Thursday, March 15, 2018

It’s Hard but It Feels Right

Satu minggu sebelum keberangkatan dan kepindahan kami ke Canberra, perasaan saya sungguh campur aduk. Mulai dari khawatir kalau ada keperluan yang belum terurus, takut dengan semua yang belum pernah kami ketahui di sana, khawatir meninggalkan bapak saya, sedih meninggalkan segala hal yang kami kenal dan kami sayangi di sini.
Kemarin pembagian raport Ayra, saya sempat berdiskusi dengan guru kelasnya. Mereka menyatakan Ayra ini anak yang cerdas, secara kognitif maupun emosional. Satu bulan terakhir dia semakin sering cerita ke bu guru kalau dia akan pindah ke Australia. Rupanya ini adalah salah satu cara Ayra untuk mengungkapkan perasaannya, dia senang tapi juga sekaligus sedih (karena berpisah dari sahabat2nya) dan juga takut (dengan lingkungan dan apakah dia bisa mendapatkan teman seperti di sini). Sungguh emosional juga buat saya.

Belum lagi masalah Bapak. Saya juga kepikiran bapak nanti bagaimana setelah kami tinggal. Meski selama ini bapak juga jarang ikut urus anak2, tapi saya yakin rumah akan terasa sangat sepi tanpa teriakan dan tangisan anak2. Belumlagi dengan sifat bapak yang pasif dan tertutup, saya khawatir bapak akan semakin susah bersosialisasi.

Soal suami, sudah jelas sepertinya yaa...dia mengorbankan meninggalkan usahanya yang sedang berada di puncak untuk diserahkan ke adiknya. Meskipun dia bisa memantau dari jauh, saya paham betul bagaimana beratnya. Living in another country just to accompany his wife and kids. Dia nggak pernah ada keinginan tinggal di luar negeri memang.

Saya sendiri juga berat meninggalkan lingkungan saya yang sudah sangat nyaman. Dua kantor beserta seluruh karyawannya, sudah terasa seperti rumah kedua saya.

Tapi lagi-lagi, saya mengingatkan diri saya, bahwa inilah jalan yang telah diberikan oleh Allah, jawaban atas doa dan semua sholat malam saya selama ini. Usaha saya selama hampir 4 tahun dan mimpi saya sejak 15 tahun lalu, sejak mama masih ada.

Tahun 2006, mama sudah siap mendaftarkan saya kuliah S2 di Deakin University. Tapi entah, karena saya juga penakut, dan mungkin juga saat itu Bapak juga takut (well, sifat Bapak selalu takut dengan risiko sih), akhirnya saya batal kuliah di Aussie. Instead, saya masuk di S2 MARS Unair.

Believe it or not, rumah saya sekarang di Canberra masuk di suburb Deakin.
Such a coincidence.
Tapi buat Allah, tidak ada yang kebetulan, semua sudah dirancang olehNya.
We just have to believe in Him.

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review