Friday, April 27, 2018

Being a Muslim in Canberra

0 comments
Menjadi seorang muslim di negara mayoritas non muslim merupakan pengalaman berharga bagi saya pribadi. Beberapa tahun terakhir, sejak saya menjadi lebih dewasa, saya lebih sering belajar ilmu agama lagi, atas keinginan sendiri. Beda sekali dengan belajar agama karena persyaratan sekolah, yang akhirnya menjadi sekadar asal bisa lulus mata pelajaran itu saja.

Lahir dan besar di negara yang mayoritas muslim, dari orang tua yang juga muslim, tentu saja saya menjadi muslim. Meski semakin besar, saya semakin mantap dengan pilihan ini.
Seringkali saya merasa dan sadar diri, kalau semua ritual ibadah yang saya lakukan hanya sekadar ritual saja tanpa paham maksudnya. Setelah punya anak, saya sering baca perjuangan para mualaf untuk bisa masuk Islam, dan juga perjuangannya untuk belajar agama Islam. Sedangkan saya? Hhhmmm....cuma untuk ujian sekolah aja...

Di Surabaya juga saya seringkali menggampangkan kondisi yang sangat kondusif bagi umat muslim. Mau sholat mudah, dimana2 ada musholla. Mau puasa, insyaAllah juga mudah, karena banyak teman muslim. Cari jajanan buka puasa juga mudah.

Sejak di Indonesia saya sempat berpikir justru mungkin para mualaf dan muslim yang tinggal di negara mayoritas non muslim yang sebenarnya beruntung karena mendapatkan kondisi yang membuatnya harus belajar lebih dalam sendiri. Akhirnya saya mendapat kesempatan itu.

Selasa dan Rabu lalu tanggal 24-25 April 2018 ustadz Abdul Somad datang ke Canberra atas undangan AIMFACT. Alhamdulillah saya berkesempatan hadir di hari Rabunya. Materinya sangat menarik dan bermanfaat.










Friday, April 20, 2018

Axel's Weaning With Love

0 comments
Kali ini saya akan menuliskan tentang perjalanan menyusui Axel, terutama saat ini dalam masa menyapih. Saat ini Axel berumur 3 tahun 3 bulan dan masih menyusu, alhamdulillaaah...

Pada dasarnya, saya pribadi memang tidak punya target kapan akan menyapih Axel. Beda dengan perjalanan menyapih Ayra dulu, agak "terpaksa" karena saya sudah hamil 8 bulan lebih, jadi suami meminta Ayra untuk disapih. Cerita lengkapnya ada di sini.

Axel yang punya riwayat kelainan jantung bawaan, meski sekarang sudah sembuh, dan lagi insyaAllah dia anak terakhir, jadi saya tidak punya target kapan harus berhenti menyusui Axel. Beberapa kali suami meminta Axel disapih sebelum pindah ke Canberra, karena alasannya takut Axel rewel, takut proses menyapih semakin susah di Canberra, dan lain-lain.

Saya hargai perasaan suami. Tapi saya tahu bahwa proses menyapih dengan cinta yang benar justru tidak dipatok target waktu. Prinsipnya adalah "do not offer, do not refuse". Jadi kalau Axel minta ya dikasih, kalau tidak minta ya jangan ditawari. Terkadang dia minta menyusu hanya saat dalam kondisi yang menurut dia tidak aman. Ada perasaan insecurity, bisa karena tempat baru atau orang baru. Tapi perlahan kami bisa menangani perasaan tidak amannya dengan cara yang lain. Saat dia mulai merasa tidak aman, perhatikan kebutuhannya. Kalau dia minta digandeng, ya gandeng. Butuh dipeluk ya dipeluk. Tidak serta merta menawarkan menyusu. Penuhi kebutuhannya sambil jelaskan kondisi yang membuat dia tidak nyaman.

Dalam kasus Axel, selain karena alasan pribadi (emaknya masih belum tega), juga karena menurut saya, perubahan kondisi drastis seperti pindah rumah (apalagi beda negara) akan membuat ketidaknyamanan yang sangat ekstrim. Jadi menyapih sebelum berangkat ke Canberra bukanlah keputusan yang tepat.

