Sunday, November 19, 2017

Alhamdulillah Lulus LPDP

8 comments
Alhamdulillah saya dinyatakan lulus beasiswa LPDP pada tanggal 26 Oktober 2017. Seminggu kemudian saya dijadwalkan mengikuti kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) yang wajib diikuti oleh calon awardee LPDP. Itu sebabnya saya langsung menghilang dari dunia maya, karena terlalu mendadak 😅

PK dilaksanakan di Wisma Hijau Depok tanggal 6-10 November 2017. Sehingga semua pekerjaan dan persiapan anak harus dilakukan dengan cepat.

Mimpi saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, tepatnya di Australia, sebenarnya sudah lama, yaitu menjelang lulus S1 tahun 2006. Saat itu almh mama sudah menyiapkan dana untuk melanjutkan S2 di Aussie. Saya juga sudah melihat2 uni yang ada di sana. Tapiii...rasa takut saya lebih besar. Alhasil saya mundur dan minta S2 di Indonesia.

Keinginan untuk melanjutkan kuliah di negara maju sebenarnya sudah lama. Alasannya karena deep inside my heart, saya sebenarnya sangat suka travelling, keliling dunia dan sejenisnya. Tapi lagi2 karena kendala biaya dan rasa takut saya sendiri, jadi saya selalu jalan di tempat. Seiring bertambahnya usia, saya tahu dengan berkunjung atau belajar dari negara lain akan membuka wawasan kita. Jadi saya mematangkan niat lagi. Suami juga sudah tahu impian saya ini sejak dulu (karena kami pacaran 5,5 tahun sebelum menikah dan sampai saat ini sudah 8 tahun menikah).
Dia tahu banget karakter saya seperti apa, impian yang  tinggi dengan karakter saya yang peragu dan penakut.

Banyak sekali keraguan dan ketakutan saya, mulai dari saya bukan orang yang pintar, saya bukan termasuk orang yang banyak prestasi, pekerjaan saya juga bukan di bidang yang mainstream, bukan di instansi yang besar juga. Hingga punya anak pertama, kemudian disibukkan dengan kondisi kesehatan anak kedua, hingga akhirnya alhamdulillah kami bisa stabil lagi. Banyak hal yang membuat saya maju mundur (tapi nggak cantik seperti Syahrini 😝 ).
Saya meminta ijin pada suami untuk apply beasiswa pada tahun 2016. Saya memilih beasiswa LPDP, dengan alasan utama adanya tunjangan keluarga yang diberikan. Karena tentu saja, meski saya mengejar impian saya dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas, tapi saya ingin impian ini juga membawa manfaat untuk anak2 dan suami saya juga.

Untuk apply LPDP, persiapannya cukup banyak. Apalagi untuk seorang wanita yang sudah punya anak (dua pula!) mencari waktu untuk melakukan itu semua memang butuh konsistensi. Saya juga bekerja dan mengurus anak. Jika Allah tidak mengijinkan, tidak mungkin saya bisa menyiapkan semuanya. Diawali dengan mendapatkan skor ielts yang diinginkan. Saya mengambil kursus di IALF tahun 2014 sebelum anak kedua lahir dan langsung mengikuti tes ielts. Sayangnya skor pertama saya hanya 6. Tentu tidak berguna sama sekali untuk saya yang akan mendaftar program doktoral.

Saya mengikuti tes ielts lagi yang kedua pada tahun 2015 dan mendapat skor ielts 6,5 (dengan tidak ada band score di bawah 5,5). Berbekal skor ielts itu dan proposal penelitian, saya mencoba apply ke universitas2 (yang termasuk dalam universitas tujuan yang sudah ditentukan LPDP).
Proses apply ke uni dan mencari supervisor ini juga butuh ketelatenan. Saya membuat daftar universitas yang persyaratannya bisa saya penuhi, kemudian mencari profesor yang minat penelitiannya sama dengan saya, barulah saya kirim email ke beliau.
Saya membuat daftar nama universitas dan nama profesor yang sudah saya kirim email. Ada sekitar 50 orang yang saya kirim email. Dari sekian banyak, hanya 2 orang yang merespon positif. Dan hanya satu yang akhirnya berlanjut sampai sekarang. Jadi tahun 2016 awal saya sudah mendapatkan calon supervisor dan unconditional letter of offer dari universitas.

Setelah mendapatkan LoO, saya baru apply ke LPDP pada batch 4 tahun 2016 yaitu sekitar bulan September-Oktober. Pada seleksi LPDP ini, saya lulus sampai di seleksi substansi. Namun saya memang mengakui bahwa saat sesi interview, saya merasa jawaban saya sangat tidak meyakinkan.
Dan pada Desember 2016, keluarlah pengumuman bahwa saya gagal dalam seleksi substansi (pengumuman keluar selang 1 minggu dari pengumuman kegagalan saya tes IBCLC).

