Me and My Most Memorable Moment in My Life

Mungkin pengalaman hidup saya tidak semenarik orang lain, tapi ada dua kejadian besar di kehidupan saya yang membuat saya semakin percaya dengan keberadaan Sang Pencipta.
Saya anak pertama dari dua bersaudara. Lahir di Mataram sampai berumur 7 tahun karena mengikuti orang tua yang berdinas di sana, kemudian pindah ke Surabaya sampai sekarang.
Kami keluarga biasa saja namun alhamdulillah kebutuhan kami selalu terpenuhi. Ibu saya seorang yang bekerja dan bisa dikatakan cukup sibuk, namun beliau selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan anak-anaknya. 

Fast forward, karena kesibukan ibu saya, saya jarang bertemu sehingga pada masa remaja saya merasa tidak dekat dengan beliau. Apalagi masa remaja yang notabene biasanya menjadi masa paling nakal. Saya sering bertengkar dengan ibu saya. Rasanya kami tidak pernah bisa nyambung. Beda dengan adik perempuan saya. Namun tetap, semua kebutuhan saya selalu dipenuhi.

Hingga saya lulus S1 pada 2006, ibu meminta saya untuk langsung melanjutkan S2. Karena saya juga tidak punya rencana yang jelas untuk masa depan, saya menuruti permintaan ibu namun pilihan jurusan S2 mutlak pilihan saya. Saya bilang saya mau S2 Administrasi Rumah Sakit. Kalau tidak lulus dalam seleksi penerimaan, ya sudah saya mau kerja dulu saja. Qadarullah saya dinyatakan lulus. Sejak itu komunikasi kami membaik, mungkin karena otak saya juga sudah mulai dewasa ๐Ÿ˜†

Baru masuk semester 1, ibu divonis menderita kanker paru. Dan tipe yang tidak dapat dioperasi (inoperable) karena letaknya. Jadi ibu saya hanya dapat minum obat untuk memperpanjang hidupnya, bukan untuk menyembuhkannya. Namun ibu saya masih tetap beraktivitas seperti biasa dan masih tetap sibuk. Desember 2008, saya dilamar oleh laki2 yang sekarang menjadi suami saya. Pada pertengahan semester akhir S2, yaitu April 2009, ibu saya untuk pertama kalinya di hidup saya, dirawat inap di RS. 4 hari yang sangat panjang buat saya. Karena adik saya baru masuk kuliah, masih ada program maba, jadi saya yang menunggu hampir 24 jam setiap hari di RS. Saya, si anak nakal, yang melihat semua detik demi detik terakhir hidup ibu saya. 

Saya ingat betul pertanyaan ibu saya di malam terakhirnya, saat rasa sakitnya sudah tidak tertahankan, ibu saya bertanya pada perawat "jadi sudah tidak ada obat lagi yang bisa dimasukkan?"
Oh ya, kedua orang tua saya dokter, jadi sebenarnya ibu saya juga paham perjalanan penyakit kanker.
Dengan raut menyesal, perawat bilang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Saya mengingat momen itu dengan sangat jelas. Malam itu terasa amat panjang, ibu saya mulai menurun kesadarannya, hingga akhirnya keesokan paginya seusai saya sholat subuh, beliau meninggal. 

Ibu saya yang sering menjadi partner bertengkar saya, yang baru saja bisa menjadi teman cerita, yang berpesan agar saya menikah setelah lulus S2, pergi meninggalkan kami semua. Sedih dan kecewa karena saya baru sebentar merasakan kedekatan ibu-anak, tapi juga lega karena beliau sudah lepas dari rasa sakit yang terlalu. Pada peristiwa ini Allah menunjukkan proses kematian yang akan dilalui oleh semua orang, tidak mengenal status dan jabatan. Dari yang kuat dan selalu terlihat aktif, menjadi seorang yang lemah dan meninggal.

