Friday, April 13, 2018

The Main Reason for Pursuing a PhD

Melanjutkan sekolah ke jenjang S3 memang bukan menjadi kewajiban bagi pekerjaan saya (apalagi pekerjaan saya bukan merupakan mainstream profession di Indonesia). Selain karena pada dasarnya saya tipe orang yang senang belajar/baca buku/sekolah (berkebalikan dengan suami yang langsung ngantuk kalau dikasih buku), sebenarnya ada alasan utama kenapa saya melanjutkan sekolah lagi.

Memang impian saya sejak dulu untuk bisa mencicipi sekolah di negara maju (bahkan almarhumah mama juga mendukung), tapi seiring beranak-pinaknya saya, semakin banyak pertimbangan dan tidak mudah untuk mengambil keputusan besar seperti ini. Mendapatkan beasiswa, melanjutkan sekolah lagi di negara maju memang terlihat menyenangkan, tapi banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus diambil. Kuliah di luar negeri tidak hanya ada sisi menyenangkannya saja, tapi juga ada perjuangan besar terutama jika kita sudah berkeluarga.

Salah satu peristiwa besar dalam hidup saya adalah ketika Axel operasi jantung terbuka (cerita lengkap ada di sini). Betapa saat itu adalah momen paling menguras emosi saya sebagai ibu, my most vulnerable moment. Saat itu benar-benar merasa kuasa hanya milik Allah semata. Mau sebanyak apapun uang atau jabatan kita, sepintar apapun dokter yang menanganinya, apapun bisa terjadi saat proses operasi jantung terbuka.
Setelah Axel keluar dari kamar operasi dan kemudian menginap di ICU selama 3 hari terpisah dari saya, pihak RS dan perawat mengijinkan dan bersedia memberikan ASI perah saya ke Axel melalui selang. Kemudian Axel pindah ke Intermediate Ward, dan dokter mengijinkan saya untuk menyusuinya langsung, kemudian recovery Axel berjalan lancar dan cepat. Saya yakin, selain kuasa Allah, menyusui juga mempercepat proses recovery-nya.

Sempat terpikir, bagaimana kalau saat itu dokter tidak mengijinkan pemberian ASIP atau juga menyusui langsung? Karena saya tahu, tidak semua RS mempunyai kebijakan sayang bayi. Ilmu tentang kebijakan RS, saya punya. Ilmu tentang laktasi, insyaAllah saya juga punya. Tapi bagaimana jika saat itu RS benar-benar tidak mengijinkan? Bagaimana pasien lain yang kebetulan tidak bisa mendapatkan RS yang sayang bayi?

Sejak itulah, saya me-nadzar-kan diri saya untuk mendalami bidang ini. Ini juga yang membuat saya mengambil topik penelitian mengenai kebijakan menyusui di rumah sakit. Ini juga sudah ditanyakan oleh interviewer LPDP saat seleksi (meski di seleksi pertama saya gagal).

Mungkin alasan saya ini terdengar klise dan naif. Tapi saya tahu tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah dan bermanfaat untuk orang lain. Kalau memang saya bisa bermanfaat untuk orang lain di bidang ini, so be it. Saya menyerahkan hidup saya pada Allah jika memang ini "tugas" yang harus saya lakukan di dunia.

Kenapa pilih di luar negeri?
Selain karena alasan pribadi (memang ingin belajar di negara maju), Australia menurut saya juga memiliki sistem kesehatan yang sudah mapan. Kebijakan tentang menyusui secara makro sudah tersusun. 
Kenapa tidak di negara lain misalnya Amerika atau Eropa?
Well, ini alasan naif siih, saya cari negara maju yang paling dekat dari Indonesia 😁
Kenapa bukan di Singapura?
I dont know, tapi saya lihat secara sekilas, Australia memiliki kebijakan menyusui yang lebih bagus. Selain itu banyak pakar dalam bidang laktasi yang berasal dari Australia. In fact, supervisor kedua saya adalah Julie Smith yang sudah menulis puluhan, bahkan mungkin ratusan, artikel jurnal dan tulisan ilmiah lainnya dalam topik laktasi.

Salah satu tantangan adalah suami dan anak2. Tapi saya terus berdoa bahwa jika memang "tugas" saya ini cukup dilakukan di Indonesia dengan peran saya terdahulu, dan memang sekolah lagi di Australia tidak baik untuk kami sekeluarga, maka saya berdoa untuk digagalkan saja. Jika memang peran saya harus diupgrade dengan cara sekolah di Aussie dan ini juga bermanfaat bagi kami sekeluarga, maka saya berdoa untuk dilancarkan, apapun perjuangan yang harus kami lalui. Suami pernah bilang, jangan mengurusi anaknya orang lain, tapi anak sendiri terlantar. Saya selalu ingat kalimat itu dan menjadi pegangan saya. Itu juga alasan kenapa saya berangkat langsung berempat, tidak seperti mayoritas awardee.

Saya tahu ijin paling utama adalah dari suami. Maka suami sudah saya ajak bicara sejak awal. Meskipun "bahasa" kami berbeda, well, saya rasa itu juga bagian dari ujiannya.

Sekarang kami sudah di Canberra, dan saya mengerjakan penelitian saya terkait kebijakan menyusui di rumah sakit di Indonesia. Semoga Allah selalu meridhoi. Amiinn yra... 




3 comments:

Dewie Dean said...

Masya Allah. Sukses selalu

andin said...

amiiinn yra...maturnuwun mbaaa..

AB Richards said...

The insights are amazing. About 93 million youngsters everywhere throughout the world stayed out of school, as on 2006; almost 80% of this number lives in Africa and in poorer locales in South Asia.PhD Proposal Writing Service UK

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review