Thursday, August 23, 2018

Gender Equity: Why Aussie use "Partner" more common than "Husband/Wife/Spouse"

0 comments
Di bulan pertama, saya bertemu pertama kali dg SpV kedua saya, Julie Smith, salah seorang pakar kebijakan laktasi internasional (https://researchers.anu.edu.au/researchers/smith-jpx) jelas bikin deg-degan. Singkat cerita, saya banyak bengongnya di pertemuan pertama. Julie sangat antusias dengan segala hal terkait breastfeeding.
Waktu itu dia membawakan setumpuk artikel jurnal yang dia sarankan untuk saya baca. Satu hal yang membuat saya bingung adalah dia meminta saya mempelajari breastfeeding dengan perspektif human rights. Tidak pernah terpikirkan sekalipun breastfeeding dikaitkan dengan human rights. Pikir saya, perempuan di Indonesia sepertinya masih jauh deh kalo mau mengkaitkan menyusui dengan HAM. Karena setahu saya, mayoritas perempuan (apalagi anak pertama dan di struktur budaya tertentu) harus mengikuti apa kata suami dan/atau ibu/mertua. Apa yang dilakukan orangtua atau mertuanya dulu, kemungkinan besar akan juga dilakukan si ibu.

Seiring berjalannya waktu (dan setumpuk artikel jurnal serta textbooks online dan printout), saya mulai paham. Memang menyusui adalah peran alamiah perempuan. Menyusui juga keputusan pribadi perempuan. Namun apakah perempuan mendapatkan informasi yang jelas dalam membuat keputusannya? Seringkali perempuan (terutama di Indonesia) tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai menyusui. Bukan hanya manfaat menyusui saja lho ya..tapi juga risiko bila tidak menyusui bagi kesehatan ibu, risiko penggunaan susu formula bagi kesehatan anak, dan sebagainya.
Selain itu, kondisi lingkungan juga mempengaruhi perempuan dalam membuat keputusannya. Contohnya, jika ibu bekerja tidak mendapat kesempatan untuk memerah ASI selama jam kerjanya, dia bisa saja mengambil keputusan untuk menambahkan susu formula selama dia bekerja, yang mana ini justru akan membuat produksi ASInya berkurang.

Kemarin siang tidak sengaja melihat status seorang teman yang sedang "galau" karena mendadak mendapat kabar ada seminar penting yang menarik di luar jadwal kerjanya, sedangkan anaknya tidak ada yang mengasuh. Kegalauan macam ini sangat sering terjadi pada perempuan bekerja, lebih-lebih di Indonesia.
Saya pun termasuk yang demikian di awal-awal kelahiran Ayra dan Axel. Selalu merasa bersalah untuk meninggalkan mereka bekerja. 

Masih banyak lagi kejadian sehari-hari yang tidak saya sadari di Indonesia, kemudian kembali saya lihat atau amati di Australia. Terutama karena di sini kesadaran akan human rights/gender equity cukup tinggi. Beberapa kali saya menghadiri seminar dan workshop yang terkait dengan ini, misalnya pengaruh paternity leave dengan pola pengasuhan anak, dengan angka menyusui, dan lain-lain.

Ada beberapa aliran pengusung human rights/feminist, termasuk juga aliran yang ekstrim, yang (katanya) meminta hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan harus sama. Ini yang biasanya bertabrakan dengan ajaran Islam.
Namun ada juga aliran yang moderat. Tidak menuntut harus sama, karena mereka sadar secara anatomi dan fungsional tubuh sudah berbeda. Ada fungsi reproduksi yang memang hanya dapat dilakukan oleh perempuan, yaitu hamil, melahirkan dan menyusui. Oleh karena peran dan fungsi spesial perempuan ini, maka perlu ada kebijakan yang khusus juga terhadap perempuan. Contohnya antara lain seperti yang saya tulis di paragraf awal. Hal ini tidak berlaku hanya untuk perempuan bekerja di sektor formal saja ya. Tapi juga segala macam aktivitas perempuan, whether dia mau melanjutkan sekolah, membuka usaha sendiri (entrepreneur). Salah satu contoh lagi di kampus saya sedang digalakkan tentang kebijakan family-friendly, karena ANU dianggap kurang family-friendly, mulai dari tidak adanya parkir mobil untuk staf/student yang datang setelah mengantar anaknya sekolah (biasanya akan datang jam 9 lebih), mahalnya harga childcare, terutama untuk international student, kurang banyaknya jumlah parents room (alhamdulillah di gedung saya ada satu), dan masih banyak lagi.

Saya pernah suudzon terhadap lebih seringnya penggunaan kata "partner" dibanding "husband/wife/spouse" di Australia, terutama dalam percakapan sehari-hari. Saya suudzon, pasti ini karena banyaknya kaum LGBTQI. Namun ternyata salah besar. Mereka menggunakan istilah partner karena memang menganggap suami/istrinya ini partner sejajar dalam pernikahan. Semua dilakukan sebagai kerja tim. Tidak ada rasa gengsi, tidak ada pekerjaan yang tabu dilakukan laki-laki. Tentu banyak sekali keluarga muslim di sini, yang menambahkan value Islam dalam pemahaman ini. Meski partner sejajar, suami tetap imam dalam keluarga. Ini yang sedang saya pelajari saat ini.