Ibu saya meninggal tepat ketika saya sedang menyelesaikan tesis. Saat itu dunia saya terbalik. Dari seorang anak yang semua kebutuhannya dicukupi dan tugasnya hanya belajar, menjadi seorang anak yang harus ikut mengatur semua pekerjaan rumah. Saya buta sama sekali dengan urusan rumah.
Alhamdulillah Allah masih menguatkan saya dan saya bisa lulus tepat waktu, 5 bulan setelah ibu saya meninggal. Sebulan kemudian saya menikah, sesuai permintaan ibu saya.

Saya seperti mati rasa. Untungnya suami paham betul kondisi saya. Saya menunda kehamilan karena perasaan saya masih tidak jelas. Setahun kemudian baru saya mau hamil. Dan cobaan pun datang. Saat dinyatakan positif hamil untuk pertama kalinya, dokter juga menemukan ada kista coklat (endometriosis) di ovarium saya. Dan dokter memperingatkan bahwa janin saya tidak akan kuat dengan kondisi ada kista tersebut. Benar saja, usia kandungan 8 minggu, saya keguguran. Saya harus kuret karena mengalami perdarahan. Cerita lengkapnya ada di sini. Sebulan kemudian saya dijadwalkan operasi pengambilan endometriom, cerita lengkapnya ada di sini.
Melalui pengobatan cukup panjang selama 7 bulan, akhirnya saya hamil lagi. 9 bulan kemudian anak pertama saya, Afshayra Charmaraiza Addyn, lahir pada tanggal 16 Mei 2012. Cerita selengkapnya ada di sini.

Karena punya riwayat endometriosis, saya tidak berani menunda kehamilan lagi. Jadi saat anak pertama usia 22 bulan, saya hamil lagi. Kehamilan juga tidak bermasalah. Pada 27 Desember 2014, anak kedua saya, Axelio Rafalaric Addyn, lahir.
Alhamdulillah anak kami sudah sepasang.
Namun ternyata kebahagiaan itu hanya sesaat. Saat masih di RS, dokter mencurigai suara bising jantung anak saya.
Dan ternyata benar, anak saya didiagnosis mengalami kelainan/penyakit jantung bawaan (PJB). Cerita selengkapnya ada di sini. Sekali lagi dunia saya runtuh. Setelah (merasa) berhasil melahirkan dan membesarkan anak pertama dengan sehat sempurna dilanjutkan perjalanan menyusui yang juga lancar sampai menyapih Ayra di usia 30 bulan dan saya sedang hamil 32 minggu (selengkapnya ada di sini dan sini), Allah memberikan tantangan yang baru untuk saya. Perjalanan menyusui Axel yang mempunyai PJB ada di sini.


Perjalanan merawat Axel juga penuh tantangan, terutama secara emosi. Singkat cerita, Axel harus operasi jantung terbuka (open heart surgery) di usia 10 bulan. Cerita selengkapnya ada di sini. Tahap ini juga berat menurut saya, rasa sayang orang tua pada anaknya kami rasakan dengan sangat saat pengalaman Axel operasi ini. Bagaimana saya rela melakukan apa saja untuk Axel, bagaimana tubuh mungilnya berada di ICU tanpa boleh saya tunggu selama 3 hari, banyaknya ketidakpastian sejak proses pendaftaran operasi, selama proses operasi dan setelahnya. Tidak ada yang tahu operasi jantung akan berlangsung berapa lama, atau setelah operasi bagaimana Axel akan beradaptasi dengan kondisi jantungnya yang baru. Semua tidak bisa diperkirakan. Pada saat itulah saya sadar betul, hidup kita benar2 milik Allah.

Beberapa kejadian di hidup saya ini tidak pernah saya sesali, semakin membuat saya semakin dewasa. Saya percaya Allah telah merencanakan hidup saya dengan sempurna. Tidak ada yang sia-sia. Meskipun pengalaman itu menyedihkan dan menakutkan, tapi insyaAllah tidak akan pernah saya lupakan. Perasaan saya di setiap kejadian itu sebisa mungkin saya ingat, oleh karena itu sering saya tulis di blog, sebagai pengingat saya, bahwa saya cuma manusia biasa, hamba yang bertugas untuk beribadah kepada Sang Pencipta.


*Tulisan ini untuk memenuhi Tantangan 1 ODOP Batch 4

Designed by FlexyCreatives