Mental Health Matters

Salah satu hal yang menarik sejak saya mulai kuliah di ANU adalah tingginya kesadaran dan kepekaan warga Australia terhadap kesehatan mental. Ini terlihat dari adanya pusat riset khusus kesehatan mental, yaitu Centre for Mental Health Research (CMRH), juga adanya layanan konseling psikolog bagi postgraduate students.

CMRH ini satu school dengan saya dan kebetulan berbagi gedung dengan departemen saya.
Untuk informasi, kebetulan saya PhD full research, jadi tidak ada perkuliahan di kelas. Untuk awal, saya masih ditempatkan di kantor temporer bersama dengan Master Student. Karena tidak ada perkuliahan di kelas dan saya pun harus beradaptasi (dan juga membantu adaptasi suami dan anak-anak), saya jadi tidak punya teman by default. Kalau saya mau punya teman di kampus, saya yang harus bergerak. Kebetulan lagi, tidak ada mahasiswa Indonesia di school saya.

Saya berada di Health Services Research and Policy Department, Research School of Population Health (RSPH), College of Health and Medicine (CHM). Supervisor saya juga berada di departemen yang sama.
Meski demikian, sejak awal supervisor #1 saya (yang bernama Jane) sangat memperhatikan kesehatan mental saya, salah satunya dengan selalu menanyakan kondisi keluarga saya, bagaimana suami dan anak-anak adaptasi di Australia. Hal yang sepele untuk di Indonesia, tapi mengingat mayoritas orang Aussie sangatlah individualis, hal ini sangat menarik.

Perlu diketahui juga bahwa hal-hal kecil yang di Indonesia dianggap remeh, merupakan hal yang sangat diperhatikan di sini. Contohnya, saat saya akan ditempatkan di kantor permanen saya yang ternyata di gedung yang berbeda dengan mayoritas mahasiswa RSPH. Sebelum benar-benar dipindahkan, Jane masuk ke ruangan saya dan menanyakan pendapat saya jika saya ditempatkan di calon kantor permanen saya. Dia khawatir kalau saya sedih atau keberatan ditempatkan di ruangan yang jauh dari mayoritas teman2 RSPH (yang beberapa di antaranya menjadi teman baik saya).
Saya menjawab, tidak masalah. Karena kami bisa janjian via whatsapp (dan itu yang benar terjadi hingga sekarang).

Jujur saja, saya sebenarnya tipe introvert, dimana saya membutuhkan waktu untuk sendirian. Saya suka berada di keramaian, tapi berkenalan, berbaur dan berbicara dengan orang banyak cukup menguras energi saya :)

Kejadian lain, saat admin school saya akan ditempatkan di college lain, kepala departemen saya (bernama Emily) merencanakan farewell morning tea. Saat itu Emily mengirim email menyatakan waktunya Selasa pagi atau Rabu siang. FYI, anggota departemen saya berjumlah 8 orang, dan hanya saya PhD student-nya. Yang lain menyatakan bisa Selasa pagi, tapi saat itu saya sudah mendaftar untuk workshop di kampus jam 10-12. Saya menjawab emailnya menyatakan tidak bisa Selasa pagi, tapi silakan dilanjutkan tanpa saya jika memang mayoritas bisa Selasa pagi.

Ternyata, entah bagaimana, Jane dan Emily bicara lewat telp dan kemudian Emily mengumumkan via email kalau acaranya Rabu jam 11. Well mungkin saya GR, tapi benar yang terjadi, tidak banyak yang bisa hadir di Rabu jam 11.


Saat ini saya tidak terlalu punya banyak teman dekat di RSPH, kecuali satu teman laki-laki dari Thailand dan satu teman perempuan dari Phillipines.

Saya pribadi belum terlalu familiar atau mendalami mengenai kesehatan mental. Tapi pemerintah Australia sangat peduli dengan kesehatan mental masyarakatnya. Di level universitas juga sangat peduli dan banyak sekali program yang mendukung kesehatan mental khususnya untuk mahasiswa PhD, lebih-lebih PhD student-parents alias yang juga orangtua.

Secara tidak sadar, saya membandingkan dengan kondisi di Indonesia. Kesehatan mental masih sedikit sekali diperhatikan, kalaupun ada biasanya sudah sampai level parah yaitu saat sudah menjadi depresi atau bahkan gangguan jiwa.
Namun saya menyadari juga hal ini terjadi karena sebenarnya kebutuhan dasar mayoritas masyarakat belum terpenuhi. Ibaratnya saat ini Indonesia masih berfokus pada kesehatan fisik saja, belum sampai kesehatan mental.
Selain itu, keyakinan masyarakat bahwa masalah-masalah cukup diadukan pada Tuhan saja. Bukan saya menentang keyakinan ini, namun demikian ada kalanya masalah perlu dilakukan ikhtiar untuk mencari solusinya. Wallahu'alam.

Saya pun masih belajar, dan akan terus menuliskan pengalaman dan pengetahuan baru yang saya dapatkan, dengan harapan bisa menebar manfaat untuk orang lain. Amiinn yra.

Post a Comment

Designed by FlexyCreatives