Benar-benar tidak terasa, sudah satu tahun saya dan keluarga meninggalkan Surabaya, untuk tinggal dan hidup di Canberra. Saya juga sudah melewati milestone tahun pertama PhD yaitu Thesis Proposal Review.

Kali ini saya mau refleksi tentang kehidupan kami setelah satu tahun di Canberra.

Kehidupan Keluarga
Alhamdulillah sejak awal anak-anak tidak mengalami kesulitan berarti untuk beradaptasi di sini. Ini benar-benar bukti nyata bahwa anak-anak ini masih sangat mudah dibentuk oleh lingkungannya. Saat postingan ini dibuat, Ayra sudah masuk Year 1 dan Axel mulai Preschool. Preschool hanya masuk 2-3 hari per minggu jam 9-15.

Justru saya merasa adaptasi paling sulit adalah dari suami. Saya paham karena impian tinggal di luar negeri adalah mimpi saya. Meski seiring waktu dia merasa manfaatnya tinggal di Australia.
Kesepakatan saya dan suami bahwa suami akan rutin pulang ke Indonesia setiap 2 bulan sekali. 

Kehidupan Perkuliahan
Saya menjadi satu-satunya orang Indonesia dan yang menggunakan jilbab di school saya. Saat ini sudah ada beberapa teman dekat dari India, Thailand, Filipina, Sydney dan Canberra. Mereka beragama Hindu, Budha, Kristen dan atheis. Sangat berwarna dan memberikan pengalaman berharga untuk saya.
Alhamdulillah supervisor saya pun sangat baik.
Primary supervisor, Jane Desborough, sangat perhatian sejak saya pertama datang di Canberra.
Supervisor kedua saya, Julie Smith, orang yang sangat expert dalam bidang laktasi. Dia sangat sibuk, tapi sering mengajak saya untuk datang dalam kegiatan2 terkait laktasi.
Supervisor ketiga saya, Siobhan Bourke, yang baru datang dari Irlandia bulan Januari 2019, masih sangat muda sehingga sangat enak untuk diajak berdiskusi.


Mereka semua sangat suportif. Bahkan saat saya mempersiapkan Thesis Proposal Review (TPR).
TPR ini adalah seminar terbuka untuk menjelaskan proposal thesis. Siapapun yang tertarik dengan topiknya boleh datang.







Kehidupan Personal
Dari saya pribadi, saya merasakan saya mendapat pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga.
Tiga bulan pertama di sini sering saya merasa insecure, meski ada suami. Anak-anak menjadi penguat saya. Sampai bulan ke enam, saya benar-benar struggle dari segala aspek, sehingga saya benar-benar stres. Yang saya lakukan setiap hari hanya bertahan hidup. Melakukan tugas yang memang harus dikerjakan.
Tidak ada waktu untuk olahraga, meditasi, dan semacamnya. Intinya tidak ada usaha untuk merawat kesehatan diri. Puncaknya saat saya mau TPR, level stres semakin meningkat.
Singkat cerita, TPR dapat dilalui dengan hasil memuaskan Alhamdulillah. Sempat beristirahat sejenak, sekarang Allah memberikan tantangan baru lagi. Dokter menemukan mioma di uterus saya. Detil cerita akan saya tulis di postingan terpisah, insyaAllah.