Friday, June 22, 2018

Perempuan dan Beasiswa

Untuk perempuan, berburu beasiswa bukan sekedar soal kepintaran dan skor IELTS. Apalagi untuk yang sudah berkeluarga, ada banyak yang harus dipertimbangkan di luar hal akademik. Lahir dan besar di negara yang patriarkis, mayoritas prinsip yang “normal” adalah istri mengikuti suami, bukan sebaliknya. Dan ini juga menjadi salah satu topik yang ditanyakan saat seleksi LPDP, yang mana pada seleksi pertama tahun 2016, saya masih ragu dan (sepertinya) ini yang mengakibatkan saya gagal.

Saya paham norma di Indonesia. Saya ingat betul saya kesulitan mencari tulisan pengalaman perempuan lain yang lolos beasiswa dan membawa suami dan anaknya untuk kuliah di luar negeri. Padahal saya yakin banyak perempuan yang melakukannya. Apalagi saya bukan dosen, rasanya mendapatkan beasiswa dan kuliah di luar negeri masih merupakan hal yang tidak umum terjadi, terutama di Indonesia. Ini juga yang ditanyakan saat seleksi LPDP.

Maka tulisan ini akan mencakup dua hal: 1. Pengalaman saya sebagai perempuan yang sudah menikah dan punya anak untuk mendapatkan beasiswa; dan 2. Pengalaman saya yang bukan seorang dosen dalam mendapatkan beasiswa S3.

Keputusan untuk mencari beasiswa datang dari dalam diri saya sendiri, keinginan untuk bisa belajar di negara maju memang sudah lama ada, bahkan sejak sebelum saya lulus S1 dan sebelum menikah. Kebetulan saya dan suami teman satu angkatan (meski dia satu tahun lebih tua) dan kami pacaran 5 tahun sebelum menikah. Dia tahu apa dan bagaimana saya, termasuk juga kesukaan saya terhadap sekolah, pendidikan dan negara2 asing. Dia tahu saya senang dan ingin mengunjungi negara lain.
Prosesnya tidak sebentar, karena karakter kami berbeda. Dia tipe orang yang tidak suka buku, pendidikan, seminar, training, apalagi kuliah. Dia mendorong saya untuk menjadi dosen karena melihat karakter saya yang seperti ini. Saya sempat menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta selama 2 tahun sampai Axel lahir dan membutuhkan perhatian khusus.
Saya memutuskan hanya menjadi konsultan RS saja yang waktunya lebih fleksibel.

Pernah ada lowongan menjadi dosen Unair, tapi mungkin memang bukan rejeki saya. Bahkan saya sekarang berpikir jika saya jadi dosen Unair, belum tentu saya bisa kuliah di luar negeri dalam waktu cepat (mengingat biasanya dosen muda dibebani lebih banyak pekerjaan >.< ).
Tahun 2011-2012 saya baru mendengar ada beasiswa LPDP yang membuka kesempatan untuk non dosen. Tahun 2011 juga saya mengalami keguguran dan operasi endometriosis. Tahun 2012 saya melahirkan Ayra.

Sebagai perempuan, memang banyak hal alamiah terkait peran biologis yang kadang menghambat karir kita. Tapi saya yakin Allah mempunyai caranya sendiri. Jadi meski saya sudah mendengar tentang LPDP, saya tidak bisa terlalu fokus mempersiapkannya. Tahun 2014 Axel lahir dan perlu penanganan khusus karena adanya kelainan jantung bawaan. Tahun 2015 Axel operasi jantung terbuka. Sehingga waktu, tenaga dan pikiran saya banyak habis untuk Axel. Untungnya tempat saya bekerja sangat memaklumi hal ini. Bahkan saat Axel sudah mulai stabil di tahun 2016, mereka mempercayakan proyek2 RS besar kepada saya.

Selama tahun2 itu meski saya tidak fokus beasiswa, keinginan saya tidak pernah padam, hanya tersimpan rapi di sudut hati saya. Setelah Axel mulai stabil dan pengalaman ini membuat saya semakin yakin dengan keinginan saya.

Saran saya, pertama luruskan niat. Untuk apa mencari beasiswa, terutama beasiswa ke luar negeri, itu yang harus dicari dan dipegang. Jangan hanya karena ingin jalan2 ke luar negeri (kalau itu mah pesan ke travel agent aja sudah cukup :) ), atau karena gengsi, dsb. Karena meski dapat beasiswa, perjuangannya tidak berhenti sampai di pengumuman kelulusan beasiswa.
Kedua, bicarakan dengan suami. Lihat tipe suami juga yaa...ada yang bisa sekali diskusi langsung topik serius, ada juga yang butuh waktu lebih sering untuk diskusi. Jangan terlalu memaksa. Suami, bagaimanapun juga, merupakan kepala keluarga.
Diskusi dengan suami ini juga paling penting karena akan menyangkut nasib rumah tangga ke depan, terutama jika sudah punya anak.
Masalah2 kecil, seperti anak akan ikut atau tidak, kalau ikut, nanti waktu kuliah, bersama siapa. Apakah ada childcare benefit, kalau tidak ada bagaimana. Kalau sudah masuk usia sekolah, bagaimana urus pendaftaran sekolahnya, bagaimana biaya sekolahnya. Dan sebagainya.
Banyaaaak sekali yang harus diurus untuk awardee yang sudah berkeluarga, terutama awardee perempuan. Sudah saya tulis di sini dan sini.

