Thursday, May 10, 2018

Diskusi Isu Aktual di Indonesia - PPIA ACT

0 comments
Hari Rabu tanggal 9 Mei 2018 kemarin saya berkesempatan hadir di acara diskusi isu aktual di Indonesia yang diselenggarakan oleh PPIA ACT. Tema kali ini adalah tentang terorisme; pola rekrutmen, pendanaan dan deradikalisasi di penjara.
Niat awal saya sih karena ingin melihat mbak Lola (Haula Noor) yang selama ini sudah saya anggap kakak sendiri. Karena isu terorisme sendiri kurang menarik buat saya.

Ternyata saya salah. Pemaparan dari para narasumber sangat cocok buat awam seperti saya. Saya jadi mendapat wawasan baru mengenai kondisi terorisme di Indonesia.
Saya coba tuliskan beberapa catatan penting dari pemaparan kemarin.


  1. Haula Noor. Topik yang diangkat adalah mengenai pola rekrutmen teroris. Mbak Lola memaparkan bahwa mindset yang harus dibentuk adalah radikalisasi adalah sebuah proses, bukan keadaan statis. Sehingga yang perlu digali adalah "how", bukan "why". Karena faktor penyebab seseorang menjadi teroris multifaceted. Sehingga yang lebih perlu digali adalah bagaimana proses seseorang menjadi radikal dan kemudian dibaiat. Ini penting agar bisa diketahui solusi yang tepat untuk melakukan disengagement.
  2. Sylvia Windya Laksmi. Topik yang diangkat adalah mengenai pendanaan kegiatan terorisme di Indonesia. Mbak Sylvia memaparkan gambaran peta di Indonesia yang sudah ada jaringan terorisnya. Sebelum tahun 2003, pendanaan kegiatan terorisme di Indonesia didapatkan dari luar negeri. Setelah 2003, pemerintah mulai berupaya mengetatkan peraturan untuk perpindahan dana dari luar. Meski demikian, peraturan di Indonesia masih memiliki beberapa kelemahan yang begitu pintarnya dimanfaatkan oleh jaringan teroris. Yang terbaru adalah pemanfaatan mata uang digital, seperti bitcoin, alfacoin, dll (saya kurang begitu familiar). Ini yang masih sulit diatur oleh pemerintah Indonesia. Selain itu, dana sumbangan sosial di Indonesia juga belum dapat dikontrol dan dimonitor oleh pemerintah. Sebagai perbandingan, di Malaysia, semua organisasi (meski non profit) yang akan melakukan penggalangan dana (charity) harus mendaftar ke pemerintah dan setiap tahun membuat laporan pengelolaan dananya ke pemerintah. Begitu pula di Australia. Jadi semua organisasi yang legal akan terdaftar di website resmi pemerintah dan bisa diakses oleh masyarakat umum. Sedihnya di Indonesia, hal itu belum terjadi. Kita banyak menerima proposal pembangunan masjid, proposal buka puasa, dan lain sebagainya tanpa kita tahu pasti penggunaan uang itu benar atau diselewengkan. Organisasi non formal pun dapat dengan mudah membuka rekening tabungan di bank. Sehingga jaringan terorisme dapat memanfaatkan usaha di bidang lainnya, dan hasil dananya digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme.
  3. Leopold Sudaryono. Topik yang diangkat adalah mengenai deradikalisasi di penjara. Menurut mas Leo, deradikalisasi di penjara dapat dikatakan gagal. Pemerintah menempatkan napi teroris (napiter) bercampur dengan napi lainnya, dengan harapan napiter dapat berbaur, mendapatkan gambaran berbhineka tunggal ika sehingga nantinya bisa berasimilasi lagi di masyarakat. Namun yang terjadi, napiter ini kuat sekali, sehingga mampu mempengaruhi napi lain. Bahkan juga mempengaruhi para sipir. Kondisi mental sipir yang kurang kuat juga ditengarai sebagai penyebabnya. Bagaimana tidak, rasio jumlah sipir dan napi sangat jauh. Di Indonesia, rasio nasional jumlah sipir:napi adalah 1:43, bahkan di beberapa lapas ada yang sampai 1:500 napi. Sebagai perbandingan, mas Leo menceritakan beberapa waktu lalu serikat sipir di Australia melakukan protes karena beban kerja yang dianggap berat yatu rasio sipir dibanding napi adalah 1:4! Belum lagi kebanyakan pendidikan sipir di Indonesia adalah lulusan SMA. Apalagi untuk sipir yang di Nusakambangan, lokasinya yang terpencil membuat sipir ini jauh dari keluarga. Alhasil sipir di Indonesia belum bisa melakukan tugasnya dengan optimal, alih2 untuk deradikalisasi. Kebetulan sekali saat diskusi ini berlangsung, bahkan sampai postingan ini ditulis, dikabarkan ada penyerangan petugas oleh napiter di Makobrimob di Depok.



