Kehebohan Susu Kental Manis

Beberapa minggu ini di Indonesia sedang dihebohkan dengan adanya pelarangan penggunaan kata "susu" pada produk susu kental manis (sweetened condensed milk), selanjutnya disingkat SKM, oleh BPOM.  Beberapa teman menuliskan kekagetannya di status media sosialnya karena baru tahu kalau SKM ini tinggi gula dan malah rendah kandungan susunya. Tidak salah juga karena memang pada label di produk ini tertulis rekomendasi penyajiannya sebagai minuman harian, cukup dicampur dengan air dan diminum 2 kali sehari.
Kebiasaan masyarakat kita memang jarang membaca kandungan suatu produk (ingredients), termasuk juga saya :D

Pada SKM sebenarnya juga menjadi perhatian kami di Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) karena banyak masyarakat dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi rendah memilih memberikan SKM, jika sudah gagal menyusui, dengan pertimbangan harga yang lebih murah. Banyak kasus dari keluarga miskin yang mengencerkan pemberian SKM (ataupun susu formula) dengan tujuan agar lebih hemat. Sehingga masalah kasus gizi buruk banyak terjadi.
Di sisi lain, ada kalangan masyarakat yang mengalami kasus overweight atau bahkan obesitas. Salah satunya tentu karena konsumsi produk tinggi gula seperti SKM ini.

Kasus gizi buruk maupun obesitas memang tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak saja, dalam hal ini SKM.

Ada banyak faktor yang menyebabkan berita tentang SKM ini menjadi besar beberapa minggu ini. Salah satunya adalah kepercayaan masyarakat bahwa minum susu itu wajib. Mereka masih teringat jelas dengan slogan "4 Sehat 5 Sempurna", dimana minum susu merupakan langkah ke-5 sebagai penyempurna. Kalau tidak minum susu, tidak sempurna. Padahal slogan ini telah dihapus sejak tahun 1996an.
Saat ini yang digunakan adalah Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Namun rupanya pemerintah belum berhasil membuat kampanye PGS yang mengalahkan slogan "4 Sehat 5 Sempurna". Perbedaan mendasar dari PGS adalah peran susu yang setara dengan protein hewani lainnya. Jadi susu bukanlah penyempurna. Boleh dikonsumsi setara dengan protein hewani lainnya.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang berkualitas dengan terus menyusui hingga usia 2 tahun atau lebih. Jika memang ibu tidak bisa menyusui karena alasan medis, bisa diberikan susu formula yang direkomendasikan oleh tenaga medis. Setelah usia 2 tahun, susu bukanlah asupan wajib. Sehingga tidak perlu diberikan keharusan minum susu.

Jadi bagaimana pemberian makan yang benar?
  1. Bayi diberi ASI saja mulai lahir hingga usia 6 bulan
  2. Memberikan MPASI sejak usia 6 bulan dengan bahan lokal dan berkualitas, dengan gizi seimbang, sesuaikan porsi dan teksturnya sesuai usia
  3. Lanjutkan menyusui hingga dua tahun atau lebih
  4. Menu makanan anak usia 1 tahun ke atas sudah sama dengan menu keluarga. Jadi tidak perlu ada pembedaan menu ataupun teksturnya.
  5. Pastikan ada karbohidrat, protein, sayur, lemak dan buah dalam setiap porsi makan hariannya.
Kesimpulannya, jika anak mengikuti proses makan yang benar sejak usia 6 bulan, tidak perlu ada kewajiban minum susu. 

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives