Saturday, March 3, 2018

Persiapan Keberangkatan Studi S3 Bersama Keluarga (part 2)

Di postingan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai CoE. Proses masing2 tadi sekitar 7-10 hari kerja, tapi pernah juga dalam 24 jam sudah keluar. Semua proses dilakukan melalui laman Simonev dan Sipendob LPDP. Semua proses ini dijelaskan pada saat PK.

Setelah mendapatkan CoE, kita bisa memulai proses aplikasi visa. Karena urusan visa ini agak rumit menurut saya, maka saya minta bantuan dari agen pendidikan (yang saya gunakan adalah IDP). Persyaratan visa banyak sekali, apalagi saya harus mengurus visa untuk 4 orang.
Oh ya, Australia mempunyai peraturan bahwa semua orang yang menetap di sana (meski hanya student) harus mempunyai asuransi kesehatan. Ini biasa disebut Overseas Student Health Coverage (OSHC). Biaya OSHC ini cukup besar dan hanya OSHC Awardee saja yang ditanggung oleh LPDP. Sedangkan OSHC keluarga tidak ditanggung. Biaya OSHC tergantung durasi studi kita, jadi kalau seperti saya durasi 4 tahun maka saya harus bayar biaya untuk 4 tahun sebanyak 4 orang. Kalau nanti studi bisa selesai sebelum 4 tahun, katanya sih premi OSHC bisa dikembalikan. Silakan cek web universitas, untuk mengetahui provider mana yang bekerjasama dengan mereka. Biayanya bisa dilihat di web provider OSHC.

Salah satu persyaratan visa adalah sertifikat OSHC. Jadi jelas kita harus membayar OSHC dulu, baru bisa lodge visa. Persyaratan administrasi lainnya antara lain adalah bank statement bahwa kita mempunyai dana yang cukup untuk kehidupan keluarga kita. Ini diperlukan karena kita datang membawa keluarga. Ada jumlah minimal sesuai jumlah keluarga yang kita bawa. Lebih jelasnya saya sarankan konsultasi ke agen pendidikan. Bank statement ini minimal 3 bulan yaa..
Selain itu, dipersyaratkan juga surat referensi kerja.Sekali lagi, ini karena berangkat membawa keluarga yaa...Kalau yang berangkat student saja, urus visa tidak perlu pakai bank statement karena semua sudah ditanggung LPDP.

Syarat lainnya jika punya anak usia di atas 5 tahun adalah pengurusan sekolah di Canberra. Jadi sejak masih di Indonesia, kita sudah harus mulai mengurus sekolah anak. Untungnya di Canberra, sekolah anak bisa gratis dengan menggunakan visa student higher research degree. Jadi kita perlu memasukkan aplikasi via email dan menyatakan kita adalah student, nanti pihak dinas pendidikan akan mengeluarkan surat keterangan bahwa anak sudah diterima.
Setelah tiba di Canberra nanti, perlu datang langsung dengan menyerahkan alamat tinggal kita karena akan digunakan untuk mencari sekolah terdekat dengan rumah kita.

Jadi untuk mengurus persyaratan administrasi visa saja cukup memakan biaya, tenaga dan waktu.

Syarat lainnya adalah medical check up yang dilakukan di rumah sakit yang ditunjuk oleh Kedutaan Australia. Biaya medical check up ini tidak ditanggung oleh LPDP, bahkan untuk awardee sekalipun.
Setelah semua persyaratan terkumpul, bisa lodge visa. Biasanya visa akan granted sekitar 1 minggu, bisa lebih cepat. Tapi semakin cepat dimasukkan rasanya semakin baik. Biaya visa juga perhitungannya tergantung jenis visanya. Jadi lebih baik tanya ke agen pendidikan yaa.. Kasus saya, visa student (yang jenis research), additional dependent 18+ tidak dikenakan biaya. Sedangkan visa dependent anak2 memang free. Jadi alhamdulillah saya hanya bayar visa saya saja dan ini ditanggung oleh LPDP.

Setelah visa keluar, saatnya mencari akomodasi dan tiket pesawat. Tiket pesawat bisa dibeli melalui koperasi LPDP. Tiket pesawat awardee ditanggung LPDP, tapi tidak dengan keluarga.
Untuk akomodasi keluarga juga sangat berat, bahkan menurut saya, ini yang paling menguras emosi. Jadi sebenarnya saya sudah lihat2 iklan rumah yang disewakan sejak Januari (tidak ada yang melarang kok) tapi masalahnya mereka tentu tidak mau menunggu saya yang baru akan datang bulan Maret. Jadi kalau mau sewa sekarang sih boleh2 aja, tapi kan mahal banget yaaa....dan belum akan kita pakai. Mau disewakan ke orang lain pun tidak boleh.

Masalah kedua adalah peraturan negara mengharuskan keluarga dengan 2 anak wajib sewa rumah/apartemen dengan minimal 2 kamar. Jadi semua agen/pemilik tidak akan mau menyewakan rumah dengan 1 kamar ke kita, meski kita punya uangnya. Ini sudah saya coba. Saya coba lewat airBnB juga sama saja. Belum lagi jatuhnya lebih mahal dibanding kita sewa permanen.

Masalah ketiga adalah rumah yang sudah dihandle oleh agen memiliki persyaratan administrasi yang super ribet. Terutama untuk rumah dengan harga sewa > AUD300 per week. Kalau di Indonesia ribetnya setara kita mau ambil KPR ke bank untuk beli rumah... diminta surat keterangan kerja, slip gaji, dan lain2. Oleh karena itu, teman2 student di sana sejak awal sudah warning bakal sulit cari rumah permanen sejak awal. Kebanyakan memang awal datang dengan akomodasi temporer. Bisa di akomodasi kampus (dengan harga lebih mahal memang dan hanya boleh temporer untuk student yang bawa family), sublent ke rumah residen di sana atau menumpang di rumah mahasiswa Indonesia.
Atau mayoritas student datang sendiri dulu, keluarga menyusul beberapa bulan kemudian.

Tapi saya yakin semua sudah ada jalannya masing-masing. Yakin dengan pertolongan Allah. Alhamdulillah saya mendapatkan teman yang sangat baik di sana, padahal belum pernah bertemu. Kenalnya juga baru karena mau berangkat saja. Semoga mereka mendapat keberkahan dari Allah.

Sampai saat ini, kami sudah mengambil keputusan mengambil rumah permanen. Saya akan ceritakan lebih lengkap di postingan selanjutnya setelah kami sampai di sana ya..

Mohon doanya agar perjalanan kami dan masa transisi ini berjalan lancar. Amiinn yra..

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review