Monday, October 16, 2017

Midodareni: Ritual Adat Calon Pengantin Jawa

Salah satu ritual adat yang biasanya dilakukan hampir semua pengantin Jawa adalah midodareni. Runtutan ritual adat untuk calon pengantin sebenarnya ada banyak, namun tidak semua pengantin saat ini melaksanakannya dengan berbagai alasan (termasuk saya :D) Namun demikian, midodareni ini hampir selalu dilakukan oleh calon pengantin. Karena biasanya dilaksanakan malam sebelum akad nikah, para keluarga calon pengantin sudah berkumpul, sehingga tidak butuh waktu lama untuk melaksanakan prosesi ini.


Ini bukan foto saya :D karena ternyata saya tidak punya foto midodareni. Sumber foto: http://www.hipwee.com/wedding/pernikahan-adat-jangan-mengaku-gadis-jawa-kalau-kamu-tak-tahu-acara-malam-midodareni/


Di malam midodareni ini, biasanya sekitar pukul 19.00, calon pengantin laki-laki bersama keluarga besarnya datang ke rumah salon pengantin perempuan dengan tujuan untuk mengakrabkan antar dua keluarga. Biasanya mereka juga sambil membawa hantaran. Saat pulang, keluarga calon pengantin perempuan juga akan membawakan hantaran untuk keluarga calon pengantin laki-laki. Pada midodareni ini calon pengantin tidak boleh bertemu.

Pada jaman dulu ketika calon mempelai pria datang di malam midodareni, ia akan mengenakan busana adat Jawa yakni berpakaian beskap lengkap dengan kalung korset dan keris, namun jaman sekarang tidak selalu menggunakan busana beskap, bisa juga menggenakan pakaian jas atau batik yang rapi. Sedangkan calon pengantin wanita dimalam itu dipingit di dalam kamar dengan menggunakan pakaian kebaya. Hanya keluarga dari calon mempelai pria yang boleh bertemu di kamarnya.


Meski datang ke rumah calon istrinya, di malam midodareni ini calon pengantin pria tidak diperkenankan tidur di rumah mempelai putri. Keluarga mempelai wanita biasanya telah menyediakan penginapan untuk istirahat calon pengantin pria dan keluarganya. Penginapan yang disediakan biasanya juga tidak terlalu jauh dari tempat diselenggarakannya malam midodareni yang biasanya dilaksanakan di rumah calon pengantin perempuan, karena pada malam itu calon pengantin laki masih diperkenankan untuk bertemu dan berkenalan dengan keluarga besar calon pengantin perempuan. Meski demikian, sekitar pukul 22.00 calon pengantin pria sudah harus kembali ke penginapan untuk mempersiapkan energi saat dilangsungkan berbagai acara keesokan harinya. Ini dilakukan jika keluarga pengantin pria berasal dari kota berbeda, namun jika masih di kota yang sama, akan kembali ke rumah masing-masing.
Pada proses midodareni yang sebenarnya prosesi ritual doa dan bancakan midodareni biasanya dilakukan pada tepat tengah malam atau sekitar pukul 24.00. Menurut kepercayaan, momen ini untuk menyambut datangnya wahyu yang akan turun kepada kedua calon mempelai. Pada malam midodareni keadaan harus cukup tenang dalam suasana khidmat. Ada harapan dan doa dalam malam menjelang akad nikah ini. Selain dalam ucapan, doa dan harapan tersebut disimbolkan dalam beberapa hidangan yang disajikan dan hiasan yang ada di rumah mempelai perempuan.
Ubo Rampe di malam midodareni ini biasanya terdiri dari sepasang Kembar Mayang yang dipajang di kamar pengantin wanita; sepasang periuk yang diisi dengan bumbu pawon, biji-bijian, empon-empon dan dua helai bangun tulak sebagai penutup; sepasang kendi yang diisi air suci yang cucuknya ditutup dengan daun dadap serep (tulang daun/tangkai daun), Mayang jambe (buah pinang), daun sirih yang dihias dengan kapur; dan Baki yang berisi potongan daun pandan, parutan kencur, laos, jeruk purut, minyak wangi, baki ini ditaruh dibawah tepat tidur supaya ruangan berbau wangi. Selain itu terdapat hidangan berupa bancakan yang akan dimakan bersama setelah pukul 24.00. Namun prosesi ini saat ini sudah sangat jarang dilakukan hingga pukul 24.00, dengan alasan terbanyak karena untuk mempersiapkan acara akad nikah keesokan harinya.
Ritual midodareni berakar dari cerita legenda Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan. Dewi Nawangwulan adalah seorang bidadari dari khayangan yang memiliki anak seorang manusia. Dewi Nawangwulan berjanji akan turun ke bumi kelak jika anaknya yang bernama Dewi Nawangsih menikah. Dengan demikian, upacara midodareni diambil dari cerita turunnya Dewi Nawangwulan untuk menemui anaknya pada saat upacara midodareni.
Saya sendiri? Saya cuma melaksanakan midodareni tanpa ritual adat lainnya, dengan alasan biaya dan agar tidak ribet. Di malam midodareni itu pun tidak ada pemasangan ubo rampe dan lain-lainnya. Benar-benar murni malam berkumpul saja. Waktu itu acara berlangsung pukul 19.00 sampai 21.00. Setelah itu kami beristirahat untuk mempersiapkan diri menjelang akad nikah keesokan harinya :)

*Tulisan ini untuk menjawab tantangan keempat ODOP Batch 4

9 comments:

bari ku said...

Haebat Andin

Suden Basayev said...

Saya orang Jawa tapi gak mudeng adat ini sedetail ini. Hihi. Keren keren...

Dwi Septiyana said...

kayak notasi lagu ya, mi-do-la-re-mi, hehehe

Opik Taupik Akbar said...

"Selain itu terdapat hidangan berupa bancakan yang akan dimakan bersama setelah pukul 24.00"
Lewat tengah malam masih pada kuat makan? Kayaknya GA mungkin sambil sekalian dahur deh. 😀

Dewie Dean said...

Keluarga kami masih banyak kturunan jawa tapi nga pernah buat acara midodareni klo nikahan. Nah pernah ketika sepupu di jawa sana nikah pakai acara midodareni saat itu pula saya br tau ada acara sprti itu he he

Wiwid Nurwidayati said...

Asyiiik

zeela zeal said...

Nambah wawasan nih tulisan feature nya. Makasih kak

Rene Usshy said...

Keren mbak andin, lengkap bener..
Aku orang jawa tapi gak tahu mbak haha
Iya kaya mbak andin sendiri, tanpa ada ritual" seribet itu

Isnaini Annisa said...

aku tahu adat ini dua setengah tahun yang lalu. pas temenku nikah di boyolali. terus dia sebel, ngapain di dandanin cantik-cantik gini tapi ndak boleh keluar kamar. kan ndak bisa eksis foto jadinya wkwkwkwk..

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review