Satu bulan berada di Canberra, dua minggu pertama, Axel sering sekali rewel. Selalu ada saja yang membuat dia menangis. Waktu tidur malam pun demikian, seringkali dia terbangun dan menangis tidak jelas. Masuk minggu  ketiga baru Axel mulai agak enjoy. Makannya pun mulai banyak. Masuk minggu ke empat, makan semakin banyak dan menyusunya jauh berkurang.

Beberapa hari terakhir ini dia malah minta tidur sama papanya. FYI, sejak Ayra lahir, saya selalu tidur bersama anak (selain karena alasan kamarnya cuma 1 waktu di Surabaya dulu), juga karena saya selalu menyusui anak2. Waktu anak baru satu, suami masih bisa tidur sekamar juga. Begitu Axel lahir, suami sudah tidak mau tidur di kamar kami, karena Axel tidak tahan panas. Begitu AC dimatikan, dia pasti langsung bangun. Jadinya suami yang tidak tahan dingin, mengalah tidur di luar dengan kasur tambahan. Jadi sejak Axel lahir, saya selalu tidur bersama dua anak.

Nah dua hari terakhir ini Axel selalu minta pindah tidur sama papanya. Kemarin malam puncaknya, dia hanya menyusu 5 menit di kamar saya, tidak sampai tidur, kemudian dia minta tidur sama papa. Ayra pun akhirnya minta ikut tidur sama papa. Alhasil saya tidur sendirian di kamar saya.
Setelah 9 tahun menikah, akhirnya saya tidur sendiri lagii :))

Memang belum selesai perjalanan menyapih Axel, tapi ini adalah salah satu capaian yang luar biasa. Saya pribadi tidak terlalu berharap, karena dalam 5 hari ke depan, suami akan pulang ke Indonesia untuk 1 minggu. Bisa jadi Axel balik lagi banyak menyusu...hihi...

Ps. 20 April 2018:
Tidak perlu menunggu lama, keesokan harinya, Axel sudah minta tidur sama saya lagi. Cuma Ayra aja yang masih tidur sama papanya.
Well, perjalanan weaning masih jauh rupanya :D

Thursday, April 19, 2018

Salvos: Secondhand Store in Canberra

0 comments
Postingan kali ini saya akan menceritakan pengalaman membeli baju di secondhand store. Ada beberapa secondhand store yang terkenal di sini, antara lain Salvos, Green Shed, Smith Family dan Vinnies. Setelah 4 minggu berada di sini, baru 2 hari lalu saya mengunjungi Salvos, itu juga karena suami ada urusan dengan mobilnya di daerah dekat dengan Salvos sehingga saya harus ikut menunggui anak-anak.

Salvos ini merupakan bagian dari Salvation Army. Sepemahaman saya ini semacam unit usaha dari Australian Army. Mereka menerima donasi dari masyarakat berupa barang-barang yang sudah tidak dipakai lagi, yang kemudian akan dijual dengan harga murah oleh Salvos.
Ada beberapa cabang Salvos, dan yang saya datangi adalah di Fyshwick. Saya belum tahu juga beda antara cabang-cabang tersebut, but will update this post after I got a chance to go there.

Saya berencana untuk mencari winter boots untuk anak2, mengingat sepatu mereka, terutama Axel, dibawa dari Indonesia dan saya rasa tipis untuk suhu dingin Canberra. Sayangnya di Salvos Fyshwick kami belum berjodoh dengan sepatu anak2. Tapi alhamdulillah kami mendapatkan winter jackets untuk mereka berdua (plus saya juga siih). Harganya cukup murah untuk ukuran Canberra. Ayra mendapat jaket dengan harga $9, Axel $3,5 dan saya $7.
Foto jaket menyusul yaa...belum sempat difoto :)


Wednesday, April 18, 2018

Life in Canberra

0 comments
Tulisan kali ini akan bersifat deskriptif, bukan informatif, karena beberapa hal masih belum saya ketahui dan masih menjadi pertanyaan buat saya, let it be another time lessons :)
Tapi kalau ternyata tulisan ini ada manfaatnya buat orang lain (yang saya harap begitu yaa), alhamdulillah banget :)

Kali ini saya mau menuliskan tentang satu budaya yang simple tapi sangat berkesan buat saya. Selama 4 minggu berada di sini, setiap kali saya belanja, dimanapun di Canberra, mereka selalu tidak memberi saya kantong belanjaan. Kecuali kita memang minta. Ada beberapa tempat yang menyediakan gratis, ada juga yang harus bayar 15c atau sekitar Rp 2000. Sepengamatan saya, semua orang yang belanja di sini memang selalu membawa kantong belanjaan atau bahkan trolley sendiri.