Saya melihat banyak sekali laki-laki di sini tidak gengsi mengajak anak-anaknya bermain di playground, mengantikan popok anaknya, memasak, mengantar ke sekolah anak tanpa istrinya, dan sebagainya. Pemandangan yang jarang terlihat di Indonesia, terutama di kota kecil. Banyak paham di masyarakat tradisional bahwa urusan rumah dan anak itu mutlak urusan perempuan, sedangkan tugas laki-laki hanya mencari uang. Kalau sampai ada laki-laki yang mengerjakan "tugas" perempuan, bisa turun harga dirinya. Padahal di Islam pun diajarkan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak. Hal ini menarik buat saya, dan insyaAllah akan terus saya pelajari.

Sunday, August 19, 2018

Mental Health Matters

0 comments
Salah satu hal yang menarik sejak saya mulai kuliah di ANU adalah tingginya kesadaran dan kepekaan warga Australia terhadap kesehatan mental. Ini terlihat dari adanya pusat riset khusus kesehatan mental, yaitu Centre for Mental Health Research (CMRH), juga adanya layanan konseling psikolog bagi postgraduate students.

CMRH ini satu school dengan saya dan kebetulan berbagi gedung dengan departemen saya.
Untuk informasi, kebetulan saya PhD full research, jadi tidak ada perkuliahan di kelas. Untuk awal, saya masih ditempatkan di kantor temporer bersama dengan Master Student. Karena tidak ada perkuliahan di kelas dan saya pun harus beradaptasi (dan juga membantu adaptasi suami dan anak-anak), saya jadi tidak punya teman by default. Kalau saya mau punya teman di kampus, saya yang harus bergerak. Kebetulan lagi, tidak ada mahasiswa Indonesia di school saya.

Saya berada di Health Services Research and Policy Department, Research School of Population Health (RSPH), College of Health and Medicine (CHM). Supervisor saya juga berada di departemen yang sama.
Meski demikian, sejak awal supervisor #1 saya (yang bernama Jane) sangat memperhatikan kesehatan mental saya, salah satunya dengan selalu menanyakan kondisi keluarga saya, bagaimana suami dan anak-anak adaptasi di Australia. Hal yang sepele untuk di Indonesia, tapi mengingat mayoritas orang Aussie sangatlah individualis, hal ini sangat menarik.

Perlu diketahui juga bahwa hal-hal kecil yang di Indonesia dianggap remeh, merupakan hal yang sangat diperhatikan di sini. Contohnya, saat saya akan ditempatkan di kantor permanen saya yang ternyata di gedung yang berbeda dengan mayoritas mahasiswa RSPH. Sebelum benar-benar dipindahkan, Jane masuk ke ruangan saya dan menanyakan pendapat saya jika saya ditempatkan di calon kantor permanen saya. Dia khawatir kalau saya sedih atau keberatan ditempatkan di ruangan yang jauh dari mayoritas teman2 RSPH (yang beberapa di antaranya menjadi teman baik saya).
Saya menjawab, tidak masalah. Karena kami bisa janjian via whatsapp (dan itu yang benar terjadi hingga sekarang).

Jujur saja, saya sebenarnya tipe introvert, dimana saya membutuhkan waktu untuk sendirian. Saya suka berada di keramaian, tapi berkenalan, berbaur dan berbicara dengan orang banyak cukup menguras energi saya :)

Kejadian lain, saat admin school saya akan ditempatkan di college lain, kepala departemen saya (bernama Emily) merencanakan farewell morning tea. Saat itu Emily mengirim email menyatakan waktunya Selasa pagi atau Rabu siang. FYI, anggota departemen saya berjumlah 8 orang, dan hanya saya PhD student-nya. Yang lain menyatakan bisa Selasa pagi, tapi saat itu saya sudah mendaftar untuk workshop di kampus jam 10-12. Saya menjawab emailnya menyatakan tidak bisa Selasa pagi, tapi silakan dilanjutkan tanpa saya jika memang mayoritas bisa Selasa pagi.

Ternyata, entah bagaimana, Jane dan Emily bicara lewat telp dan kemudian Emily mengumumkan via email kalau acaranya Rabu jam 11. Well mungkin saya GR, tapi benar yang terjadi, tidak banyak yang bisa hadir di Rabu jam 11.


Saat ini saya tidak terlalu punya banyak teman dekat di RSPH, kecuali satu teman laki-laki dari Thailand dan satu teman perempuan dari Phillipines.

Saya pribadi belum terlalu familiar atau mendalami mengenai kesehatan mental. Tapi pemerintah Australia sangat peduli dengan kesehatan mental masyarakatnya. Di level universitas juga sangat peduli dan banyak sekali program yang mendukung kesehatan mental khususnya untuk mahasiswa PhD, lebih-lebih PhD student-parents alias yang juga orangtua.

Secara tidak sadar, saya membandingkan dengan kondisi di Indonesia. Kesehatan mental masih sedikit sekali diperhatikan, kalaupun ada biasanya sudah sampai level parah yaitu saat sudah menjadi depresi atau bahkan gangguan jiwa.
Namun saya menyadari juga hal ini terjadi karena sebenarnya kebutuhan dasar mayoritas masyarakat belum terpenuhi. Ibaratnya saat ini Indonesia masih berfokus pada kesehatan fisik saja, belum sampai kesehatan mental.
Selain itu, keyakinan masyarakat bahwa masalah-masalah cukup diadukan pada Tuhan saja. Bukan saya menentang keyakinan ini, namun demikian ada kalanya masalah perlu dilakukan ikhtiar untuk mencari solusinya. Wallahu'alam.

Saya pun masih belajar, dan akan terus menuliskan pengalaman dan pengetahuan baru yang saya dapatkan, dengan harapan bisa menebar manfaat untuk orang lain. Amiinn yra.
 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review