Donor ASI

Praktik donor ASI mulai menjadi tren belakangan ini seiring mulai banyaknya ibu yang concern dengan masalah menyusui. Terlepas dari hukum agama, donor ASI ini masih menjadi pro kontra di Indonesia. Sampai saat ini mayoritas donor ASI dilakukan secara individual, tidak terorganisir dan berdasarkan rasa percaya saja. Padahal ASI bisa saja mengandung virus penyakit, sedangkan hampir semua orang di Indonesia tidak rutin memeriksakan kesehatannya.

Dengan semakin tingginya kesadaran publik tentang manfaat ASI, maka salah satu implikasinya adalah semakin maraknya permintaan dan penawaran penyediaan donor ASIP lewat media sosial. 

Namun mengingat pemerintah Indonesia belum mengadopsi aturan teknis yang detail terkait pengaturan, handling (penanganan), dan sirkulasi donor ASIP yang TEPAT dan AMAN, maka AIMI merasa perlu untuk mengatur sirkulasi posting permintaan dan penawaran penyediaan donor ASIP di berbagai media sosial milik AIMI mengingat:

  1. Faktor necessity (perlu atau tidaknya): ada kondisi2 apakah layak atau tidaknya seorang bayi mendapatkan donor ASIP mengingat donor ASIP dari orang lain adalah pilihan terakhir dalam hirarki ASI sesuai standar WHO
  2. Faktor safety (aman atau tidaknya): tingkat keamanan ASIP yang hendak didonorkan dan faktor resiko ibu pendonor
  3. Faktor sustainability (keberlangsungan): Ingat bahwa donor ASIP sifatnya hanya sementara atau emergency. Untuk bayi yang ibunya masih dapat menghasilkan ASI, maka ibunya harus mendapatkan bantuan konseling agar dapat menyusui bayinya. Untuk bayi yang ibunya sudah meninggal, maka pihak keluarga, dengan pendampingan konselor, diharapkan mencari ibu susu yang memenuhi syarat. 


Harap dipahami juga bahwa syarat2 menjadi pendonor ASIP TIDAK MUDAH, antara lain: 
  1. Sehat jasmani dan rohani
  2. Tidak mengonsumsi obat/jamu herbal/suplemen (kecuali vitamin, hormon insulin/tiroid, pil KB laktasi atau progestin, obat asma inhalasi, obat oles/tetes)
  3. Tidak merokok/tidak konsumsi narkotika dan obat terlarang lainnya/tidak konsumsi minuman keras
  4. Tidak mendapat transfusi darah atau transplantasi organ/jaringan dalam 12 bln terakhir
  5. Melakukan tes skrining kesehatan dan hasilnya harus negative dari infeksi HIV, HTLV, hepatitis B, hepatitis C, CMV dan sifilis
  6. Pasangan seksual dari pendonor tidak berisiko menularkan HIV 


Kenapa tes kesehatannya banyak sekali ya?
Karena mayoritas orang Indonesia bukanlah orang yang secara rutin memeriksakan dirinya secara lengkap ke dokter atau RS. Orang Indonesia kebanyakan ke dokter hanya ketika mereka merasa sakit. Sehingga ada banyak kemungkinan penyakit tidak terdeteksi. Untuk Anda ketahui, misalnya, Indonesia adalah negara dengan prevalensi hepatitis B dan C terbesar ketiga di dunia dengan angka penderita diperkirakan sebanyak 30 juta orang (data 2011). 

Kenapa syaratnya tidak mudah?
Karena umumnya bayi yg membutuhkan donor adalah bayi baru lahir atau bayi lahir yang lebih rentan terkena virus, bakteri akibat daya tahan tubuh yang masih rendah. Justru karena bayi bayi semacam ini kondisinya rentan, maka donor ASIP yang diberikan harus lolos uji keamanan. Kasihan kan kalau ternyata kita mendonorkan sesuatu yang justru membahayakan bayi yang kondisinya rentan? :(

Selain itu, untuk menjaga keamanan ASIP, ada tindakan2 khusus dalam memperlakukan ASIP donor yang hendak diberikan ke bayi agar kemungkinan kontaminasi infeksi dapat diperkecil dengan pasteurisasi/pemanasan: 
  1. Pasteurisasi Pretoria : letakkan botol kaca ASIP (tertutup) dlm panci, tuangi air mendidih, biarkan selama 30 menit, pindahkan botol ASIP & dinginkan,  ATAU 
  2. Flash heating: letakkan botol kaca ASIP (terbuka) dlm panci berisi air, panaskan hingga muncul gelembung di air, pindahkan botol ASIP & dinginkan


Sementara itu, bayi penerima donor pun harus memenuhi syarat2 berikut: 
  1. Berat badan bayi saat lahir sangat rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu
  2. Bayi beresiko karena mengalami gangguan metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (kecil masa kehamilan, premature, mengalami stress hipoksik/iskemik/bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI
  3. Bayi dengan kondisi kehilangan cairan akut, misalnya karena fototerapi atau penyinaran untuk bayi jaundice/kuning dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan
  4. Turunnya berat badan bayi berkisar 7-10% setelah hari ketiga sampai kelima karena terlambatnya laktogenesis
  5. BAB bayi masih berupa mekonium pada hari kelima pasca persalinan
  6. Tambahan: bayi yang sedang menjalani relaktasi dimana produksi ibu sedang dalam upaya peningkatan. Dengan catatan bahwa sang ibu harus tetap menjalankan langkah2 utk meningkatkan produksi ASInya.


Selain syarat2 medis di atas, kita juga harus memenuhi syarat2 sesuai aturan agama dan etika sosial. Untuk yang Muslim bisa lihat ketentuan MUI berikut ini: http://mui.or.id/wp-content/uploads/2014/05/No.-28-Seputar-Masalah-Donor-ASI.pdf

Perkara mendonorkasn ASIP bukan perkara sederhana karena semata mata alasan kemanusiaan. Ada banyak aspek yang harus diperhatikan demi keamanan bayi penerima donor dan kenyamanan pihak penerima dan pe


  1. Andin profesi Dokter ya?.....Satuhal juga yang harus diperhtikan sperti awal tulisan ini adalah faktor hukum syri, karena akitanya dengan mahram ibu susu.
    terus menulis Andin...hebat

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan pak, saya konsultan laktasi. Inggih pak, dari segi agama juga banyak yang harus diperhatikan, tapi tidak terlalu saya bahas karena ilmu agama saya masih dangkal. Jadi untuk pembahasan dari segi agama lebih baik diskusi dengan ustadz masing-masing. Makasih sudah mampir pak :)

      Delete

Designed by FlexyCreatives