Karena saya belum terbiasa, seringkali saya pergi cuma membawa tas punggung saja. Alhasil kalau beli barang yang kecil bisa langsung masuk backpack, tapi kalau agak besar dan tidak muat, saya terpaksa minta atau beli kantong belanja.

Kalau barang yang kita beli besar seperti ember, sapu dan pel ya benar-benar kita bawa sendiri pakai tangan. Tidak akan ada staf toko yang akan membantu kita membawakan ke parkiran, misalnya, seperti yang terjadi di toko besar di Surabaya.
Pada weekend pertama di Canberra, kami pergi ke KMart (yang terkenal murah di sini) untuk membeli beberapa peralatan rumah tangga. Waktu itu kami belum punya mobil, jadi kami menggunakan bus. Perjalanan menggunakan bis memakan waktu 1 jam. Membawa dua anak, apalagi Axel belum terbiasa jalan kaki, alhasil Axel minta gendong terus, alhamdulillah jadi olahraga :D
Untungnya saya sudah bawa Beco Toddler. Kami membeli dua ember, pel, sapu, cikrak, jepit jemuran, bantal tidur 2 buah dan beberapa benda kecil lainnya. Alhasil waktu pulang, saya dan suami saling berpandangan karena kesulitan membawanya dengan tangan saja dan masih harus jalan kaki menuju bus stop terdekat sekitar 600m.

Hal lain yang berbeda adalah saat kami belanja, barang belanjaan boleh dimasukkan langsung di troli belanjaan pribadi atau backpack (saat itu saya tidak bawa troli pribadi). Baru saat bayar di kasir, semua barang dikeluarkan lagi. Dalam hati saya terkagum-kagum dengan sistem ini, bagaimana kalau misalkan ada barang yang tidak dikeluarkan dan tidak dibayar? Pasti tidak akan ketahuan. Karena semua barang tidak ada yang diberi pengaman (saya tidak tahu namanya, kalau di Indonesia, yang biasanya harus dilepas saat di kasir, kalau tidak dilepas akan menimbulkan bunyi alarm).

Selain itu, ada juga self check out alias kasir bayar sendiri. Kita melakukan scan barcode semua barang yang kita beli, kemudian jika sudah semua, akan muncul jumlah total yang harus dibayar dan pilihan menggunakan kartu atau cash. Saya sempat khawatir kalau pakai cash, bagaimana dengan uang kembaliannya? Ternyata mesin itu bisa mengeluarkan uang kembaliannya juga. MasyaAllaah...

Sempat terpikir juga, bagaimana kalau misalkan kita ambil barang 10, tapi yang dibayar hanya 8? Saya kagum sekali dengan sistem ini dimana semua orang jujur dan disiplin.

Di sisi lain, saya miris dengan kondisi di Indonesia. Semua orang yang masuk toko dengan menggunakan tas besar atau backpack, harus menitipkan tasnya untuk menghindari pencurian barang di toko. Bahkan semua tas diperiksa. Memang kondisi masyarakat Indonesia belum bisa seperti masyarakat Canberra dan banyak faktor lain yang lebih sistematis di Indonesia yang bisa menjadi penyebabnya. Tapi yang membuat saya malu adalah katanya Indonesia merupakan negara dengan muslim terbanyak. Saya malu sebagai umat Islam tapi kalah jauh mengenai nilai kejujuran dengan negara yang mayoritasnya non muslim.

Well semoga dengan semakin banyaknya orang Indonesia yang sekolah di luar negeri, bisa semakin membawa banyak budaya baik masuk ke Indonesia. Amiinn yra.