Materi presentasi kemarin tidak boleh didokumentasikan dan disebarkan karena merupakan tesis para narsum dan belum final sehingga akan melanggar kode etik penelitian jika disebarkan.
Ini pengetahuan yang berharga untuk saya yang jelas awam sekali dengan topik ini :D

Wednesday, May 9, 2018

Is Breastfeeding Really The Best?

0 comments
Kita sering mendengar istilah "breast is best" alias menyusui itu yang paling baik. Sebenarnya apa alasan ungkapan itu?
Kali ini saya baru saja membaca satu artikel yang diberi oleh supervisor saya, jadi memang tugas saya untuk membacanya, tapi saya rasa ada satu bagian yang menarik yang saya rasa perlu saya bagikan.

Tulisan ini dari Elisabet Helsing dalam salah satu chapter sebuah buku. Judul chapter-nya "Breastfeeding: baby's right and mother's duty?"
Saya coba tuliskan dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami. Semoga bermanfaat.

Apakah benar menyusui adalah cara terbaik yang dapat diberikan agar bayi dapat menikmati status kesehatannya secara optimal? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita kaji gambaran global dan melihat manusia dalam konteks sebagai bagian dalam makhluk hidup di planet ini.

Setiap spesies mempunyai "resep" makanan dan strategi perawatan sendiri untuk bayinya masing-masing. Tugas utama eksistensi makhluk hidup adalah untuk menjaga dan menumbuhkan anak mereka. Spesies dengan skala evolusi lebih tinggi mempunyai strategi yang cukup menantang untuk membantu sel telur dan sperma setelah bersatu, untuk membantunya tumbuh dan berkembang dengan aman dan optimal. Salah satu strategi adalah dengan melahirkan anaknya dalam bentuk telur. Namun, bentuk telur seringkali menarik perhatian predator.

Strategi lainnya, yang lebih berisiko namun lebih seidikit membuang energi ibunya adalah untuk mengeluarkan bayinya sebelum bayinya bisa mempertahankan dirinya sendiri dan kemudian ibunya akan menyediakan makanan untuk bayinya (setara dengan fungsi telur) dalam bentuk susu. Satu masalah adalah bayinya tidak mempunyai cangkang untuk berlindung, sehingga tidak dapat berlindung, bukan hanya dari predator besar tapi juga dari penyerang yang berukuran mikro, mayoritas bacilus dan virus yang ada di mana saja.

Namun ibu mamalia telah memiliki respon yang sangat bagus untuk ancaman ini: tubuh ibu telah mendapatkan paparan mikroba ini sepanjang hidupnya sehingga telah membentuk mekanisme pertahanan imunologis untuk dapat menyerang sebagian besar mikroba. Melalui air susunya, ibu mamalia memberikan substansi perlindungan ini dalam jumlah besar.

Nah setiap spesies mendapat ancaman dari mikroba yang berbeda, begitu pula manusia. Mikroba tertentu saja yang menyerang manusia. Itu sebabnya kandungan air susu ibu (ASI) manusia memang sudah dirancang sesuai kebutuhan bayinya.

Semoga bermanfaat yaa..

Friday, May 4, 2018

Kebijakan Menyusui di Australia

0 comments
Sedikit catatan saya tentang kebijakan menyusui di Australia yang saya temukan hari ini.


  1. Pemerintah Australia berkomitmen untuk menjaga, mendukung, mempromosikan dan memonitoring praktik menyusui di Australia. Lebih lengkapnya silakan baca di sini
  2. Australia telah memiliki Marketing in Australia of Infant Formula (MAIF) Agreement sebagai respon atas Kode WHO. Beberapa manufaktur dan importir formula menandatangani perjanjian ini. Lebih lengkap baca di sini
  3. MAIF Agreement juga mengatur tentang praktik marketing di media massa. Lebih lengkapnya baca di sini
  4. MAIF Agreement juga mengikat pada tenaga kesehatan profesional. Bisa dibaca di sini
  5. Pemerintah Australia juga telah membentuk suatu badan yang bertugas memonitoring pelaksanaan MAIF Agreement ini. Masyarakat umum bisa melaporkan pelanggaran praktik marketing formula langsung ke Department of Health.
  6. Secara berkala, pemerintah Australia menerbitkan laporan monitoring MAIF Agreement yang bisa diakses secara gratis oleh publik di websitenya. Bisa dicek di sini
  7. Pemerintah Australia memberikan dana kepada organisasi non profit Australian Breastfeeding Association untuk dapat menyelenggarakan kegiatannya dalam mendukung dan menyukseskan praktik menyusui di Australia. 

Postingan ini hanya sedikit catatan dari begitu banyak informasi yang saya temukan hari ini dan tentunya harus saya pelajari lagi lebih dalam. Memang masih terlalu awal, tapi kemungkinan masalah menyusui di Australia dan Indonesia berbeda. Secara karakteristik masyarakatnya juga berbeda.
Well, it's just the beginning of my research journey :)

ps. the image is not related to the article :)
ps. tidak semua dokumen yang saya temukan sehari-hari saya masukkan ke blog, so if you're interested in this area too, please feel free to contact me at andini.pramono@anu.edu.au :)
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review