Pengalaman saya, saya selalu menyelipkan keuntungan belajar dan tinggal di Australia kepada suami secara berkala. Hal2 kecil saja. Contohnya seperti bagaimana anak2 mempunyai banyak aktivitas fisik dibanding di Indonesia, dll.

Kalau sudah, ajak suami bertemu atau kontak dengan awardee perempuan yang juga membawa suami. Biasanya ini akan menjadikan suami lebih pede. Karena "norma" di Indonesia adalah istri ikut suami, maka biasanya suami para awardee merasa tidak pede karena mengikuti istri.
Buat suami merasa percaya diri, berikan pujian dan juga berikan kesempatan untuk terus mendalami passion-nya meski sudah berada di luar negeri.

Yang kedua, bagaimana saya yang bukan dosen bisa melanjutkan ke jenjang S3. Jujur saja, ini karena saya suka belajar. Saya suka suasana kampus, suka bau buku (ya, saya suka menciumi bau buku :D ).
Tapi memang di Indonesia, mayoritas yang S3 adalah dosen. Maka saya mencoba browsing mengenai S3 non dosen. Mayoritas blog yang saya temukan lagi2 adalah dosen.
Maka saya mendalami lagi proposal riset saya. Kenapa saya perlu sekolah lagi untuk mendalami itu.
Dalam kasus saya, saya adalah konsultan RS dan juga konsultan laktasi. Saya adalah praktisi, bukan akademisi. Saya melihat langsung bagaimana rumah sakit dikelola. Di sisi lain saya juga aktif di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), saya melihat langsung pengalaman ibu-ibu yang gagal menyusui justru karena intervensi saat melahirkan di RS. Ada kebijakan di RS yang tidak mendukung menyusui. Di situ lah saya masuk.

Saya tidak tahu dan tidak paham dengan bidang lain ya. Tapi mungkin itu bisa memberikan gambaran bagaimana seorang praktisi non dosen bisa mendapatkan beasiswa S3.

Saya yakin bahwa cita-cita dan kemampuan perempuan Indonesia tidak kalah dengan perempuan dari negara lain, jika saja diberikan kesempatan.
Silakan kontak saya jika perlu tempat untuk sharing, I'd be happy to help :)







9 comments:

Dian said...

Makasih sharingnya mbak..

Iya tantangan awal di suami. Maaf ini suami mbak andin ikut? Bagaimana dgn pekerjaannya mbak?

Suami pernah dukung sy kuliah lagi, tapi blm bicara soal kuliah di luar negeri. Klo dia ikut sptnya tdk mgkn,

andin said...

iya ikut mbaaa...kebetulan suami entrepreneur, jadi usahanya masih terus berjalan sampai skrg dan dia rutin pulang ke indonesia untuk cek usahanya. Memang kasusnya akan beda kalau suami merupakan pegawai kantoran yaa.. tapi ada dua orang teman dekat di sini yang juga awardee dan membawa suami dan anak2nya juga. Suami2 mereka pegawai kantoran dan memutuskan resign untuk bisa ikut istri di Canberra. Menurut cerita teman2 saya itu, justru suami2 mereka yang mendorong untuk bisa hidup di Australia. Mgkn mereka merasa pengalaman hidup di Australia cukup berharga yaa...

Unknown said...

Pengen banget bisa lanjutin kuliah kayak Andin...BTW Selamat buat Andin semoga ilmunya barokah Dan bermanfaat untuk orang banyak

Wenny Pangestuti said...

Luar biasa! Salut dg semangat mbk. Saya sama sperti mbk pd dasarnya, yaitu suka belajar, suka dunia kampus, suka bau buku. Tapi, saya tdk pnya kberanian bermimpi lnjut kuliah. Bnyak pertimbangn. Dunia setiap wanita berbeda, tinggal bgmn setiap pilihan hidupnya didasarkn atas krelaan dan rasa bahagia. Intinya, jangan lupa bahagia! :)

Siti Nur Maftuhah said...

Semangat mbak, semoga dilancarjan studinya. Sayang saya kendala usia. Duku pas lagi semangat, belum ada LPDP.

andin said...

amiiinnn yra....semangaaatt :)

andin said...

betul banget mbaaa...semua org punya peran dan tugas masing-masing... Nggak ada satu peran yg paling superior dibanding yg lainnya. Yang penting kita bisa bermanfaat utk orang lain :)

andin said...

semangat mbaa...mungkin bs coba beasiswa lainnya? :)

Helena said...

Salut, Mbak! Teman saya ada juga yang suaminya ikut karena si istri S3 di Jepang. Sampai meninggalkan pekerjaan selama ini. Terima kasih inspirasinya :)

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review