Monday, April 16, 2018

The Ten Steps to Successful Breastfeeding (2018 revised)

0 comments
Tanggal 11 April lalu baru saja diluncurkan Ten Steps to Successful Breastfeeding (selanjutnya disebut Ten Steps) edisi revisi 2018. Dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan sebagai 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (10 LMKM). Sebelumnya telah disusun Ten Steps dan telah diadopsi dalam peraturan perundangan Indonesia yaitu antara lain dalam Peraturan Pemerintah no. 33 tahun 2012 tentang ASI Eksklusif. Sehingga kebijakan 10 LMKM ini sebenarnya merupakan kewajiban bagi semua fasilitas kesehatan (faskes) yang melayani kehamilan dan persalinan. 

Ten Steps edisi 2018 tentu saja belum diadopsi dalam peraturan Indonesia. Lebih lengkapnya, silakan baca di sini













Ini beberapa perbedaan kedua versi Ten Steps dan catatan dari saya.


Ten Steps
Ten Steps (2018)
Differences/comments
1.       Have a written breastfeeding policy that is routinely communicated to all healthcare staff
1a. Comply fully with the International Code of Marketing of Breastmilk Substitutes and relevant World Health Assembly resolutions.
Hospitals are encouraged to read and comply the Code
1b. Have a written infant feeding policy that is routinely communicated to staff and parents
Same with the previous one
1c. Establish ongoing monitoring and data-management systems
Hospitals are encouraged to make system to monitor and evaluate simultaneously. It is a non-stop process
2.       Train all healthcare staff in skills necessary to implement this policy
2.       Ensure that staff have sufficient knowledge, competence and skills to support breastfeeding.
The word “train” explain that hospital only provide training but not responsible in its practice. While the newest version implies that hospitals should make sure that all staff are able to support breastfeeding, regardless the methods. It means hospitals can use any methods, not only training.
3.       Inform all pregnant women about the benefits and management of breastfeeding
3.       Discuss the importance and management of breastfeeding with pregnant women and their families.
The old version use the word “inform” and it implies one-way communication. While the newest version use “discuss” implying two-way communication. 
The old version mentions “all pregnant women”, while the new version mentions “…..and their families”, it means the infants’ families should be involved.
4.       Help mothers initiate breastfeeding within one half-hour of birth
4.       Facilitate immediate and uninterrupted skin-to-skin contact and support mothers to initiate breastfeeding as soon as possible after birth.
·         The old version use the word “help” while the new version use word “facilitate” which means hospitals should not only help physically but also assist and provide anything to do initial breastfeeding. It is also interesting that in the new version, it use the term “skin-to skin contact” which means ‘”skin contact” is the priority.
·         The old version use term “one half hour of birth” means there is limitation to this process. While the new version use term “as soon as possible” which means it can be done as soon as the routine medical intervention, or other life-saving intervention, has done.
5.       Show mothers how to breastfeed and maintain lactation, even if they should be separated from their infants
5.       Support mothers to initiate and maintain breastfeeding and manage common difficulties.
·         The old version use term “show” which implies the hospital staffs should practice physically in front of the mothers. While the new version use term “support” which implies hospital staffs should provide anything to support including using counselling language and positive gesture.
·         The old version mention mother-infant separation, while the new one mention common difficulties. This implies not only separation, but also other challenges, such as nipple crack and low-supply breastmilk perception.
6.       Give newborn infants no food or drink other than breastmilk, unless medically indicated
6.       Do not provide breastfed newborns any food or fluids other than breast milk, unless medically indicated.
The old version use term “give” means hospital could provide other food or fluid, just not allowed to give it to breastfed babies. While the new one use term “provide”. It implies that hospitals should not only give, but also prohibited to provide other food or fluids to breastfed baby
7.       Practice rooming in – that is allow mothers and infants to remain together 24 hours a day
7.       Enable mothers and their infants to remain together and to practise rooming-in 24 hours a day.
--
8.       Encourage breastfeeding on demand
8.       Support mothers to recognize and respond to their infants’ cues for feeding.
The new version prioritize the hospital to help and assist the mothers to learn their infants’ feeding cues. It is more “practical” term than “breastfeeding on demand” term.
9.       Give no artificial teats or pacifiers (also called dummies or soothers) to breastfeeding infants
9.       Counsel mothers on the use and risks of feeding bottles, teats and pacifiers.
The old version prohibits hospitals to give artificial teats and pacifiers to breastfed babies without giving explanation the risk and reason behind this. While the new one, making the mother as the decision maker after receiving a valid information of the use and the risk.
10.   Foster the establishment of breastfeeding support groups and refer mothers to them on discharge from the hospital or clinic
10.   Coordinate discharge so that parents and their infants have timely access to ongoing support and care.
The establishment of breastfeeding support groups is no longer being hospital responsibility. Hospital just need to plan well on their discharge and make sure that the parent and infants will have access to proper support and care.