Setelah melewati "masa berkabung" karena gagal IBCLC dan LPDP, di awal tahun 2017, saya mendapat semangat baru lagi. Menanti pengumuman LPDP hingga Februari 2017, ternyata LPDP mempunyai kebijakan baru. Pendaftaran hanya dibuka 1x untuk tujuan dalam negeri dan 1x untuk tujuan luar negeri. Selain itu, ternyata sekarang ada kebijakan hanya boleh mendaftar maksimal 2x setelah gagal di seleksi substansi. Ini berarti saya tinggal punya 1x kesempatan lagi. Sebenarnya ada ketakutan juga kalau saya gagal lagi, maka selesai sudah kesempatan saya di LPDP ini. Namun karena masa berlaku skor ielts hanya dua tahun, dan saya ujian di tahun 2015, maka ini adalah tahun terakhir berlakunya skor ielts saya. Kalau lebih dari tahun 2017, maka saya harus ikut tes ielts lagi, yang mana biayanya juga cukup besar.

Saya ceritakan semua ke suami dan meminta pendapatnya. Belum lagi pertimbangan usia anak. Ayra tahun 2018 sudah masuk SD, semakin besar anak2, akan semakin susah untuk membawanya keluar negeri, karena pertimbangan sekolahnya. Setelah berkali-kali ngobrol, kami sepakat kalau saya akan coba daftar lagi tahun 2017.  Apapun hasilnya itu yang terbaik untuk keluarga kami. Akhirnya saya daftar lagi, dengan bekal proposal penelitian dengan topik sama tapi sudah diupdate dan LoO yang sudah saya defer ke tahun berikutnya. Deg-degan seleksi substansi tetap ada, tapi saya menjadi lebih matang dalam sesi interview. Dan setelah seleksi pun saya merasa lebih ikhlas. Apapun yang menjadi keputusan Allah, saya ikhlas.

Selesai seleksi substansi, saya menjalani hidup seperti biasa. Saya bahkan sudah mendaftarkan Ayra ke SDI Al Azhar 11 Surabaya. Hingga akhirnya tanggal 26 Oktober 2017, saya menerima email pengumuman bahwa saya lulus LPDP. Allahuakbar!



Cerita pasca pengumuman di postingan selanjutnya, insyaAllah...

Friday, November 3, 2017

Bolehkah Sewa Breastpump?

0 comments
Sebagai ibu baru, tentu kita ingin mempersiapkan segalanya. Salah satunya memilih breastpump (selanjutnya disingkat BP) yang paling bagus. Masalahnya tidak ada BP yang paling bagus, karena setiap ibu akan memiliki jawaban yang berbeda. Karena setiap ibu memiliki anatomi payudara yang berbeda sehingga kenyamanan pun berbeda. Belum lagi masalah harga yaa...

Ada yang menyarankan sewa saja atau sewa dulu sebelum membeli suatu merk.

Pompa ASI tidak boleh dipinjamkan atau disewakan...Yang boleh digunakan oleh lebih dari 1 orang adalah pompa hospital grade, yang bagian2 yang kena ASI harus diganti setiap kali digunakan oleh orang yg berbeda. Pompa hospital grade biasanya besar, dan memang botolnya diganti setiap dipakai orang yang berbeda....Kalau pompa individu, kalau mau diberikan atau dipinjamkan, semua bagian yg kena ASI HARUS diganti. Apalagi kalau sistemnya sewa, kita tidak tahu siapa yg menyewa sebelum kita, kesehatannya gimana, lalu bagaimana si orang itu dan tempat sewanya menjaga kebersihannya. Di luar negeri tidak boleh ada persewaan utk pompa individu, kecuali pompa kategori hospital grade...


ini penjelasan ttg keamanannya ya kenapa tidak boleh


US FDA (US Food and Drug Administration) dan LLL (La Leche league), sebuah kelompok pendukung ibu menyusui terbesar di dunia yang terdiri dari para ahli laktasi tidak menyarankan penggunaan pompa ASI personal bekas(non hospital grade) yang mana bagian2 yang terkena ASI-nya tidak diganti ketika digunakan oleh pengguna yang lain. Karena potensi penularan penyakit akibat virus terjadi akibat hal ini lebih besar. 


Quote dari website LLL http://www.llli.org/llleaderweb/lv/lvjunjul04p54.html: "A mother can have a virus in her milk without even knowing that she is a carrier. Some of the potentially dangerous viruses that can be transmitted through human milk include cytomegalovirus (CMV) and HIV (AIDS). Most mothers with CMV, for example, are unaware that they are a carrier. 


