Wednesday, April 10, 2019

One Year in Canberra: Thesis Proposal Review and more

1 comments
Benar-benar tidak terasa, sudah satu tahun saya dan keluarga meninggalkan Surabaya, untuk tinggal dan hidup di Canberra. Saya juga sudah melewati milestone tahun pertama PhD yaitu Thesis Proposal Review.

Kali ini saya mau refleksi tentang kehidupan kami setelah satu tahun di Canberra.

Kehidupan Keluarga
Alhamdulillah sejak awal anak-anak tidak mengalami kesulitan berarti untuk beradaptasi di sini. Ini benar-benar bukti nyata bahwa anak-anak ini masih sangat mudah dibentuk oleh lingkungannya. Saat postingan ini dibuat, Ayra sudah masuk Year 1 dan Axel mulai Preschool. Preschool hanya masuk 2-3 hari per minggu jam 9-15.

Justru saya merasa adaptasi paling sulit adalah dari suami. Saya paham karena impian tinggal di luar negeri adalah mimpi saya. Meski seiring waktu dia merasa manfaatnya tinggal di Australia.
Kesepakatan saya dan suami bahwa suami akan rutin pulang ke Indonesia setiap 2 bulan sekali. 

Kehidupan Perkuliahan
Saya menjadi satu-satunya orang Indonesia dan yang menggunakan jilbab di school saya. Saat ini sudah ada beberapa teman dekat dari India, Thailand, Filipina, Sydney dan Canberra. Mereka beragama Hindu, Budha, Kristen dan atheis. Sangat berwarna dan memberikan pengalaman berharga untuk saya.
Alhamdulillah supervisor saya pun sangat baik.
Primary supervisor, Jane Desborough, sangat perhatian sejak saya pertama datang di Canberra.
Supervisor kedua saya, Julie Smith, orang yang sangat expert dalam bidang laktasi. Dia sangat sibuk, tapi sering mengajak saya untuk datang dalam kegiatan2 terkait laktasi.
Supervisor ketiga saya, Siobhan Bourke, yang baru datang dari Irlandia bulan Januari 2019, masih sangat muda sehingga sangat enak untuk diajak berdiskusi.


Mereka semua sangat suportif. Bahkan saat saya mempersiapkan Thesis Proposal Review (TPR).
TPR ini adalah seminar terbuka untuk menjelaskan proposal thesis. Siapapun yang tertarik dengan topiknya boleh datang.






Kehidupan Personal
Dari saya pribadi, saya merasakan saya mendapat pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga.
Tiga bulan pertama di sini sering saya merasa insecure, meski ada suami. Anak-anak menjadi penguat saya. Sampai bulan ke enam, saya benar-benar struggle dari segala aspek, sehingga saya benar-benar stres. Yang saya lakukan setiap hari hanya bertahan hidup. Melakukan tugas yang memang harus dikerjakan.
Tidak ada waktu untuk olahraga, meditasi, dan semacamnya. Intinya tidak ada usaha untuk merawat kesehatan diri. Puncaknya saat saya mau TPR, level stres semakin meningkat.
Singkat cerita, TPR dapat dilalui dengan hasil memuaskan Alhamdulillah. Sempat beristirahat sejenak, sekarang Allah memberikan tantangan baru lagi. Dokter menemukan mioma di uterus saya. Detil cerita akan saya tulis di postingan terpisah, insyaAllah.




Sunday, January 27, 2019

Finally......weaned with love!

10 comments
Nggak terasa...ternyata sudah 1 minggu ini Axel lepas menyusu. Sudah nggak minta menyusu lagi.
Saat ini Axel usia 4 tahun 2 minggu, dan dengan bangga saya bisa mengumumkan benar2 Axel dan saya sudah menjalani Weaning with Love!

Catatan perjalanan menyapih kami yang sebelumnya bisa dibaca di sini.

Jadi proses menyapih ini nggak bisa dibilang sebentar.
Saya hanya ceritakan proses beberapa bulan terakhir saja yaa...

Beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang ke4, saya sudah sounding ke Axel, sama seperti ibu2 lain...bahkan sebenarnya sounding ini sudah dilakukan juga sebelum ulang tahunnya yang ke3, tapi karena waktu akan pindah ke Australia, saya mempertimbangkan perubahan lingkungan yang sangat besar untuk Axel, sehingga memutuskan menunda menyapihnya.

