Monday, October 2, 2017

Cinta kASIh

Gadis itu duduk diam di hadapanku. Wajahnya masih polos dengan sedikit gurat kesedihan, tidak menunjukkan keceriaan seperti gadis seusianya. Digendongnya seorang bayi mungil berusia sekitar 2 minggu. Di sampingnya duduk seorang ibu paruh baya. Berpakaian sederhana namun menampakkan kecemasan yang mendalam.
"Tolong anak saya bu, celaka benar kami ini" ujar sang ibu menggerutu, panik bercampur kesal.
"Apa yang bisa saya bantu?" jawabku.
"Anak saya lemas sekali sepertinya bu" kali ini si gadis yang menjawab. Aku terdiam sebentar, membaca rekam medis yang berisi data pribadi pasienku kali ini. Namanya Mawar, berusia 17 tahun. 

"Bagaimana proses menyusunya selama ini?" tanyaku memulai pekerjaan.
"Edo susah sekali menyusu bu, selama ini saya susui tapi tampaknya dia malas dan tidak suka dengan ASI saya. Sekarang payudara saya sakit, putingnya juga berdarah"
"Makanya, ibu sudah bilang ASImu itu nggak enak, makanya Edo malas menyusu ke kamu. Lagian kamu selalu cari masalah" si ibu menimpali anaknya.
Aku mulai merasa tidak enak, "Maaf, kalau boleh tahu, bagaimana proses kelahirannya dulu? Apakah sudah melakukan Inisiasi Menyusu Dini saat melahirkan?"
Si gadis tampak bingung. Sang ibu yang mengambil alih menjawab pertanyaanku.

"Dia ini hamil di luar nikah bu, melahirkan anaknya di rumah bidan. Waktu itu bu bidan langsung membersihkan bayinya dan menanyakan ke kami mau pakai susu apa. Kami manut saja dengan merk pilihan bu bidan. Saya malu sekali ini bu, jadi sebisa mungkin kami segera pulang ke rumah. Kami turuti saja semua perintah bu bidan supaya bisa segera pulang" penjelasan sang ibu panjang lebar. 
Si gadis hanya tertunduk diam memandangi anaknya. “Saya cinta anak saya bu, saya mau melakukan apa saja supaya anak saya bisa tumbuh sehat”

Aku terdiam sejenak, berusaha menata hati.
“Mbak Mawar, yang mbak lakukan sangat mulia, mbak mau berjuang dan belajar untuk anak. Edo pasti bangga dengan ibunya. Sekarang permisi saya boleh periksa payudaranya ya?”
Mawar membuka pakaian atasnya dan menunjukkan payudara yang terasa sakit.
“Yuk coba disusukan lagi ke Edo ya mbak” ajakku.

Edo yang masih tertidur dibawa mendekat ke payudara. Bedongnya dibuka sedikit agar Edo merasa dingin dan mau bangun. Sampai akhirnya Edo mulai membuka mata, menggerak-gerakkan kepalanya dan menggeliat. Bayi tak berdosa itu pun diciumi ibunya. Mawar terlihat sayang pada anaknya.
Aku membantu mengarahkan proses menyusuinya. Kepala Edo didekatkan ke payudara, puting disentuhkan ke bibir atas Edo, sehingga Edo mulai berupaya mencari benda yang menyentuh bibirnya dan membuka mulutnya lebar-lebar. Dagu Edo menempel pada bagian bawah payudara Mawar dan sebagian besar areola diupayakan untuk masuk ke dalam mulut Edo.
“Pelekatannya lumayan bagus kok mbak, sudah mulai pintar nih” pujiku, “susu formulanya dihentikan saja ya. Ini payudaranya terlihat bengkak karena sebenarnya ASInya banyak di dalam tapi tidak dihisap oleh Edo. Sekarang masih terasa sakit?”
“Tidak seberapa bu”
“Nah berarti pelekatannya sudah baik. Latihan terus di rumah yaa. Kalau disusui terus insyaAllah Edo akan tumbuh sehat bu. Beda kalau diberi susu formula, daya tahan tubuh Edo tidak akan sebaik kalau diberi ASI. Belum lagi harga susu formula mahal kan bu? Mending dikasih ASI saja, anaknya sehat, tidak perlu beli dan tersedia kapan saja” aku menjelaskan juga pada sang ibu.
Sang ibu mulai melunak. “Jadi lebih bagus ASI ya bu, kalau begitu harus diupayakan ASI nih” sang ibu mulai tersenyum.

Diskusi kami mulai terasa nyaman. Mawar juga mulai percaya diri untuk menyusui anaknya. Tidak terasa, sesi konseling kali ini berjalan hampir 3 jam. Pasangan ibu dan anak itu mulai semakin terbuka berdiskusi. Aku memberikan nomor telepon, menawarkan untuk menghubungiku jika ada kesulitan menyusui lagi. Kali ini mereka tersenyum puas dan berterimakasih. Akhirnya mereka berdiri dan keluar dari ruangan.


Teriknya matahari kali ini tidak mampu menghapus kesejukan dalam hatiku. Bersyukur karena gadis itu memilih hidup untuk anaknya, tidak melakukan aborsi atau membuang anaknya seperti kebanyakan kasus serupa yang terjadi belakangan ini. Bersyukur karena gadis itu memilihkan hidup yang lebih baik dengan menyusui anaknya. 







*Tulisan ini menjawab tantangan kedua ODOP Batch 4

8 comments:

Fery Fadli said...

Waw...
Kereen, hebat banget merangkai kata-kata tantangan dengan tepat dan mengalir..

Sukses mbak Andin

Presiden Direktur said...

Bagus banget mbaaaa...btw, kata2 tantangannya sampai ga berasaaa...

Dongeng Malam said...

Kisah nyata?

andin said...

alhamdulillaaahh....masih butuh banyak saran nih, ga pede bikin fiksi :D

andin said...

bukan, saya belum pernah terima klien remaja dengan bayi di luar nikah. Rekaan saja kalau suatu saat ketemu klien seperti ini :D

andin said...

alhamdulillaaahh....masih belajaran juga :D

Wiwid Nurwidayati said...

Bagus..suka..mengalir..enak bacanya

andin said...

waaa...makasih banyak mbaaa :)

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review