadi flex-time worker.

Kepercayaan diri saya mulai meningkat, karena saya merasa bisa mengelola satu anak (dan karena pertimbangan sebelumnya saya ada endometriosis yang meningkatkan kemungkinan infertil), maka kami memutuskan hamil lagi saat Ayra usia 22 bulan. 
Alhamdulillah Allah cepat kembali mempercayakan seorang anak pada kami.

Kali ini kami merasa lebih siap. Tapi lagi2 Allah Maha Kuasa, Dia Tahu apa yang kami butuhkan. Maka lahirlah anak kedua kami dengan kelainan jantung bawaan. Terdiagnosis saat usia 1 hari, tapi saya tidak ada masalah menyusui sejak awal.
Lagi2 dengan kasus PJB Axel (nama anak kedua kami) ini, kami kembali diberi ujian dalam bentuk yang berbeda. Mungkin ini adalah ujian tahap selanjutnya.

Perjalanan kami memeriksakan Axel ke beberapa dokter dan segala ketidakpastian yang menyertainya seperti mengingatkan saya bahwa semua hal di dunia ini memang tidak pasti. Setiap 3 bulan dilakukan echo untuk melihat kondisi jantungnya, kami selalu cemas menunggu hasilnya. Hingga akhirnya di usia 10 bulan Axel harus operasi jantung terbuka di Jakarta. Semua diiringi ketidakpastian.

Allah mengajarkan banyak hal melalui kedua anak saya. Ayra mengajarkan hal dari tidak ada menjadi ada dengan sempurna, dari kecil menjadi besar atas kekuasaan Allah. Axel mengajarkan kekuatan di dalam diam, kesabaran di dalam ketidakpastian.
Semoga Allah terus membimbing keluarga kami. Amiinn yra
  1. Slmt andin....meskipun tetjebak dg AKU
    smngat terus

    ReplyDelete

Designed by FlexyCreatives