Wednesday, November 28, 2018

Science Communication Workshop

Tanggal 26-28 November 2018 saya berkesempatan untuk mengikuti workshop dalam bidang komunikasi sains.
Pengumuman registrasi workshop ini sudah saya terima sejak bulan Jul/Agustus, artinya saya baru memulai PhD 4-5 bulan. Workshop ini tidak wajib dan tidak ada yg meminta saya untuk ikut. Saya tertarik untuk ikut, tapi ragu karena saya masih tahap awal sekali, masih baru 4-5 bulan!
Ditambah lagi, workshop ini dilaksanakan full day jam 9-17. Kalau membatalkan secara mendadak, akan dikenakan biaya. Perlu komitmen kuat ya.
Akhirnya saya kontak penyelenggara, dan mereka antusias mendorong saya untuk ikut. 

Akhirnya tanggal itu tiba, dan saya sudah deg2an. 
Benar saja, di hari pertama saya masuk ruangan yang sama sekali baru, karena workshop ini diadakan oleh ANU Center for Public Awareness of Science (CPAS). Gedungnya cukup jauh dari kantor saya, sekitar 2km. 
Saya memasuki ruangan besar yang berisi peserta yang sama sekali tidak saya kenal, kecuali Kayla, salah seorang PhD student dari RSPH, juga sesama first year student.
Jumlah peserta cukup banyak, yang belakangan saya ketahui berjumlah 60 orang dan ternyata meski kelihatan 'bule", sebenarnya mereka banyak yang berasal dari luar Australia. Misalnya dari Czech, Brazil, Chile, Equador, Italia, Spanyol, Rusia dan sebagainya. Mayoritas tentu saja dari China dan India. Indonesia? hanya saya sendirian. Plus, saya satu-satunya yang berjilbab. Oke sip. Saya cukup tertekan di hari pertama melihat begitu banyak peserta dan semuanya tidak saya kenal, tapi mereka terlihat pede bersosialisasi dan berkomunikasi.

Hari pertama diperkenalkan dengan para instruktur yang akan memandu, antara lain Joan Leach, Will Grant, Rod Lambert, Merryn McKinnon dan Sujatha Raman. Hari pertama banyak diisi dengan aktivitas semacam games yang dipandu oleh Will Grant.
Semua meja dan kursi dipinggirkan, semua peserta diminta berdiri dan ikut dalam aktivitasnya.
Games di sesi pagi hari pertama lebih untuk mengenal sesama peserta, mengenali introduction seperti apa yang akan berkesan untuk orang lain, menggali value dari diri sendiri dan orang lain (baca: public audience).
Melelahkan secara mental untuk saya yang introvert, karena saya 'dipaksa' bicara pada banyak orang baru, dalam waktu singkat. Games dilakukan secara random, kadang dibuat berpasangan, kadang dibuat grup 3 orang atau 4 orang. Grup ini selalu diacak. Jadi saya tidak pernah mendapatkan orang yang sama di games berikutnya. Melelahkan.

Sesi siang adalah materi tentang writing your research in news. Jadi kami diberi materi bagaimana membuat tulisan yang menarik untuk masyarakat umum dan dibuat menyerupai tulisan di Canberra Times. Setelah itu kami diberi homework untuk membuat tulisan tentang research kami masing2 yang (seakan2) akan dimuat di Canberra Times.

Di hari kedua, kami diberi materi tentang framing the science, bagaimana membuat 'bingkai' atas sains yang akan kami komunikasikan, bagaimana memilih value apa yang akan kami tonjolkan.
PR di hari sebelumnya kemudian juga dibahas.
Kemudian kami dipandu lagi oleh Will, mengenai Story. Bagaimana membuat komunikasi tentang riset ini terasa seperti bercerita, storytelling yang menarik pendengarnya.
Sore harinya kami mendapat PR lagi untuk memperbaiki PR pertama plus mempersiapkan 3 minutes thesis (3MT) presentation!

Di hari ketiga, kami membahas tulisan PR hari sebelumnya, dan dilanjutkan dengan 3MT Presentation. Tentu saja dalam grup yang diacak lagi, jumlah 10 orang setiap kelompok.

Workshop ini cukup melelahkan tapi memberi pengalaman yang sangat berharga untuk saya. Saya yang tipikal introvert, kurang nyaman bicara di depan publik, kecuali tempat sudah saya kuasai atau familiar.
Selain itu, masing2 peserta menjelaskan masing2 risetnya, mulai dari penelitian tentang supervolcanoes di Finlandia, Salmonella, climate change, tree of life dan sebagainya. Begitu banyak istilah yang asing buat kami, tapi yang saya pelajari, mereka tetap pede memberi feedback ke masing2 peserta bergantian, hal yang masih tidak pede saya lakukan.

Hal berkesan lainnya adalah saat saya meminta space untuk sholat. Seminggu sebelum wokrshop, saya bertanya via email kepada penyelenggara, apakah saya bisa pinjam tempat untuk sholat. Kebetulan yang menjawab adalah Bea Hogan (yang belakangan saya ketahui adalah direktur riset di CPAS). Dia menjawab akan berusaha mencarikan. Di hari pertama, saya bertemu dengan Bea, dan dia langsung menunjukkan ruangan kuliah yang sangat luas untuk tempat saya sholat. Tapi dia bilang kalau jadwalnya sholat, ternyata ruangan itu dipakai, saya bisa langsung telepon dia. Dia memberi saya nomer hapenya. Alhamdulillah selama tiga hari saya bisa menggunakan ruangan itu sehingga saya tidak perlu telepon Bea.











0 comments:

Post a Comment

 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review