Panduan penerapan Baby Friendly Hospital Initiative 2018 bisa diunduh di sini

Friday, April 13, 2018

The Main Reason for Pursuing a PhD

3 comments
Melanjutkan sekolah ke jenjang S3 memang bukan menjadi kewajiban bagi pekerjaan saya (apalagi pekerjaan saya bukan merupakan mainstream profession di Indonesia). Selain karena pada dasarnya saya tipe orang yang senang belajar/baca buku/sekolah (berkebalikan dengan suami yang langsung ngantuk kalau dikasih buku), sebenarnya ada alasan utama kenapa saya melanjutkan sekolah lagi.

Memang impian saya sejak dulu untuk bisa mencicipi sekolah di negara maju (bahkan almarhumah mama juga mendukung), tapi seiring beranak-pinaknya saya, semakin banyak pertimbangan dan tidak mudah untuk mengambil keputusan besar seperti ini. Mendapatkan beasiswa, melanjutkan sekolah lagi di negara maju memang terlihat menyenangkan, tapi banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus diambil. Kuliah di luar negeri tidak hanya ada sisi menyenangkannya saja, tapi juga ada perjuangan besar terutama jika kita sudah berkeluarga.

Salah satu peristiwa besar dalam hidup saya adalah ketika Axel operasi jantung terbuka (cerita lengkap ada di sini). Betapa saat itu adalah momen paling menguras emosi saya sebagai ibu, my most vulnerable moment. Saat itu benar-benar merasa kuasa hanya milik Allah semata. Mau sebanyak apapun uang atau jabatan kita, sepintar apapun dokter yang menanganinya, apapun bisa terjadi saat proses operasi jantung terbuka.
Setelah Axel keluar dari kamar operasi dan kemudian menginap di ICU selama 3 hari terpisah dari saya, pihak RS dan perawat mengijinkan dan bersedia memberikan ASI perah saya ke Axel melalui selang. Kemudian Axel pindah ke Intermediate Ward, dan dokter mengijinkan saya untuk menyusuinya langsung, kemudian recovery Axel berjalan lancar dan cepat. Saya yakin, selain kuasa Allah, menyusui juga mempercepat proses recovery-nya.

Sempat terpikir, bagaimana kalau saat itu dokter tidak mengijinkan pemberian ASIP atau juga menyusui langsung? Karena saya tahu, tidak semua RS mempunyai kebijakan sayang bayi. Ilmu tentang kebijakan RS, saya punya. Ilmu tentang laktasi, insyaAllah saya juga punya. Tapi bagaimana jika saat itu RS benar-benar tidak mengijinkan? Bagaimana pasien lain yang kebetulan tidak bisa mendapatkan RS yang sayang bayi?

Sejak itulah, saya me-nadzar-kan diri saya untuk mendalami bidang ini. Ini juga yang membuat saya mengambil topik penelitian mengenai kebijakan menyusui di rumah sakit. Ini juga sudah ditanyakan oleh interviewer LPDP saat seleksi (meski di seleksi pertama saya gagal).

Mungkin alasan saya ini terdengar klise dan naif. Tapi saya tahu tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah dan bermanfaat untuk orang lain. Kalau memang saya bisa bermanfaat untuk orang lain di bidang ini, so be it. Saya menyerahkan hidup saya pada Allah jika memang ini "tugas" yang harus saya lakukan di dunia.

