Friday, February 16, 2018

Persiapan Keberangkatan Studi S3 Bersama Keluarga

Sebenarnya agak "sulit" juga bagi saya untuk menuliskan pengalaman ini karena sebenarnya perjalanan yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Posisi saya saat ini, bisa dikatakan, belum sepenuhnya aman. Tapi saya coba tuliskan sekadar berbagi informasi saja ya...karena saya tahu sedikit sekali tulisan yang menceritakan dengan kasus student langsung berangkat bersama keluarga.

Saya berencana berangkat langsung bersama suami dan dua anak, dengan alasan tidak akan ada yang mengurus kedua anak saya selain saya dan suami. Apalagi yang kecil masih menyusu. Mayoritas biasanya awardee berangkat sendiri duluan, beberapa bulan kemudian baru keluarga menyusul. Kebijakan LPDP terkait hal ini juga berubah. Dulu awardee S2 pun mendapat family allowance, sekarang hanya awardee S3 saja yang dapat. Dulu family allowance keluar pada bulan ke 6, sekarang pada bulan ke 13. Dengan banyaknya kendala itu kemungkinan besar memang awardee berangkat sendiri dulu.

Oke saya ceritakan pengalaman saya setelah mendapat berita lulus beasiswa ya.
Setelah mendapat berita kelulusan tanggal 25 Oktober 2017, sehari kemudian saya mendapat email lagi yang memberitakan bahwa saya harus ikut Persiapan Keberangkatan (PK) pada tanggal 5-10 November. Jadi hanya selisih sekitar 10 hari. Kegiatan PK ini wajib diikuti oleh calon awardee LPDP dan kegiatan berlangsung selama 5 hari jam 05.00-21.00 tapi dengan banyak tugas jadi bisa tidur jam 00.00 atau mungkin lebih. 
Kegiatan PK ini asyik tapi cukup sekali saja saya mengikutinya. 

Pada kasus saya, saya minta ijin untuk membawa anak kedua karena masih menyusu. Dengan menyewa kamar sendiri tentunya dengan biaya pribadi. Singkat cerita, entah karena perubahan kondisi atau bagaimana, anak kedua saya sakit pada hari kedua. Jam 20.30 Axel panas tinggi dan karena punya riwayat kejang demam, saya langsung minta dilarikan ke RS terdekat. Alhamdulillah beberapa teman PK adalah dokter, jadi salah satunya ikut mengantar saya ke RS. Rasanya stres berat karena hanya ada saya dan pengasuh saja. Suami yang saya beri kabar, langsung memutuskan untuk menyusul saya ke Depok bersama Ayra first flight in the morning.

Rabu pagi suami tiba jam 9.30, sedangkan saya tidak boleh skip satu sesi pun sejak jam 05.00. Jadi selasa malam saya diskusi dengan suami bagaimana enaknya. Kalau saya skip satu sesi saja, saya akan dinyatakan mundur dari PK dan harus mengikut PK berikutnya, yang mana PK sampai desember sudah penuh. 
Suami memutuskan saya terus saja dan Rabu jam 05.00-09.30 Axel hanya akan ditunggu oleh pengasuhnya. Bayangkan perasaan saya harus membuat keputusan seperti itu. Jadi Rabu pagi saya kembali ke wisma dengan air mata. Untungnya teman2 PK banyak yang memahami perasaan saya.

Saya tidak menyarankan calon awardee lain untuk melakukan hal yang sama. Jika anak bisa ditinggal selama PK, maka lebih baik ditinggal. Jika tidak, maka memang perlu effort lebih. Semua ada konsekuensinya. Yang pasti harus dikuatkan niatnya. Saya pribadi memang berniat sejak pertama apply LPDP 2016, bahwa meski saya berusaha mencapai impian saya, tapi anak2 dan keluarga tetap menjadi prioritas saya. 
Rabu sampai jumat terasa begitu lama apalagi dengan kondisi anak diopname serta kabar dari suami bahwa panasnya masih sering muncul. Setiap malam selesai sesi sekitar jam 23.00, saya ijin duluan dan langsung kembali ke RS. Jam 4.30 saya kembali lagi ke wisma. Berat, tapi saya harus kuat demi anak.
Jumat acara bisa selesai jam 14, setelah beres2, saya checkout jam 15 langsung menuju RS. Tiket pesawat ke Surabaya malam itu akhirnya hangus karena kondisi Axel masih belum stabil. 

Sejak jumat sore saya berada di RS, Axel sudah tidak panas lagi sampai sabtu paginya. Dan dokter sudah mengijinkan pulang. Akhirnya kami pulang Sabtu sore. Sakit apakah Axel? Tidak jelas juga, hanya viral infection. Tapi jelas naluri keibuan saya bilang, ini kemungkinan karena saya berpisah lama darinya.

Dengan pertimbangan itu pula saya memutuskan untuk langsung berangkat berempat.



















Setelah PK, kita akan dikirimi Surat pernyataan dari LPDP yang harus ditandatangani di atas materai sebagai tanda kita sudah terikat kontrak dengan LPDP dan tidak bisa mundur lagi. Setelah itu, kita bisa langsung mengurus Letter of Sponsorship dan Letter of Guarantee untuk bisa dikirim ke universitas tujuan. Sehingga mereka bisa menerbitkan Confirmation of Enrollment (CoE). CoE ini digunakan salah satunya untuk mengurus visa.


To be continued

2 comments:

Wiwin Dwi Putri Ariani said...

That's great. Sangat memotivasi sekali bu 😊😍

andin said...

makasih Wiwin....gimana kabarmu? Sudah lulus ya?

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review