The FDA says:


There are certain risks presented by breast pumps that are reused by different mothers if they are not properly cleaned and sterilized. These risks include the transmission of infectious diseases...FDA believes that the proper cleaning and sterilization of breast pumps requires the removal of any fluid that has entered the pumping mechanism itself. If proper sterilization of the breast pump cannot be achieved, FDA recommends that it not be used by different mothers." dan It is not advisable to use a previously owned breast pump. Breast pumps are single-user products, or personal care items, much like a toothbrush, and are registered with the FDA as single user items. For safety, breast pumps should never be shared, resold, or lent among mothers. 


Dari FDA sendiri dijelaskan:


There’s also the decision of whether to buy or rent a breast pump. Many hospitals, lactation consultants and specialty medical supply stores rent breast pumps for use by multiple users, Daws-Kopp notes.


These pumps are designed to decrease the risk of spreading contamination from one user to the next, she says, and each renter needs to buy a new accessories kit that includes breast-shields and tubing.


“Sometimes these pumps are labeled “hospital grade,” says Daws-Kopp. “But that term is not one FDA recognizes, and there is no consistent definition. Consumers need to know it doesn’t mean the pump is safe or hygienic.”


Daws-Kopp adds that different companies may mean different things when they label a pump with this term, and that FDA encourages manufacturers to instead use the terms “multiple user” and “single user” in their labeling. “If you don’t know for sure whether a pump is meant for a single user or multiple users, it’s safer to just not get it,” she says.


The same precaution should be taken for “used” or second-hand pumps. 


Even if a used pump looks really clean, says Michael Cummings, M.D., an obstetrician-gynecologist at FDA, potentially infectious particles may survive in the breast pump and/or its accessories for a surprisingly long time and cause disease in the next baby.


sumber : http://www.llli.org/llleaderweb/lv/lvjunjul04p54.html


Thursday, November 2, 2017

Susu Kedelai Murni untuk Anak: Baguskah?

0 comments
Banyak ibu yang memberikan susu kedelai murni kepada anak dengan pertimbangan lebih baik daripada susu formula sapi.

Namun sebenarnya susu kedelai murni tidak disarankan untuk diberikan pada anak di bawah usia 1 tahun. 


Proses pengolahan susu kedelai pada intinya adalah proses ekstraksi protein pada kedelai yang kadarnya cukup tinggi..itu kenapa susu kedelai murni (bukan formula based soya ya...) tidak dianjurkan pada bayi di bawah 1 tahun. Susu sapi murni dan susu kedelai murni tinggi protein, lebih tinggi dr protein susu manusia. Kadar protein yg terlalu tinggi sulit diserap tubuh bayi di bawah 1 tahun. Itu kenapa dalam pengolahan susu sapi menjadi susu formula, kadar proteinnya sudah sangat diturunkan menjadi hampir serupa (walau tetap lbh tinggi) dari kadar protein ASI. Hal yg sama berlaku pada pengolahan formula-based soya. Itu kenapa pemberian  formula-based soyapun sebetulnya sama beresikonya dengan cow milk-based formula, krn bayi yg alergi protein susu sapi 40%-nya juga alergi protein soya.


Sementara pada pengolahan tempe dan bbrpp produk olahan kedelai seperti miso, yg terjadi adalah proses fermentasi.  Fermentasi mampu memecah protein menjadi asam amino sehingga lebih mudah diserap usus halus.  Sementara tahu dibuat dengan proses mengendapkan protein dari sari kedelai .Protein yg menggumpal dalam proses ini  lbh mudah dicerna usus.


Di beberapa negara maju seperti Australia misalnya, pemerintahnya sudah mengeluarkan larangan pemberian susu soya murni (bukan susu formula soya) pada bayi di bawah 1 tahun krn kadar protein yg tinggi itu tadi plus yg dikhawatirkan adalah kadar sodium yg tinggi. 


Baca juga artikel di Tempo ttg pendapat dr Zakiuddin Munasir, SpA yg kita ketahui sbg pakar alergi dan imunologi anak ttg resiko elemen aluminium dan serat pada susu kedelai murni yg belum diformulasikan utk konsumsi bayi:   http://www.tempo.co/read/news/2014/04/19/060571697/Perbedaan-Susu-Kedelai-untuk-Balita-dan-Dewasa

Wednesday, November 1, 2017

Susu Murni vs Susu Formula

0 comments

Kita membedakan antara susu murni (UHT dan pasteurisasi) dengan susu formula ya..