Kenapa pilih di luar negeri?
Selain karena alasan pribadi (memang ingin belajar di negara maju), Australia menurut saya juga memiliki sistem kesehatan yang sudah mapan. Kebijakan tentang menyusui secara makro sudah tersusun. 
Kenapa tidak di negara lain misalnya Amerika atau Eropa?
Well, ini alasan naif siih, saya cari negara maju yang paling dekat dari Indonesia 😁
Kenapa bukan di Singapura?
I dont know, tapi saya lihat secara sekilas, Australia memiliki kebijakan menyusui yang lebih bagus. Selain itu banyak pakar dalam bidang laktasi yang berasal dari Australia. In fact, supervisor kedua saya adalah Julie Smith yang sudah menulis puluhan, bahkan mungkin ratusan, artikel jurnal dan tulisan ilmiah lainnya dalam topik laktasi.

Salah satu tantangan adalah suami dan anak2. Tapi saya terus berdoa bahwa jika memang "tugas" saya ini cukup dilakukan di Indonesia dengan peran saya terdahulu, dan memang sekolah lagi di Australia tidak baik untuk kami sekeluarga, maka saya berdoa untuk digagalkan saja. Jika memang peran saya harus diupgrade dengan cara sekolah di Aussie dan ini juga bermanfaat bagi kami sekeluarga, maka saya berdoa untuk dilancarkan, apapun perjuangan yang harus kami lalui. Suami pernah bilang, jangan mengurusi anaknya orang lain, tapi anak sendiri terlantar. Saya selalu ingat kalimat itu dan menjadi pegangan saya. Itu juga alasan kenapa saya berangkat langsung berempat, tidak seperti mayoritas awardee.

Saya tahu ijin paling utama adalah dari suami. Maka suami sudah saya ajak bicara sejak awal. Meskipun "bahasa" kami berbeda, well, saya rasa itu juga bagian dari ujiannya.

Sekarang kami sudah di Canberra, dan saya mengerjakan penelitian saya terkait kebijakan menyusui di rumah sakit di Indonesia. Semoga Allah selalu meridhoi. Amiinn yra... 




Tuesday, April 10, 2018

Our First Three Weeks in Canberra

2 comments
Alhamdulillah kami telah sampai di Canberra hari Kamis tanggal 22 Maret 2018 setelah menempuh perjalanan selama hampir 14 jam. Anak-anak nggak ada yang rewel, koper nggak ada yang dibuka2 oleh pihak imigrasi. Banyak sekali perubahan yang kami alami, antara lain:

  1. Iklim. Jelas di Canberra lebih dingin, apalagi dibandingkan Surabaya, kota yang terkenal sangat panas. Suhu di sini antara 8 derajat di pagi hari, siang yang paling tinggi mencapai 28 derajat, dan turun lagi mulai setelah maghrib. Kami sampai2 tidak bisa bergerak di hari pertama kedua, sehingga suami langsung memutuskan membeli electric blanket, padahal itu di luar budget kami.
  2. Transportasi. Kebiasaan di Surabaya, atau di Indonesia pada umumnya adalah menggunakan kendaraan pribadi, kalaupun kendaraan umum, terbanyak ya berupa taksi atau ojek online. Jadi pasti dijemput dari depan pintu, sampai ke depan pintu. Di sini transportasi publiknya menggunakan bis. Kita harus menunggu di halte yang telah ditentukan. Bis beroperasi hampir 24 jam. Tapi tentu saja dari rumah menuju halte atau dari halte menuju kampus, kita harus jalan kaki. Dalam sehari saya harus jalan kaki sekitar 1-1,2 km rata-rata. Pernah juga saya harus jalan 1,7km untuk menuju masjid dari kampus. 
  3. Peralatan rumah. Yang paling berbeda adalah toilet di sini kering semua. Padahal kami tidak biasa dengan itu. Apalagi Axel, yang masih belum lulus toilet training. Bayangkan susahnya membersihkan pup dari diapersnya di toilet kering. Yang berbeda lagi adalah kompornya. Di sini menggunakan kompor listrik, yang menurut saya panasnya lamaaaaa banget. Jadi untuk bikin telur goreng saja, bisa saya tinggal pipis dulu.
  4. Bahan masakan. Sebenarnya banyak bahan masakan siap masak tapi lagi-lagi citarasanya berbeda. Pernah kami membeli pizza tinggal oven saja. Tapi ternyata rasanya beda dengan di Indonesia.Bentuk bayamnya juga beda. Jangan mencari kangkung di sini, karena memang tidak ada. Dan masih banyak lagi lainnya.
  5. Budaya dan kebiasaan. Sejauh ini yang saya terima adalah orang Canberra aslinya baik, nggak kepo nanya kamu ngapain aja hari ini, habis dari mana, dan sejenisnya. Ya biasa aja kalau kita datang terlambat, pakai baju yang lecek, dan lain2 selama nggak mengganggu mereka. Tapi kalau kita butuh bantuan dan bertanya ke mereka, mereka dengan senang hati akan menjawab.
Rasanya saya pribadi sudah mendapat pelajaran hidup yang sangat berharga di tiga minggu pertama ini. Pertemuan dengan supervisor saya, Jane Desborough, juga lancar alhamdulillaah. Jane sangat baik. Next time saya ceritakan background saya melanjutkan S3 dan bagaimana awal mula perkenalan dengan Jane, insyaAllah.

