Saturday, October 7, 2017

Cinta Tak Bersyarat

Pernah tahu artis senior yang sekarang juga menjadi anggota DPR, Venna Melinda? Jujur saja, saya bukan fans beratnya. Sudah jarang mengikuti berita kegiatan dia, namun sejak tahu bahwa dia mengadopsi seorang anak yang ditinggalkan di kamar mandi, saya langsung kepo. Terutama karena anak itu sekarang berusia 1 tahun dan menjadi anak yang lucu dan menggemaskan.

Saking keponya, saya scroll down akun instagram anak angkatnya (namanya Vania Athabina), hanya ingin tahu awal mulanya bagaimana. Tidak banyak cerita di instagram tersebut, maka saya mulai cari beritanya di google. Ternyata Vania dibuang di kamar mandi sebuah masjid saat usia 1 hari. Masih begitu merah. Melihat fotonya saat dibuang, tidak menyangka kalau sekarang bisa begitu cantik dan lucu.

Berawal dari keingintahuan saya tentang Vania dan adopsi, saya jadi search hashtag dengan keyword adoption. Ternyata di luar negeri (kebanyakan yang muncul di IG adalah dari Amerika) adopsi sudah umum dilakukan dan sudah ada regulasi yang jelas. Bahkan masyarakatnya dianjurkan untuk adopsi, terutama oleh organisasi berbasis keagamaan (dalam hal ini adalah agama Kristen). Karena mereka menganggap semua anak patut dicintai dan berhak mendapatkan keluarga yang mencintainya, anak merupakan anak dari Tuhan.

Kekepoan saya terus berlanjut karena melihat bayi2 lucu itu. Setiap mendapatkan satu akun ibu yang telah mengadopsi, biasanya saya scroll down supaya saya bisa tahu cerita awalnya. Sebagian besar karena si ibu adopsi mengalami infertilitas, namun beberapa ada juga yang sudah mempunyai banyak anak tapi masih mau adopsi. Ada yang sampai memiliki 8 anak lho!

Prosedur dan regulasi adopsi di luar negeri juga sudah jelas. Sepertinya di setiap negara bagian memiliki peraturan yang sedikit berbeda, namun dari yang saya baca, biaya adopsi tidaklah murah. Sehingga mereka pun membutuhkan bantuan dana dari masyarakat luas. Maka diadakanlah lelang atau acara penggalangan dana untuk keluarga X mengadopsi bayi, misalnya. Salah satunya dengan kalimat seperti ini “Help the Williams bring the baby home”, dan masih banyak lagi.

Yang menarik perhatian saya adalah beberapa mengadopsi anak dari negara berkembang (paling banyak dari Cina) dan mempunyai kondisi medis (paling banyak Down Syndrome). Kondisi ini tidak bisa disembuhkan, hanya bisa ditingkatkan saja kualitas hidupnya. Bahkan ada beberapa yang sampai punya keterbatasan fisik, dalam artian benar2 tidak bisa ngapa2in. Ibu adopsinya merawat anak tersebut dengan penuh kasih sayang.
Satu hal yang membedakan adalah karena di US sistem kesehatannya sudah mapan, semua warga negaranya di-cover oleh asuransi dan peralatan kedokteran sudah canggih. Ini yang kemungkinan besar menyebabkan WNI akan sulit mengadopsi anak dari negara lain.

Di salah satu artikel yang pernah saya baca, sebenarnya ada masa dimana warga negara US masih belum terlalu suka dengan adopsi. Saat itu aborsi belum dilegalkan dan kehamilan di luar nikah masih menjadi sesuatu yang tabu. Saat itu pemerintahnya mendorong warga untuk mengadopsi anak, sehingga tidak ada anak yang dibuang atau dibunuh. Kemudian muncullah pelegalan aborsi dan semakin banyaknya orang yang tidak malu lagi dengan kehamilan usia remaja di luar nikah. Akhirnya jumlah peminat adopsi meningkat, sedangkan bayi yang akan diadopsi menurun (karena dilegalkan untuk aborsi). Alasan anak-anak ini diberikan ke orang lain juga bermacam2, yang menarik di US adalah bila orang tua kandung memiliki masalah dalam keluarga sehingga menimbulkan kondisi keluarga yang tidak kondusif, maka anak akan diambil oleh negara, akan ditempatkan dalam foster care (saya masih belum bisa memadankan istilah ini di negara kita). Foster care bukan panti asuhan (orphanage).

Kembali lagi ke inti adopsi, saya juga menemukan beberapa ibu adopsi itu menyusui anaknya. Banyak anak adopsinya yang berkulit hitam disusui oleh ibu adopsinya yang berkulit putih. Saya sangat terharu. Orang barat yang terkenal individualis dan modern, masih mau menyusui anak yang bukan anak kandungnya. (Postingan berikutnya tentang Induksi Laktasi yaaa...). Hampir semua keluarga adopsi di US adalah keluarga yang religious. Mereka rajin ke gereja, mengikuti kegiatan2 keagamaan, membaca kitab, dan lain sebagainya.

Saya membayangkan, apa yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia? Sebagai negara muslim terbesar di dunia, masih banyak kita menemukan bayi yang dibuang atau bahkan dibunuh ibunya. Masih banyak kita menemukan anak-anak yang tidak mampu terpaksa bekerja di jalanan. Sedih rasanya....

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review