Susu UHT dan pasteurisasi adalah susu sapi yang dipanaskan dengan suhu tertentu utk menghilangkan bakteri agar aman dikonsumsi. kalau susu formula bagaimana? Apakah bentuknya masih cair? Nggak kan :) Sudah dalam bentuk bubuk dengan tambahan ini dan itu :) 


Kalau mau lihat bagaimana formula dibuat, silakan lihat bagan di link berikut: https://tentangteknikkimia.wordpress.com/2011/12/16/90/.


Sebegitu panjang prosesnya yg akhirnya membuat kita berpikir: lalu gizi susu aslinya ada di mana? Hanya sedikit, bahkan mungkin nyaris tidak ada :)  Dan akhirnya harus ditambahkan bentuk2 sintetisnya. Itu kenapa disebut "formula", krn pembuatannya harus diformulasikan sedemikian rupa agar memenuhi standar gizi yg seharusnya sesuai peruntukan susunya.


Karena sufor bukanlah produk steril dan punya berbagai resiko, itu kenapa pemberiannya seperti layaknya obat, dengan indikasi medis sesuai resep dokter. Mungkin bisa jalan2 ke dokumen grup ttg resiko sufor yg kajian penelitian ilmiahnya sudah banyak sekali kita cantumkan di sana: https://www.facebook.com/notes/asosiasi-ibu-menyusui-indonesia/resiko-pemberian-susu-formula/10152593394749778


Itu kenapa ada yg namanya Code WHO untuk pemberian dan promosi susu formula, bukan hanya formula bayi tapi juga formula lanjutan. Itu kenapa ada aturan bagaimana kode etik promosi sufor yg ditetapkan oleh WHO krn memang ada resiko2nya.


Nah, sementara untuk susu formula pertumbuhan utk anak di atas 1 tahun, sebetulnya keberadaan susu formula lanjutan hanya ada banyak di negara2 berkembang. Kalau kita lihat negara maju, sudah sedikit kok yg namanya susu formula pertumbuhan. Kalau sudah lewat masa ASI, anak akan konsumsi susu segar yang dipasteurisasi dalam jumlah yg terbatas. Dengan catatan bahwa konsumsi susu segar pun harus dilihat dalam kacamata asupan protein hewani. 


Dalam prakteknya di negara berkembang dan miskin, susu formula lanjutan sering jadi penyebab masalah kesulitan makan. Promosi dan penjualajn sufor panjutan yang sedemikian bebas telah menciptakan sebuah pola asupan yg buruk bagi anak.


Susu BUKAN sebagai penambal makanan apalagi pengganti makanan. Susu juga tidak harus selalu dikonsumsi dalam bentuk susu. Bisa daam bentuk produk turunannya seperti yoghurt, keju, atau dicampurkan dalam olahan makanan (kue, cemilan, smoothies, dsb). Jadi pemberian susu sapi atau susu lain setelah berhenti masa ASI 2 tahun atau lebih pada prinsipnya sama seperti halnya alasan kita memberikan ikan, memberikan telur, memberikan daging. Susu BUKAN super food, statusnya BUKAN penyempurna asupan harian manusia. Posisinya sama seperti sumber protein hewani lain dalam makanan. Kalau nggak minum susu bagaimana? Ya nggak apa-apa, pastikan sumber protein hewani lainnya terpenuhi dengan baik. 


Itu kenapa pemerintah mencabut 4 sehat 5 sempurna dan menggantinya dengan pedoman umum gizi seimbang. 

Coba lihat gambar di link berikut dan lihat di mana posisi susu dalam piramida makanan: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=271303493035695&set=oa.10152650394699778&type=3&theater


Bahasan tentang sufor lanjutan:


"WHO has reiterated its position that follow-on milks are unnecessary for 6-24 month infants and said they are nutritionally dubious"

Terjemahan: "WHO menyatakan bahwa susu lanjutan untuk anak usia 6 bulan hingga 24 bulan TIDAK DIPERLUKAN dan KANDUNGAN NUTRISINYA bahkan DIRAGUKAN"

Kutipan di atas diambil dari artikel ini: http://www.nutraingredients.com/.../WHO-Infant-follow-on...

Artikel di atas ditutup dengan: "Therefore, local, nutritious food should be introduced, while breastfeeding continues for up to two years or beyond...Follow up formula therefore unnecessary"

Terjemahan: "Sehingga, sumber makanan lokal yang bergizi harus dikenalkan pada bayi sementara menyusui dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih. Susu formula lanjutan tidak diperlukan"

Lengkapnya, sumber WHOnya bisa juga Anda baca dengan detail di sini: http://www.who.int/.../WHO_brief_fufandcode_post_17July.pdf


 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review