Rumah yang kami sewa juga kosongan, hanya sudah tersedia kompor, mesin cuci dan oven. Jadi selain itu masih kosong. Alhamdulillah kami mendapat bantuan dari mbak Depi dan mbak Lola (beserta suami2nya) untuk membantu kami melengkapi perabot utama rumah, seperti kasur. 
Perlahan tapi pasti, kami mendapat bantuan lagi untuk melengkapi kebutuhan rumah.

Dua minggu pertama saya gunakan untuk membiasakan diri dengan kehidupan sehari-hari, fokus utama saya untuk daily life dulu. Bahkan di minggu pertama kami semua kena flu karena perubahan suhu yang cukup ekstrim. Meski flu, saya tetap beraktivitas, seperti misalnya melaporkan kedatangan ke KBRI (ini penting sebagai syarat pengajuan pencairan dana LPDP), mengaktivasi rekening bank Australia (supaya dana bisa langsung ditransfer ke bank Aussie), mengurus student card (untuk bisa mendapatkan segala fasilitas di kampus), membeli dan mengisi kartu MyWay (sebagai student mendapat harga khusus), beli sapu dan pel, ember, dan sebagainya. Sepertinya hal-hal sepele, tapi banyaaak sekali yang harus kami urus.

Saya tidak menargetkan apa-apa di minggu-minggu pertama ini. Saya tahu perubahan cukup banyak, sehingga tidak perlu pasang target dan bisa lebih ikhlas jika semua tidak se-sempurna biasanya. Bahkan kami hanya mandi 1x per hari, setrika baju hanya 1x per minggu, dan sebagainya. Oh ya, kami juga minum dari air keran >.<

Di hari libur Easter kami juga menyempatkan diri mengikuti Great Easter Egg Trail di Old Parliament House. Kegiatan ini tidak ada kaitannya dengan ritual agama. Kami diberi satu lebar kertas yang berisi pertanyaan/clue dan kami harus mengisi kotak yang disediakan. Jika sudah terisi semua, dan mendapatkan kata kunci yang benar, bisa kami tukarkan dengan coklat telur. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum.

Minggu kedua kami mulai mengontak sekolah Ayra. Yarralumla Primary School merupakan sekolah terdekat dari rumah kami. Tapi karena Ayra harus masuk Introductory English Program dulu, maka dia harus bersekolah di Hughes Primary School dulu sebagai center yang memiliki IEP di south Canberra.
Senin lalu tanggal 9 April 2018, hari pertama Ayra masuk sekolah. Dan sampai hari ini (hari ke empat), she seemed enjoyed. And that's all that matters for now.

Bagaimana dengan Axel? Di minggu pertama dan kedua, dia masih sering cranky, mellow dan needy. Lebih banyak merengek, menangis dan nggak mau lepas dari saya. Tapi masuk minggu ketiga, dia mulai bisa lebih relax, dan senangnya, makannya mulai banyaaak!
Alhamdulillaaahh....





 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review