Sejak usia 3tahunan, Axel hanya menyusu saat tidur malam saja. Intensitasnya semakin berkurang. Mulai dari sebelum tidur, kemudian di tengah2 malam ketika dia mimpi buruk atau terbangun, dia minta menyusu lagi. Saya tahu ini hanya cara dia menenangkan diri. Kemudian berkurang lagi hanya di awal sebelum tidur, mulai dari 15 menit, sampai akhirnya hanya 5 menit, sampai rasanya hanya "formalitas" ritual dia sebelum tidur saja. Dengan semakin berkurangnya intensitas menyusu, saya memang menawarkan peluk saja sebagai pengganti. Jadi memang setelah menyusu, dia akan minta peluk.

Hingga, kira2 sejak sebulan lalu, cara menghisap Axel ke payudara sudah tidak terlalu kuat lagi, ada banyak cerita di balik ini, salah satunya dia pernah jatuh dan gigi depannya jadi patah separuh, sehingga dia berhati2 saat menyusu. Alhasil saya malah justru merasa geli karena hisapannya tidak sekuat biasanya. Saya bilang ke Axel kalau saya geli. Dia terlihat sedih ketika saya minta dia menghentikan menyusu.

Akhirnya pada suatu malam ketika saya sudah tidak bisa menahan gelinya lagi, dia menangis. Saya ajak dia bicara baik2 seperti anak besar (ya..karena selama ini saya selalu menganggap dia baby terus, dan dia pun menikmati dianggap bayi, sehingga seringkali dia berperilaku seperti bayi). Well, don't judge me, you'd do the same thing if you ever watched your son undergone an open heart surgery.

Sambil memeluk Axel, saya tanya ke dia.

Me: "dedek kenapa nangis? Dedek merasa sedih kalau berhenti nyusu?"
Ax: tetap nangis aja...sambil mengangguk..
Me: "Kenapa sedih dek?" saya masih mencoba menggali perasaannya, dan mencoba memancing dia menjelaskan perasaannya, karena saya tahu dia belum terlalu paham mengenai istilah dari perasaan2nya. "Adek sedih kalau nggak nyusu lagi karena takut mama nggak sayang lagi"
*Oh ya, ini karena di sehari-harinya dia sering bilang begini. Kalau saya omelin karena mainan berantakan, dia akan nangis dan minta peluk sambil bilang "dedek sayang mama", "dedek takut mama marah", "dedek minta peluk mama", dsb.
Ax: dia mengangguk
Me: "Dek, diinget ya, mama itu akan teruuus sayang sama dedek dan kakak. Sampai kapanpun, sampe dedek punya anak nanti, mama terus sayang. Sama kakak juga sayang. Kakak juga sudah nggak nyok-nyok (bahasa Axel untuk bilang nenen), tapi mama tetap sayang sama kakak kan? Jadi dedek nggak perlu sedih lagi. Dedek nggak perlu nyok-nyok lagi, soalnya dedek sudah besar. Nyok-nyok itu makanannya bayi"



Bagaimana peran suami selama proses menyapih?
Sebenarnya suami saya sudah menyarankan disapih sejak usia menjelang 3 tahun, tapi karena waktu itu mau pindah Australia, saya menjelaskan risikonya. Di sisi lain pun suami sebenarnya belum konsisten meminta menyapih. Ada kalanya dia masih menyuruh Axel untuk menyusu agar bisa tenang. Sejak pindah ke Australia, suami mulai bisa melihat sendiri keseharian Axel, yang akhirnya membuat dia nggak tega untuk menyuruh2 disapih. Jadinya pak suami lebih netral saja, menunggu kesiapan Axel.

Bagaimana dengan Ayra?
She's been such a good big sister. Dia beberapa kali berusaha kasih alternatif solusi, misalnya nyuruh adiknya minum susu sapi aja (kami selalu sedia fresh milk di kulkas) dan bawa susu di gelas untuk ditaruh di kamar kalau2 adiknya haus.
Dia masih belum terlalu paham mengenai adiknya yang sebenarnya hanya membutuhkan kenyamanan dari kegiatan menyusu.



Anyway, saya sangat bangga sekali bisa mendampingi Axel mencapai salah satu milestone-nya, membuat keputusannya sendiri untuk berhenti menyusu.
He's made his first big decision for his life!
Alhamdulillaaah...


 

Andin Talks Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review