Wednesday, April 18, 2018

Life in Canberra

Tulisan kali ini akan bersifat deskriptif, bukan informatif, karena beberapa hal masih belum saya ketahui dan masih menjadi pertanyaan buat saya, let it be another time lessons :)
Tapi kalau ternyata tulisan ini ada manfaatnya buat orang lain (yang saya harap begitu yaa), alhamdulillah banget :)

Kali ini saya mau menuliskan tentang satu budaya yang simple tapi sangat berkesan buat saya. Selama 4 minggu berada di sini, setiap kali saya belanja, dimanapun di Canberra, mereka selalu tidak memberi saya kantong belanjaan. Kecuali kita memang minta. Ada beberapa tempat yang menyediakan gratis, ada juga yang harus bayar 15c atau sekitar Rp 2000. Sepengamatan saya, semua orang yang belanja di sini memang selalu membawa kantong belanjaan atau bahkan trolley sendiri.



Karena saya belum terbiasa, seringkali saya pergi cuma membawa tas punggung saja. Alhasil kalau beli barang yang kecil bisa langsung masuk backpack, tapi kalau agak besar dan tidak muat, saya terpaksa minta atau beli kantong belanja.

Kalau barang yang kita beli besar seperti ember, sapu dan pel ya benar-benar kita bawa sendiri pakai tangan. Tidak akan ada staf toko yang akan membantu kita membawakan ke parkiran, misalnya, seperti yang terjadi di toko besar di Surabaya.
Pada weekend pertama di Canberra, kami pergi ke KMart (yang terkenal murah di sini) untuk membeli beberapa peralatan rumah tangga. Waktu itu kami belum punya mobil, jadi kami menggunakan bus. Perjalanan menggunakan bis memakan waktu 1 jam. Membawa dua anak, apalagi Axel belum terbiasa jalan kaki, alhasil Axel minta gendong terus, alhamdulillah jadi olahraga :D
Untungnya saya sudah bawa Beco Toddler. Kami membeli dua ember, pel, sapu, cikrak, jepit jemuran, bantal tidur 2 buah dan beberapa benda kecil lainnya. Alhasil waktu pulang, saya dan suami saling berpandangan karena kesulitan membawanya dengan tangan saja dan masih harus jalan kaki menuju bus stop terdekat sekitar 600m.

Hal lain yang berbeda adalah saat kami belanja, barang belanjaan boleh dimasukkan langsung di troli belanjaan pribadi atau backpack (saat itu saya tidak bawa troli pribadi). Baru saat bayar di kasir, semua barang dikeluarkan lagi. Dalam hati saya terkagum-kagum dengan sistem ini, bagaimana kalau misalkan ada barang yang tidak dikeluarkan dan tidak dibayar? Pasti tidak akan ketahuan. Karena semua barang tidak ada yang diberi pengaman (saya tidak tahu namanya, kalau di Indonesia, yang biasanya harus dilepas saat di kasir, kalau tidak dilepas akan menimbulkan bunyi alarm).

Selain itu, ada juga self check out alias kasir bayar sendiri. Kita melakukan scan barcode semua barang yang kita beli, kemudian jika sudah semua, akan muncul jumlah total yang harus dibayar dan pilihan menggunakan kartu atau cash. Saya sempat khawatir kalau pakai cash, bagaimana dengan uang kembaliannya? Ternyata mesin itu bisa mengeluarkan uang kembaliannya juga. MasyaAllaah...

Sempat terpikir juga, bagaimana kalau misalkan kita ambil barang 10, tapi yang dibayar hanya 8? Saya kagum sekali dengan sistem ini dimana semua orang jujur dan disiplin.

Di sisi lain, saya miris dengan kondisi di Indonesia. Semua orang yang masuk toko dengan menggunakan tas besar atau backpack, harus menitipkan tasnya untuk menghindari pencurian barang di toko. Bahkan semua tas diperiksa. Memang kondisi masyarakat Indonesia belum bisa seperti masyarakat Canberra dan banyak faktor lain yang lebih sistematis di Indonesia yang bisa menjadi penyebabnya. Tapi yang membuat saya malu adalah katanya Indonesia merupakan negara dengan muslim terbanyak. Saya malu sebagai umat Islam tapi kalah jauh mengenai nilai kejujuran dengan negara yang mayoritasnya non muslim.

Well semoga dengan semakin banyaknya orang Indonesia yang sekolah di luar negeri, bisa semakin membawa banyak budaya baik masuk ke Indonesia. Amiinn yra.

0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review