Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menjalani operasi di Australia.
Saya selalu punya passion di bidang perumahsakitan, tapi tidak pernah sekalipun saya terpikir akan menjalani operasi di Australia.
Sejak tiba di Canberra, saya sudah semangat mempelajari sistem kesehatannya memang, bahkan saya berkesempatan untuk hospital tour dengan salah satu lactation consultant yang juga kepala NICU di Canberra Hospital.

Singkat cerita, semua berawal bulan April. Selesai TPR di akhir Maret, saya merasa perlu istirahat dari semua stres. Saat itulah saya mulai aware dengan tubuh saya. Jumlah darah yang keluar saat mens sudah tidak seperti biasanya, tidak normal. Sebelum2nya saya hanya merasa ini karena saya pasang IUD sebulan sebelum saya pindah ke Canberra (Februari 2018). Tapi ini sudah terlalu lama. Saya merasa ini tidak normal. Hingga saya juga dapat meraba ada benjolan di bagian perut bawah. Ketika saya bilang suami, dia juga menyarankan untuk periksa saja.

Tidak punya pikiran negatif, saya bikin appointment dengan seseorang di klinik ANU. Jadwal yang didapatkan 1-2minggu kemudian. Waktu itu saya belum paham jika Nurse Practitioner (NP) tidak dapat membuat referral/rujukan. 
Saat bertemu dengan NP, saya ceritakan semuanya. Dia membuatkan surat permintaan pemeriksaan darah di lab. Dia curiga saya anemia. Tapi dia juga minta saya bikin janji dengan General Practitioner/GP (tenaga medis yang bisa melakukan referral). 

Waktu itu saya hanya melaksanakan satu saja yaitu periksa darah. Hasil lab langsung dikirim ke NP pengirim, sehingga saya harus bikin janji ke NP lagi. Proses ini memakan waktu 2-3minggu. Hasil lab sebenarnya cuma 1 hari, periksa lab juga tidak perlu daftar dulu. Cuma biasanya saya kesulitan mengatur dengan jadwal lainnya.
Alurnya sama seperti periksa lab di Indo; datang dan ambil nomer antrian.
Bedanya cuma kita tidak bisa minta hasilnya dikirim ke kita juga, hanya bisa dikirim ke tenaga medis pengirim (dalam kasus saya: GP di klinik ANU).

Setelah hasil lab keluar, pihak klinik ANU akan menghubungi saya (jika saya belum bikin appointment lebih dulu).
Hasilnya bisa diduga, Hb saya rendah, sekitar 7-8, sedangkan angka normal 12-13. 
Bagi orang Indo angka segitu mungkin biasa saja ya, tapi buat orang sini, angka 7-8 itu sudah mengkhawatirkan dan saya diminta untuk melakukan injeksi zat besi.

NP memberikan resep injeksi zat besi untuk dibeli di pharmacy. Saya membeli 2 ampul zat besi dengan harga AUD 380an. (Beberapa minggu kemudian saya baru tahu bahwa insurance provider saya hanya mengganti AUD 80an).

Oh ya semua biaya pemeriksaan di klinik ANU sudah tercover dalam Overseas Student Health Coverage (OSHC), sehingga kita tidak perlu membayar dulu dan reimburse. Semua gratis, hanya perlu menunjukkan kartu OSHC saja di awal.

Singkat cerita, saya perlu membuat appointment lagi dengan NP untuk melakukan injeksi iron tersebut. Plus juga appointment dengan GP. Jadwal didapatkan 2 minggu kemudian. Waktu itu adik saya mau menikah, sehingga saya juga berencana pulang ke Surabaya, sekaligus mencari second opinion.

Setelah dilakukan iron injection dengan NP, dia minta saya untuk cek Hb lagi 4 minggu kemudian.
Jadwal bertemu dengan GP tiba, saya menceritakan semua keluhan, gejala dan tindakan yang sudah dilakukan.
GP merasa saya perlu segera dirujuk ke Spesialis Obgyn, sehingga dia memberikan surat rujukan Obgyn dan surat rujukan untuk pemeriksaan USG.
Saat itu saya masih bingung dengan semua sistem yankes di Canberra. Rupanya pemeriksaan penunjang (baca: USG) tidak dilakukan oleh Obgyn. Saat tulisan ini dibuat, saya masih belum tahu siapa yang melakukan pemeriksaan USG untuk kehamilan.
Jadi saya membuat phone-call ke dua pihak yang berbeda. Telpon untuk jadwal USG (dapat keesokan harinya) dan telpon untuk appointment dengan Obgyn (dapat 3-4 hari kemudian).


Hasil USG dikirim langsung ke GP dan Obgyn. Kita sebagai pasien tidak bisa minta, kecuali minta ke GP-nya. Saat bertemu dengan obgyn beberapa hari kemudian, dilakukan pemeriksaan fisik dan vaginal, sekaligus paptest dan malignansi dari tumornya. Hasil paptest juga demikian, dikirim ke GP.
Alur bertemu GP juga sama, saya harus bikin appointment. Hasil dari pemeriksaan USG menunjukkan bahwa ada fibroid uterus dengan diameter 8.9cm. Hasil paptest bagus, tidak ada keganasan.

Untuk pemeriksaan radiologi dan spesialis obgyn, menggunakan sistem reimburse. Jadi kita perlu membayar sendiri dulu, kemudian reimburse ke insurance provider.
Untuk kasus saya, saya menggunakan Allianz, akan tertulis dalam polisnya berapa persen yang akan tercover. Untuk kasus saya, patokannya menggunakan Medicare Benefit Schedule (MBS). Daftar lengkap bisa dilihat di sini. Sehingga mau tidak mau, saya belajar juga tentang MBS ini.

Yang menarik, ternyata dokter spesialis bisa menetapkan tarif di atas MBS. Sehingga meskipun pihak asuransi mengcover 100% MBS, tapi jika dokter spesialis menetapkan tarif di atas MBS, maka kita harus membayar selisih tersebut. Ini juga saya pelajari karena saya mengalami kasus operasi di sini.
Lebih lengkapnya bisa dilbaca di sini.

Saya sedih, jelas. Stres, pasti. Bertanya2, kenapa saya mengalami ini lagi, dsb. Tapi semua kejadian ini justru membuat saya refleksi. Apa yang salah dari setahun belakang?
Saya mengakui tingkat stres saya, terutama pasca pindah Canberra, sangat tinggi. Tidak hanya capek fisik (karena semua dikerjakan sendiri), tapi juga mental. Ini membawa saya mempelajari tentang kesehatan mental, anxiety, mindfulness dan membuat saya mendaftar pada program online yoga teacher training (that's another story for another time).

Lanjut lagi, sekitar seminggu bersedih, kemudian saya mulai menata hidup lagi.
Saat pulang ke Surabaya untuk acara pernikahan adik saya, saya juga menyempatkan diri periksa ke obgyn. Singkat cerita, tindakan yang disarankan memang operasi, mengingat ukurannya yang sudah terlanjur besar. Namun beliau bilang tidak ada urgensi, karena alhamdulillah tidak ada keganasan. Dan dari saya pribadi pun tidak ada keluhan yang mengganggu (yang rupanya salah, karena setelah itu volume mens saya semakin bertambah, sehingga menimbulkan gangguan dalam kegiatan sehari-hari).


to be continued...