Our First Three Weeks in Canberra

Alhamdulillah kami telah sampai di Canberra hari Kamis tanggal 22 Maret 2018 setelah menempuh perjalanan selama hampir 14 jam. Anak-anak nggak ada yang rewel, koper nggak ada yang dibuka2 oleh pihak imigrasi. Banyak sekali perubahan yang kami alami, antara lain:

  1. Iklim. Jelas di Canberra lebih dingin, apalagi dibandingkan Surabaya, kota yang terkenal sangat panas. Suhu di sini antara 8 derajat di pagi hari, siang yang paling tinggi mencapai 28 derajat, dan turun lagi mulai setelah maghrib. Kami sampai2 tidak bisa bergerak di hari pertama kedua, sehingga suami langsung memutuskan membeli electric blanket, padahal itu di luar budget kami.
  2. Transportasi. Kebiasaan di Surabaya, atau di Indonesia pada umumnya adalah menggunakan kendaraan pribadi, kalaupun kendaraan umum, terbanyak ya berupa taksi atau ojek online. Jadi pasti dijemput dari depan pintu, sampai ke depan pintu. Di sini transportasi publiknya menggunakan bis. Kita harus menunggu di halte yang telah ditentukan. Bis beroperasi hampir 24 jam. Tapi tentu saja dari rumah menuju halte atau dari halte menuju kampus, kita harus jalan kaki. Dalam sehari saya harus jalan kaki sekitar 1-1,2 km rata-rata. Pernah juga saya harus jalan 1,7km untuk menuju masjid dari kampus. 
  3. Peralatan rumah. Yang paling berbeda adalah toilet di sini kering semua. Padahal kami tidak biasa dengan itu. Apalagi Axel, yang masih belum lulus toilet training. Bayangkan susahnya membersihkan pup dari diapersnya di toilet kering. Yang berbeda lagi adalah kompornya. Di sini menggunakan kompor listrik, yang menurut saya panasnya lamaaaaa banget. Jadi untuk bikin telur goreng saja, bisa saya tinggal pipis dulu.
  4. Bahan masakan. Sebenarnya banyak bahan masakan siap masak tapi lagi-lagi citarasanya berbeda. Pernah kami membeli pizza tinggal oven saja. Tapi ternyata rasanya beda dengan di Indonesia.Bentuk bayamnya juga beda. Jangan mencari kangkung di sini, karena memang tidak ada. Dan masih banyak lagi lainnya.
  5. Budaya dan kebiasaan. Sejauh ini yang saya terima adalah orang Canberra aslinya baik, nggak kepo nanya kamu ngapain aja hari ini, habis dari mana, dan sejenisnya. Ya biasa aja kalau kita datang terlambat, pakai baju yang lecek, dan lain2 selama nggak mengganggu mereka. Tapi kalau kita butuh bantuan dan bertanya ke mereka, mereka dengan senang hati akan menjawab.
Rasanya saya pribadi sudah mendapat pelajaran hidup yang sangat berharga di tiga minggu pertama ini. Pertemuan dengan supervisor saya, Jane Desborough, juga lancar alhamdulillaah. Jane sangat baik. Next time saya ceritakan background saya melanjutkan S3 dan bagaimana awal mula perkenalan dengan Jane, insyaAllah.

Rumah yang kami sewa juga kosongan, hanya sudah tersedia kompor, mesin cuci dan oven. Jadi selain itu masih kosong. Alhamdulillah kami mendapat bantuan dari mbak Depi dan mbak Lola (beserta suami2nya) untuk membantu kami melengkapi perabot utama rumah, seperti kasur. 
Perlahan tapi pasti, kami mendapat bantuan lagi untuk melengkapi kebutuhan rumah.

Dua minggu pertama saya gunakan untuk membiasakan diri dengan kehidupan sehari-hari, fokus utama saya untuk daily life dulu. Bahkan di minggu pertama kami semua kena flu karena perubahan suhu yang cukup ekstrim. Meski flu, saya tetap beraktivitas, seperti misalnya melaporkan kedatangan ke KBRI (ini penting sebagai syarat pengajuan pencairan dana LPDP), mengaktivasi rekening bank Australia (supaya dana bisa langsung ditransfer ke bank Aussie), mengurus student card (untuk bisa mendapatkan segala fasilitas di kampus), membeli dan mengisi kartu MyWay (sebagai student mendapat harga khusus), beli sapu dan pel, ember, dan sebagainya. Sepertinya hal-hal sepele, tapi banyaaak sekali yang harus kami urus.

Saya tidak menargetkan apa-apa di minggu-minggu pertama ini. Saya tahu perubahan cukup banyak, sehingga tidak perlu pasang target dan bisa lebih ikhlas jika semua tidak se-sempurna biasanya. Bahkan kami hanya mandi 1x per hari, setrika baju hanya 1x per minggu, dan sebagainya. Oh ya, kami juga minum dari air keran >.<

Di hari libur Easter kami juga menyempatkan diri mengikuti Great Easter Egg Trail di Old Parliament House. Kegiatan ini tidak ada kaitannya dengan ritual agama. Kami diberi satu lebar kertas yang berisi pertanyaan/clue dan kami harus mengisi kotak yang disediakan. Jika sudah terisi semua, dan mendapatkan kata kunci yang benar, bisa kami tukarkan dengan coklat telur. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum.

Minggu kedua kami mulai mengontak sekolah Ayra. Yarralumla Primary School merupakan sekolah terdekat dari rumah kami. Tapi karena Ayra harus masuk Introductory English Program dulu, maka dia harus bersekolah di Hughes Primary School dulu sebagai center yang memiliki IEP di south Canberra.
Senin lalu tanggal 9 April 2018, hari pertama Ayra masuk sekolah. Dan sampai hari ini (hari ke empat), she seemed enjoyed. And that's all that matters for now.

Bagaimana dengan Axel? Di minggu pertama dan kedua, dia masih sering cranky, mellow dan needy. Lebih banyak merengek, menangis dan nggak mau lepas dari saya. Tapi masuk minggu ketiga, dia mulai bisa lebih relax, dan senangnya, makannya mulai banyaaak!
Alhamdulillaaahh....





  1. Waaah seru ya, Ndin. Tapi alhamdulillah bisa melewati masa awal adaptasi dg baik. Be happy n healthy always there ya Andin & klrg. Ditunggu cerita2 selanjutnya ��

    ReplyDelete
  2. amiinnn yra...makasih ipop :*

    ReplyDelete

Designed by FlexyCreatives