Perspektif Lain dari Kasus Perumahsakitan

Kali ini saya ingin menulis tentang perspektif lain dari suatu kasus perumahsakitan. Sering kita baca di koran atau kita lihat di TV, kasus penelantaran pasien di RS, bahkan ada yang sampai meninggal. Kasus terakhir adalah bayi Debora yang meninggal di Jakarta.
Saya baca beberapa berita di koran dan di media sosial. Diberitakan Debora meninggal karena ditolak pihak RS untuk dirawat di PICU (Pediatric Intensive Care Unit). Alasannya karena Debora ini menggunakan kartu BPJS. Hampir semua media memberitakan seperti itu. Ada tulisan yang juga memaparkan kronologisnya. Bahwa Debora demam tinggi dan sesak napas, sehingga dilarikan ke RS terdekat, dan langsung ditangani di IGD. Setelah penanganan pertama untuk menstabilkan kondisi bayi, dokter menyarankan dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Namun setelah tahu usia Debora adalah 4 bulan, dokter menggantinya ke PICU.

Nah dari sepotong berita ini saja, saya menyimpulkan, kondisi Debora ini kemungkinan besar bukanlah bayi sehat yang tiba2 sakit. Karena dokter sempat kaget kalau dia usia 4 bulan, ini menunjukkan kalau Debora kemungkinan memiliki tubuh yang mungil untuk usianya.
Lebih lanjut, ternyata benar, di salah satu media dijelaskan bahwa Debora mengalami malnutrisi dan memiliki kelainan jantung. Kondisi kesehatan anak sebelumnya sangat berpengaruh terhadap penanganan medis yang dilakukan oleh dokter. Debora memang demam dan sesak napas, kabarnya, karena pneumonia. Namun kondisi kesehatan awalnya yang memang kurang baik, bisa saja mempersulit penanganan dokter. Saya kurang paham pasti kejadiannya, jadi ini hanya asumsi saya saja.

Saya contohkan kasus lain di Surabaya. Seorang ibu meninggal karena perdarahan pasca persalinan. Semua heboh. Karena kasus perdarahan pasca persalinan (atau biasa disebut Haemoragic Post Partum/HPP) sangat lah haram untuk terjadi di kota besar, karena pasti dokter dan fasilitas sudah lengkap. Ternyata latar belakang kasus tersebut adalah sang ibu melahirkan anak ketiganya. Sang ibu melahirkan setiap tahun melalui persalinan caesar (Sectio Caesaria/SC). Padahal menurut ilmu kedokteran, ibu yang melahirkan melalui SC minimal menunggu 2 tahun sebelum hamil lagi. Karena menunggu rahim kembali sembuh sempurna. Bayangkan ibu ini belum ada setahun sudah melahirkan anak lagi, ini berarti dalam hitungan 2-3 bulan, beliau sudah hamil lagi. Daan....dokter yang merawat sudah memperingatkan saat melahirkan anak keduanya, untuk menggunakan alat kontrasepsi/KB. Karena kondisi rahimnya sudah tipis, bisa membahayakan nyawa ibunya jika hamil lagi. Namun ditolak oleh suaminya. Kehamilan ketiga keguguran, dan kehamilan keempat menjadi momen ibu meregang nyawa. Anak2nya semua berusia di bawah 5 tahun dan yang keempat baru saja lahir. Sedih sekali rasanya...

Saya sering mendengar cerita dari dokter dan perawat di RS tempat saya bekerja, bagaimana pasien tidak menuruti advis dokternya. Sehingga penyakit semakin parah, dan kembali lagi saat sudah fase terminal. Sudah tidak bisa diapa2kan lagi.
Dan ini banyaaak sekali kasus seperti ini.
Saya sering mendengar beliau2 ini sedih, gemas dan geregetan kalau sudah terjadi seperti ini. Penyakit yang tambah parah membuat para dokter itu juga bersedih hati. Dan lebih sulit bagi mereka untuk menangani kasusnya.

Saya tidak dalam posisi membela dokter, karena saya bukan dokter. Tapi paling tidak saya bisa memberikan saran: jadilah pasien yang cerdas. Kalau memang tidak percaya dengan satu dokter, carilah second opinion pada dokter lain yang terpercaya dan kompeten di bidangnya. Karena sekarang jaman informasi, semua info bisa didapatkan di google. Siapapun bisa menulis apapun. Maka carilah sumber yang kompeten.
Yang kedua, janganlah percaya dengan klinik alternatif atau yang menggunakan herbal2 untuk menyebuhkan suatu penyakit. Herbal juga mengandung bahan kimia kok, diproses juga di pabrik. Kalau tidak diproses di pabrik, higienitasnya perlu dipertanyakan. Kalau mau yang alami, ya konsumsi buah dan sayuran untuk menjaga hidup sehat. Olahraga dan tidur yang cukup. Itu lebih alami :)
  1. Boleh kasih masukan Mbak? Baiknya paragraf nya tidak terlalu panjang, dan diberi jarak satu spasi antar paragraf. Salam kenal juga ya. ๐Ÿ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih masukannya yaa....salam kenal ๐Ÿ™๐Ÿป

      Delete
  2. Get the point!


    Sukses dan lanjutkan semangat ngodop-nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih kang Fery ๐Ÿ™๐Ÿป

      Delete

Designed by FlexyCreatives